Oops! Această imagine nu respectă Ghidul de Conținut. Pentru a continua publicarea, te rugăm să înlături imaginea sau să încarci o altă imagine.
Percakapan belasan tahun lalu, yang kala itu cuma dibalas pukulan dari tangan mungil Aileen ke pundak Cio—atau bahkan berakhir dengan tangisan Aileen yang akan ditenangkan oleh bunda dan memarahi Cio untuk tidak melakukan hal itu lagi ke sahabatnya.
Kalau Cio mengulangnya saat ini, mungkin yang ia dapat bukan cuma pukulan kecil—tapi sebuah jitakan keras yang akan tepat mendarat di kepalanya. Dan tentu saja, keluh Cio yang seratus persen akan protes bagaimana kuatnya tenaga Aileen yang berbanding terbalik dengan tubuhnya yang kecil.
Kata Cio, berat badan Aileen sama sepeda itu lebih berat sepeda mini warna pink yang dulu selalu Aileen pakai ke sekolah.
Ia tersenyum menatap perempuan berambut sebahu yang ada di depannya.
Rambutnya yang hitam lurus tidak pernah ia biarkan tumbuh panjang. Terakhir Aileen memiliki rambut panjang hampir sampai pinggang itu sewaktu masih duduk di bangku SD. Dan itu pun jarang dibiarkan terurai.
Lalu, alis matanya yang sudah terbentuk dan tebal dari lahir selalu menjadi salah satu kebanggannya. Karena, ia tidak perlu repot-repot menggambar alis buatan di depan kaca selama berjam-jam.
Kalau ke kampus pun, ia tidak pernah menghabiskan waktu yang lama di depan meja rias.
Seperlunya aja yang penting ngga pucet-pucet amat,
katanya.
"Lin" panggil Cio.
"Hmm?" jawab Aileen singkat. Matanya masih fokus tertuju ke sebuah laptop didepannya.
"Lin ngapain sih?"
"Main Tetris! Bikin naskah lah"
Cio mendengus sebal.
Galak banget.
"Alien" panggil Cio lagi.
"APA?!" kali ini yang dipanggil langsung menatap kesal ke arah laki-laki dihadapannya itu. "Panggil kaya gitu sekali lagi ini gelas langsung kena kepala ya, ini serius ngga bercanda!"
Cio tertawa keras sampai memegang perutnya yang hampir keram. Lawan bicaranya cuma bisa menatapnya kesal.
"Diem Aileen, nanti diliatin orang tuh"
"Ya abisnya..." gerutu Aileen. "Kenapa sih, Cio? Ngga ngerti materinya? Yang di bab mana sini coba aku liat."
"Bukan. Aku tiba-tiba keinget aja."
Aileen mengerutkan alis, "Keinget apa?"
"Masih inget ngga waktu bunda bawa kamu pertama kali kerumah?" tanya Cio.
Ingatannya kembali menerawang kesebuah lorong masa lalu. Ingatan tentang dirinya—dan juga tentang Aileen.
–––––
Hai hai!
Sebenernya ini udah kesimpen di draft dari LAMA BANGET, dan yay aku baru berani publish sekarang hehe akhirnya!
One of main cast di cerita ini adalah salah satu penghuni kosan PondokWayV. Kalau mau kenalam sama penghuni lainnya bisa banget baca di book QUERENCIA | PondokWayV.
Kalau kalian ngga baca QUERENCIA | PondokWayV juga sebenernya bisa nyambung aja sih langsung loncat kesini, karena kurang lebihnya cerita ini terpisah—atau yap, lebih banyak kehidupan Elecio diluar kosan.
Dan ngga lupa aku ngucapin terimakasih banyak banyak buat yang udah mau baca semua works abal-abal aku hehe laf!