Sekitar tanggal 18 - Januari - 2019 aku mendatangi tempat dimana tak pernah terfikir olehku. Aku menuruti kata ibuku untuk menghubungi Wakil Rektor kampusku. Aku terancam cuti kuliah karena biaya yang tak berpihak padaku.
Tanggal 14 - Januari - 2019 aku menghubunginya. Sesuai permintaan Ibuku. Beliau memintaku untuk bertemu tanggal 18 - Januari - 2019. Hatiku bergetar, seluruh badanku gemetar.
Aku datang jam 08.00 Pagi. Aku menunggu beliau di depan ruangannya di lantai 3. Aku duduk di bawah AC namun tubuhku berkeringat. 1 Jam setelahnya aku hendak pergi. Namun aku berkata pada diriku "Ku mohon tetapkan! Bahwa aku harus menunggu. Ini semua perlu perjuangan."
Pada 2 jam setelahnya beliau selesai rapat. Memintaku untuk masuk. Aku mengatakan pada Beliau "Saya mohon bantuan bapak." Beliau lalu keluar memanggil Rektor kampusku. Beliau (Rektor) memintaku untuk menceritakan. Aku menceritakannya. Aku meledak. Air mataku tak dapat membohongi perasaan yang ku simpan. Aku merasakan sakit yang begitu dalam. Aku menahannya.
Beliau mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku berubah. Beliau memberiku sebuah harapan. Beliau berkata akan segera mengecek dataku dan merapatkannya. Aku benar-benar bersyukur saat itu. Tapi beliau masih menambahkan "Di tunggu.. mungkin tanggal 30 nanti orang tua mu akan ada uang" karena pembayaran semester akan berakhir di tanggal 01 - Februari - 2019. aku mengiyakannya dan aku tak tahu bahwa semuanya akan berbeda.
Mereka adalah teman sekelasku. Mereka yang memberiku semangat dan kepercayaan diri.
