Jantung

6 1 1
                                        

Jakarta, ibu kota Negara Indonesia katanya. Tetapi lingkunganku jauh dari keriuhan dan gemerlap ibu kota. Ibu kota yang identik dengan gedung-gedung pencakar langitnya, tak pernah kulihat ada di sekitarku.
Menatap ke atas, ke langit yang luas hanya terlihat birunya langit di siang hari tanpa adanya awan, dan hitamnya langit malam tanpa adanya bintang.

Entah apakah hanya diriku yang tak bahagia hidup di sini, karena yang lain tampak sangat mudah sekali untuk tersenyum. Apakah mereka tak sadar bahwa bumi ini telah hancur, dan penghuninya pun semakin banyak berkurang.

Lagi, penemuan jasad dengan lubang di dadanya. Jasad itu adalah seorang wanita yang mengobrol dengan kakakku semalam di teras rumah. Jasad itu ditemukan tak jauh dari rumah kami, tepatnya di bawah pohon beringin di ujung jalan.

“Sudah kubilang untuk menetap untuk semalam saja, tetapi dia tak mendengarku dan berakhir seperti ini karena pulang terlalu larut” Kata Kak Rumanof dengan sedikit menyesal.

Bukan baru-baru ini kejadian itu berlangsung, tetapi sudah sering. Penemuan mayat dengan lubang di dadanya namun bersih tanpa ada bercak darah di sekujur tubuhnya. Seminggu yang lalu, jasad paman dari Hezkiel, teman kecilku. Dia di temukan terduduk di sofa ruang tamunya dengan dada yang berlubang.

Hezkiel yang menemukannya, sampai saat ini dia masih belum bisa keluar rumah setelah melihat jasad pamannya itu. Terakhir kami berbincang, semalam sebelum pamannya meninggal. Aku mengatakan bahwa telah melihat pamannya mampir ke rumah janda kembang di kampung kami. Hezkiel Nampak kesal karena itu, ia tak rela satu-satunya keluarga yang ia miliki dipandang tak baik oleh orang lain.
Hezkiel memakiku dengan wajah merah menyala seperti kesetanan. Makin lama, makin gusar ku mendengar makiannya. Ku potong makiannya itu.

“Tak ada manusia yang sempurna, semuanya memiliki kesalahan. Bersumpahlah atas jantung pamanmu jika kau yakin pamanmu itu orang yang suci”

Dia pun meng-iya-kan sumpah yang kutawarkan. Nasib sungguh nasib, ternyata pamannya bukanlah orang suci seperti yang ia kira.

Kini ia masih trauma, duduk terdiam di halaman rumah dengan tatapan yang kosong. Diajak berbicarapun tak dijawab olehnya. Aparat penegak hukum telah menyerah bertanya kepadanya dan menutup kasus pembunuhan terhadap pamannya itu.

Warga kampung merasa kampung ini telah dikutuk, banyak orang yang telah mati tak wajar di kampung ini.

Aparat hukum berasumsi bahwa setiap mayat yang ditemukan merupakan korban pembunuhan, karena setiap mayat memiliki tanda kematian yang sama, yaitu jantungnya yang telah tiada. Pihak kepolisian telah mencoba untuk menyelidiki kasus ini, namun mengalami kebuntuan. Setiap kerabat korban selalu berakhir seperti Hezkiel, tak pernah bisa dimintai keterangan. Tubuh korbanpun telah diautopsi secara detail namun tidak menemukan sidik jari terduga pelaku pada tubuh korban.

Kepolisian belum bisa menemukan pembunuh berantai yang berkeliaran di kampung ini. Namun warga kampung tak merasa gusar. Mereka menganggap itu merupakan kutukan, dan kutukan itu tak akan berlaku kepada mereka jika memberi persembahan kepada iblis pembunuh di tempat para mayat ditemukan.

Sejauh ini telah ditemukan tujuh mayat di tujuh tempat yang berbeda. Setiap minggunya warga mengatur jadwal untuk menaruh seserahan disetiap tempat itu.

Setiap korban yang telah meninggal juga memiliki ciri yang sama, yaitu hanya memiliki keluarga dekat yang sedikit dan setiap keluarga dekat para korban telah berubah menjadi orang gila yang memiliki tatapan kosong dan tak bisa mengatakan apapun.

Tetapi berbeda dengan teman wanita kakakku yang terakhir ini. Ia memang tak memiliki keluarga, ia hanya dekat dengan kakakku. Namun kakakku tak berubah menjadi orang gila lainnya. Kakakku hanya merasa sedih dan bersalah, membiarkan wanita yang mulai ia sayangi itu pergi begitu saja.
Rasa penasaran menghantuiku untuk mengetahui bagaimana semua ini terjadi. Kutelaah kisah dari semua korban yang telah ditemukan.
Semuanya adalah orang-orang disekitarku. Kerabat mereka yang terdiam membisu adalah teman-temanku.
Lalu..
Sumpah?
Mereka yang terdiam telah bersumpah, atas nama jantung orang yang mereka sayangi.

Aku pembunuh?

Apakah aku yang membuat mereka semua terbunuh?

Mereka bersumpah padaku. Tetapi tidak dengan kakakku. Ia juga bersumpah padaku bahwa wanita yang dekat dengannya itu adalah wanita baik, tetapi teman dekatnya itu malah ditemukan tanpa jantung dan kakakku tak berubah menjadi orang gila.

JantungWhere stories live. Discover now