Tidakkah Kau Terlalu Baik?

6 1 2
                                        


Beberapa jam yang lalu, aku masih mengira jika orang yang saat ini duduk di sampingku membenciku. Ialah Bu Astrid, guru Bahasa Indonesiaku. Selain mengira jika ia membenciku, selama ini aku pun juga tidak pernah menyukainya―terlebih dia selalu galak kepadaku. Hingga entah mengapa, saat ini sikapnya itu berubah 180 derajat, seolah-olah dirinya barusaja kerasukan jin penunggu lampu taman.
Omong-omong, namaku Arya, kelas 3 SD. Sebagian dari kalian―para remaja ataupun orang dewasa―mungkin saja berkata, ha ha ha masih bau kencur. Sebagian yang lainnya barangkali berfikir, aku rindu masa kecilku. Tapi, aku yakin 100 persen bahwa jika saat ini kalian sudah dewasa, dulunya kalian pasti pernah mengalami yang namanya masa kecil. Iya kan?
( Hei, kenapa malah nyasar sampai situ? )
Jadi, kisahku ini bermula saat aku mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Bu Astrid memasuki kelas. Lalu suasana yang semula ramai pun berubah sepi.
“Ketua kelas. Pimpin do’a,” kata Bu Astrid.
Dengan tangan terlipat di atas meja, ketua kelas berkata. “Sikap sempurna,” ia diam sejenak. “Berdo’a mulai.”
Segera saja, seisi kelas dipenuhi gema do’a sebelum belajar. Lalu setelah do’a tersebut selesai kami baca, Bu Astrid membuka pelajaran hari ini dengan salam dan mulai menerangkan soal pelajaran Bahasa Indonesia.
Bu Astrid adalah muslimah yang selalu mengenakan busana longgar dan kerudung lebar. Ia memiliki postur yang lumayan tinggi, kulit bewarna kuning langsat, serta wajah bulat. Menurutku, ia bakalan terlihat cantik jika saja wajahnya tidak menyiratkan kesan galak.
Aku tidak bisa menangkap penjelasan Bu Astrid karena pikiranku mendadak disergap imajinasi-imajinasi liar. Mulai dari  kepik yang memiliki antena panjang serta tiga buah ekor besisik di bagian belakang tubuhnya. Naga berperawakan kuda. Ular berbulu tebal yang memiliki empat buah kaki layaknya seekor kadal. Hingga tanaman singkong versi monster yang memiliki kepala dengan wajah memelas, sedangkan daun-daunnya menjelma menjadi banyak tangan ( Khayalan macam apa itu? ). Entahlah.
Kalau sudah begini, tanganku refleks menyambar pensil dan setip, lalu mulai menggambar.
Kau tahu seperti apa gambaran anak SD? ( Masih belepotan kan ). Yak, benar sekali. Kuberi nilai seratus buatmu―tapi dipotong pajak 10 persen. ( Hei, itu tidak adil ). Singkat kata, seperti itulah gambaranku saat masih SD. Meski aku digadang-gadang paling jago menggambar, nyatanya gambaranku akan kelihatan sangat jelek jika dibandingkan gambaran seniman yang lebih dewasa.
Jadi, setelah menggambar selama... waduh, aku tidak lihat jam, tapi kuasumsikan saja sudah semenit. Suara Bu Astrid lantas mengagetkanku.
“Arya!”
“E buset badut Ancol.”
Di depan sana, Bu Astrid berkacak pinggang. “Perhatikan atau ibu jemur di depan kelas.”
“Yaelah, Bu. Galak amat kaya orang abis makan rujak biawak,” aku sengaja tidak mengeraskan suaraku. Teman-teman yang duduk di sekitarku menahan tawa.
“Kamu bilang apa?” Bu Astrid bertanya dengan nada galak.
“Nggak. Nggak pa-pa kok, Bu. Cuman, katanya kalo orang gampang marah itu cepet tua. Bener nggak sih?”
Ia mengabaikan pertanyaanku. “Oke, lanjut.”
Bu Astrid kembali menerangkan pelajaran. Namun, karna aku tidak tertarik untuk memperhatikan, aku lantas menumpukan wajahku ke telapak tangan dan mulai berkhayal.   
Tetapi tindakan itu nampaknya tidak menyelamatkanku. Sebaliknya, Bu Astrid justru semakin gencar mengagetkanku dengan cara memukulkan penggaris kayunya ke mejaku. Sehingga, ketika bel tanda bergantinya pelajaran akhirnya berbunyi, aku pun merasa senang bukan kepalang―seperti sebuah negara yang barusaja merdeka.
Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran olahraga. Aku tidak merasa keberatan dengan pelajaran itu karna, harus kuakui, pelajaran itu memang menyenangkan. Selain itu, Pak Tejo selaku guru yang mengajar pelajaran itu pun selalu memberikan permainan-permainan olahraga nan seru. Mulai dari bola tangan, kasti, voli, bulutangkis, hingga permainan-permainan tradisional yang sudah sangat jarang dimainkan oleh anak-anak zaman sekarang.
Pak Tejo memiliki wajah yang terkesan ramah. Kulitnya bewarna kecoklatan karena sering terpanggang sinar mentari. Posturnya tinggi dan berisi. Sedangkan rambut hitam lurusnya selalu dipangkas model cepak.
