1

4.1K 112 4
                                        

Debat di Studio Kampus

Pagi itu, studio desain di kampus mulai penuh oleh mahasiswa yang sibuk menyelesaikan tugas lintas jurusan. Di sebuah meja di tengah ruangan, bible, mahasiswa teknik sipil semester akhir, duduk berhadapan dengan jes, mahasiswa arsitektur yang tengah menggambar di tablet desainnya. Mereka sedang mengerjakan proyek bersama: merancang gedung bertingkat.

Bible mengetuk meja dengan pensilnya, menatap sketsa yang dibuat Jes. "Aku nggak yakin facade yang kamu buat ini realistis. Kolomnya terlalu kecil untuk beban yang seberat ini," katanya dengan nada serius.

Jes mengangkat alis, menghentikan pekerjaannya. "Bible, ini bukan soal realistis atau nggak. Desain itu harus menarik, punya estetika. Kalau cuma struktur yang kuat, ya gedungnya bakal kelihatan kayak bunker."

"Kalau estetika doang tapi nggak aman, itu sama aja bohong. Kamu tahu nggak, beban hidup dan beban mati di gedung ini udah aku hitung? Kalau kolomnya sekecil ini, bangunan ini nggak bakal tahan gempa!" balas Bible.

Jes mendengus kesal, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Bible, menatapnya dengan tatapan tajam. "Dengar ya, Bib, desainku ini bukan asal-asalan. Aku sudah memikirkan kenyamanan pengguna. Ruangannya jadi lebih luas tanpa kolom besar yang memakan tempat."

Tapi Bible malah salah fokus. Dia menatap mata Jes yang tajam dan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dia segera memalingkan wajah, mencoba mengalihkan perhatian. "Oke... tapi tetap aja, kalau struktur nggak kuat, semua itu percuma."

Jes mengerutkan kening, bingung melihat wajah bible yang tiba-tiba memerah. "Kamu kenapa? Kepanasan, ya?"

"Nggak kok!" jawab bible cepat, lalu pura-pura sibuk dengan kalkulasinya.

Jes menahan tawa kecil. Dia kembali ke sketsanya, tapi diam-diam, dia merasa senang melihat bible yang biasanya kaku dan tegas mulai menunjukkan sisi canggungnya.

Saat dosen pembimbing, khun pond, datang untuk mengecek pekerjaan mereka, beliau memberi saran, "jes, desainmu bagus, tapi pertimbangkan saran bible soal struktur. Dan, bible, jangan terlalu kaku. Bangunan harus punya keindahan juga."

Setelah dosen pergi, bible dan jes saling menatap. "Jadi, kita kompromi?" tanya bible, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Jes tersenyum tipis. "Iya. Aku bakal coba desain ulang facade-nya, tapi kamu juga harus bantu bikin perhitungan struktur yang nggak terlalu ekstrem."

"Deal," jawab bible sambil tersenyum. "Tapi... aku boleh minta satu hal lagi?"

"Apa?" tanya jes, curiga.

"Jangan dekat-dekat lagi kayak tadi. Bahaya," gumam bible, wajahnya memerah.

Jes tertawa kecil, tapi dalam hatinya, dia juga merasa ada sesuatu yang berbeda dalam interaksi mereka hari itu. Mungkin, proyek ini bukan hanya tentang membangun gedung-tapi juga membangun sesuatu yang baru di antara mereka.

Jesbible AuStories to obsess over. Discover now