Dia yang seperti 'Dia'

890 45 0
                                        


Ugh!

Kubuka mata dengan kekuatan penuh. Rasanya kelopak yang saling menempel ini tak mau dipisahkan. Begitu erat mengikat satu sama lain. Namun, suara berisik di bawah bantalku mau tak mau memaksaku untuk terbangun.

Tangan kumasukkan ke bawah bantal, meraba benda pipih yang sengaja kuletakan di sana. Kuintip layar ponsel yang berpendar terang. Ah, rupanya alarm. Kemudian mematikan suara berisik itu.

Sebelum beranjak dari tempat tidur, kurentangkan kedua tangan, menggeliat demi melenturkan tubuh yang terasa kaku. Sisa kemarin, membereskan kafe yang baru selesai direnovasi. Bunyi 'krek' terdengar ketika aku memutar pinggang.

Handuk yang tergantung di balik pintu menjadi tujuanku, membawanya serta masuk kamar mandi. Mengguyur badan dengan air hangat, sanggup menghilangkan kaku pada otot. Aku tidak pernah berlama-lama dalam kamar mandi. Cukup membasuh seluruh tubuh dengan sabun dan membersihkannya.

Sayup, azan subuh terdengar. Segera kupercepat gerakan memakai kaus yang dirangkap dengan baju koko putih demi menutupi lengan yang penuh coretan. Hasil karya liner dan shader, dua alat lukis dengan media kulit.

Yups, lenganku bertato. Bukan maksudku untuk terlihat seperti berandal. Awalnya tato ini hanya satu, berbentuk menara eiffel dengan tulisan 'Loves A Lie' yang terukir di sisi menara dan 'Yeah' di bagian bawah. Entahlah, apa kupikirkan saat itu hingga membuat tato seperti itu. Hanya saja, saat itu aku jatuh cinta pada seseorang dan aku tak mau gadis itu tahu. Jadilah, aku membuat tato itu untuk ungkapan rasa cintaku.

Sekarang, gadis itu sudah tidak ada. Bukan, bukan tidak ada yang seperti itu. Namun, gadis itu sudah menjadi milik pria lain. Jangan tertawakan kebodohanku, karena aku sudah kenyang menertawai diri sendiri.

"Ke mesjid dulu, Mbok. Assalamualaikum," pamitku pada Bi Darmiwanita separuh baya yang mengurusku sejak kecil.

"Iya iya, Den. Wa'alaikumsalam."

Dia, wanita yang teramat baik, sopan dan jujur. Apalagi pada Bianca--adik kecilku--Bi Darmi rela tidak tidur selama berhari-hari demi mengurusnya. Memanjakan Bianca layaknya anak sendiri.

Selesai salat, aku bergegas untuk ke kafe. Memang, kafe yang dirikan sejak enam tahun lalu baru buka pada pukul 10.00 pagi. Namun, aku selalu mengecek segalanya sendiri. Bahkan, untuk suplay bahan pun kulakukan sendiri. Bukan tidak percaya pada karyawan, tetapi aku hanya ingin hari yang kulalui tidak kuhabiskan dengan melamun.

"Sarapan dulu, Den!"

"Nggak usah, Mbok. Nanti aja, mau langsung ke kafe. Supplier buah hari ini datang." Bi Darmi mengangguk, lalu mendoakanku seperti biasa.

"Semoga usahanya lancar ya, Den. Kafenya rame hari ini. Jadi berkah buat, Aden." Aku mengamini doa Mbok Darmi. Selalu doa yang sama yang dia ucapkan setiap kali aku pamit ke kafe.

Aku tersenyum miris saat mataku tertumbu pada sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Di sana ada Bianca yang tersenyum manis meski dengan wajah pucat, aku dan sepasang orangtua yang berpura-pura bersikap romantis.

Bahkan, sikap Mbok Darmi lebih baik dari kalian, batinku dalam hati.

🎸🎸🎸🎸🎸

Sejenak aku berdiri di atas panggung mini yang terletak di sudut ruangan. Letak instrument yang ada di sini tidak ada yang berubah sedikit pun. Bahkan, kursi kosong yang selalu ‘dia’ tempati masih ada di posisinya semula.

Kuraih gitar akustik di sisi kursi, duduk di sana seolah merasakan kehadirannya.

A hundred days have made me older
Since the last time that I saw your pretty face.
A thousand lies have made me colder
And I don't think I can look at this the same.
All the miles that separate
Disappear now when I'm dreamin' of your face.

BROWNIES, Manis Semanis Cinta Kita (Completed)Stories to obsess over. Discover now