Sebelum mengikuti pelajaran olahraga, kami terlebih dahulu mengganti seragam kami dengan pakaian olahraga. Setelah berganti pakaian olahraga, barulah kami pergi menuju lapangan yang terletak di kompleks sekolah kami. Di sana, aku melepas sepatuku yang memang hanya dikhususkan untuk sekolah, lalu meletakkanya di bawah pohon mangga yang tumbuh di pinggir lapangan. 
Kami melakukan pemanasan sebelum olahraga. Kali ini, kami bermain sepakbola. Permainan yang pasaran memang. Tapi itu sekalipun tidak membuatku kecewa. Karna aku menyukai sepakbola seperti halnya aku suka menggambar. Diriku memang tidak lebih jago dari Iqbal maupun Aziz―teman sekelasku. Tapi justru itulah yang mendorongku untuk terus memperbaiki kualitas bermainku.
Peraturan di dalam sepakbola anak SD memang masih terkesan kabur. Offside tidak ada, kartu merah apalagi. Yang terpenting bagi kami adalah kesenangan dan mencetak gol sebanyak-banyaknya. Jika sudah begitu, waktu pun akan terasa cepat sekali berlalunya.
Usai mengikuti pelajaran olahraga, aku bersama dua orang sohibku yang bernama Iqbal dan Arkan pun beranjak menuju kantin untuk istirahat. Tapi, setelah beberapa meter meninggalkan lapangan, aku teringat jika sepatuku belum kubawa. Sehingga, aku lantas berbalik kembali ke lapangan untuk mengambilnya.
Sialnya bagiku, saat itu salah seorang temanku sedang iseng melempari mangga dengan batu―kami biasa menyebut kegiatan itu mbabit pelem. Namun, lemparannya itu meleset dan malah mengenai salah satu cabang pohon. Sehingga, karna aku berada di bawahnya, batu itu pun lantas jatuh menimpa kepalaku.
Aduh, Arya. Bagaimana rasanya?
Sakit. Sakit sekali. Makasih sudah bertanya.
Aku langsung berjongkok dan memegangi kepalaku. Namun, karna aku ini orangnya takut darah, yang membuatku menangis lebih cenderung darah yang membasahi tanganku ketimbang rasa sakit yang mendera kepalaku. 
Teman-temanku mengerumuniku. Sebagian dari mereka menyalahkan orang yang melempar batu sehingga jatuh menimpa kepalaku. Sedangkan sebagian yang lainnya bingung mengenai tindakan apa yang harus diambil. Hingga kemudian, Pak Tejo menembus kerumunan. “Astagfirullah. Siapa yang main lempar-lemparan batu?”
Beberapa murid menjawab. “Hanif, Pak.”
Lalu si Hanif yang sudah hampir menangis karna merasa tertekan itu menjawab. “Aku Cuma ikut-ikutan Yusuf kok, Pak.”
Kemudian Pak Tejo membopongku ke UKS. Ia memanggil Bu Astrid yang paling ahli dalam memberikan pertolongan pertama untuk menanganiku. Yang membuatku heran adalah, mau-maunya beliau menolongku setelah semua perlakuan buruk yang telah kulakukan? Jika aku berada di posisinya, aku bakalan membatin : ‘Rasain tuh! Kualat,’ dan menyuruh orang lain untuk melakukan apa yang diminta Pak Tejo.
Sekarang di sinilah aku. Duduk di samping Bu Astrid sembari menunggu jemputan ibuku. Tentunya dengan kepala sudah diperban.
“Kok, ibu mau nolong aku?” tanyaku pada akhirnya.
Beliau tersenyum. “Emang kamu nggak mau ditolong?”
“Bukan gitu. Tapi emang ibu nggak benci aku?”
Bu Astrid menyeringai. Binar di matanya menyiratkan kegelian. “Arya, Arya. Kalo ibu marahin kamu waktu pelajaran, itu karna ibu peduli sama kamu―bukan karena benci. Coba kalo ibu cuek, terus kamu nantinya jadi orang bodoh. Yang rugi siapa coba?  
“Ibu tau kalau kamu jago menggambar. Tapi apa kamu yakin hanya dengan keahlianmu itu masa depanmu bisa terjamin? Ibu yakin tidak. Dunia ini luas―tidak seperti daun kelor. Pengetahuan dan ilmu sekecil apapun harus kamu ambil untuk kamu jadikan bekalmu di masa depan nanti. Ada sebuah kata mutiara yang mengatakan : ‘Barang siapa tidak mau merasakan pahitnya menuntut ilmu walau hanya sesaat, maka bersiaplah untuk merasakan pahitnya kebodohan seumur hidupnya.’”
Aku faham sekarang. Kita memang tidak boleh memandang seseorang hanya dalam satu perspektif saja. Karna di balik suatu hal, pasti ada banyak sekali kemungkinan. Aku bertanya tanya apakah jika pristiwa hari ini tidak terjadi, akankah aku tetap memandang Bu Astrid sebagai guru yang galak?―bukan seorang guru yang menginpirasi dan memotivasi diriku untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 18, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tidakkah Kau Terlalu BaikStories to obsess over. Discover now