Hujan mengguyur kota sejak dini hari tadi. Hingga kini, tetesan air hujan masih membasahi jalanan. Namun hal itu tidak mematahkan semangat seorang pemuda yang sedang berjalan menyusuri jalanan yang masih basah. Di bahu kanannya tergantung kamera yang akan menemaninya hari ini. Kakinya menyusuri jalanan yang masih basah itu sambil sesekali melompat menghindari genangan air. Langkahnya terhenti di depan bangunan tua bergaya Eropa. Lonceng kecil yang tergantung diatas pintu berbunyi ketika dirinya masuk ke dalam bangunan itu. Suasana yang sunyi menyambutnya. Hanya ada penjaga di dekat pintu yang menyapanya dengan senyuman. Kakinya menuntun dirinya menyusuri deretan buku yang tersusun rapi di setiap rak. Netranya menelusuri setiap judul yang tertulis di setiap buku dan berhenti, dilanjutkan dengan tangannya yang sigap mengambil buku yang Ia dicari dari raknya. Sebuah bangku dekat dengan jendela yang menampilkan suasana diluar gedung menjadi tempat favoritnya.
"Tumben melihatmu ada diluar pada akhir pekan seperti ini." Suara itu berhasil mengalihkan perhatiannya dari buku yang Ia baca. Pemuda itu tersenyum.
"Hanya ingin mengenal kota ini lebih dekat saja." Ia meletakkan buku yang dibacanya di atas meja.
"Kerjaan mu sudah beres? Tapi kalau dilihat dari keadaan mu sekarang, nampaknya sedang kacau."
Pemuda itu terkekeh, "Kamu sangat mengenalku, Van. Ada sedikit kendala yang harus diurus agar dia menandatangani suratku. Dia mengajak ku bermain TTS." Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku nya.
"Ia mengirimkan pesan melalu email kepadaku tadi pagi dan itu pesan darinya."
Evan membuka kertas yang terlipat tersebut. Di dalamnya berisi huruf dan angka yang satupun tidak Ia mengerti.
'E2 22S 1926918 nefalhcs el male241213, See u ba. Catch it! '
'Di kota mode itu Negeri Hitler mengakhiri semuanya dan itu menjadi batas terakhirmu'
"Hah? Apa kau serius dia mengirim ini padamu? Bagaimana kau akan menyelesaikannya?"
"Iya. Emailnya sampai jam 3 pagi tadi. Haah, entahlah. Hal ini membuatku stres." Pemuda itu mendesah panjang sembari memejamkan matanya.
"Kau sudah pernah bertemu dengannya?"
"Belum. Orang ini membuat dirinya agar terkesan misterius. Bahkan belakangan ini aku hanya bisa berkomunikasi dengan sekretarisnya." Pemuda itu mengeluh.
"Mau kubantu memecahkan kode ini? Otakku cukup hebat dalam hal seperti ini."
"Tidak usah. Aku sudah tahu bagaimana hasilnya jika kau membantuku. Aku tak mau kejadian dua tahun lalu terulang lagi." tolak pemuda itu.
"Hei, untuk kejadian dua tahun lalu aku mengakuinya itu adalah kecerobohanku. Tapi, kali ini aku bisa membantu mu. Lihat! 'kota mode' ini menunjukkan Perancis." Kata Evan menjelaskan.
Pemuda itu tertegun. Mulai tertarik. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Oh, man. Itu julukan umum untuk negara Perancis. Bagaimana kau bisa tidak tahu? Pantas saja kau tidak bertemu dengan jodohmu sampai sekarang."
Pemuda itu memukul kepala Evan dengan buku yang Ia baca tadi. "Aw, that's hurt!" Evan mendelik setelah mendapat pukulan di kepala.
"Omongan mu tidak ada hubungannya. Lanjutkan!" perintahnya.
Evan hanya mencibir. "Lalu 'negeri Hitler' jika aku tak salah itu menunjukkan Jerman. Jadi informasi yang sudah jelas yaitu Perancis, Jerman, dan Kuba."
Pemuda itu menatap Evan bingung. "Kenapa bisa Kuba?"
"'See u ba' jika disingkat akan menjadi 'C u ba' Cuba. Ternyata orang itu menggunakan cara kampungan ini juga. Apakah dia menyuruhmu mengunjungi ketiga negara ini?"
"Aku tak tahu. Tapi setidaknya aku telah mengetahui sepertiga dari pesannya."
"Kapan dia ingin bertemu denganmu lagi?"
"Entahlah. Aku tak bisa menghubunginya lewat telepon. Sekretarisnya bilang aku bisa bertemu dengannya setelah aku menyelesaikan pesan yang dia kirim."
"Firasatku dia juga menyelipkan waktu di pesan ini. Kalimat 'Di kota mode itu Negeri Hitler mengakhiri semuanya dan itu menjadi batas terakhirmu' kurasa menjadi penanda waktu yang ia berikan. Tapi dimana dia ingin bertemu dengan mu? Kalimat ini mengandung dua tempat. Di Perancis atau di Jerman."
"Oh dan.. 'Catch it'. Apa yang dia inginkan untuk kau tangkap? Nyamuk Jerman? Hahaa" Evan tertawa. Lalu,
"Aw, man. Sakit! Jangan memukul kepala ku, bajingan!" mengerang sambil mengelus kepalanya.
Pemuda itu memutar bola matanya tanda tak peduli. Ia lalu beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana?" tanya Evan.
"Mencari udara segar. Aku bosan satu ruangan denganmu." Pemuda itu mulai berjalan menjauh.
Evan menoleh, "Hei! Setidaknya traktir aku sarapan atas bantuan yang ku berikan."
Beberapa orang yang berada disana menatapnya dengan tatapan seolah menyuruhnya jangan berisik. Evan hanya meringis dan meminta maaf beberapa kali.
"Aku miskin." Jawab pemuda itu.
Evan mencebik setelah mendengar jawaban pemuda itu. "Wajahnya saja yang tampan tapi hatinya iblis. Bagaimana bisa dia membiarkan perut ku yang malang ini tidak mendapatkan asupan makanan?" gerutunya.
"Evan, kau tidak boleh menjadi sepertinya. Dia tampan tapi kau lebih tampan. Kau tidak boleh berhati iblis seperti dia." Ucap Evan pada dirinya sendiri.
Sebuah buku tebal kembali mendarat di kepalanya. "Aw!" jeritnya.
"Masih mau sarapan gratis tidak?" Wajah Evan yang semula nya kesal sekarang tersenyum senang seperti mendapatkan lotre.
Ia bangkit dari kursinya lalu merangkul pemuda itu, "Kau memang yang terbaik, Nan."
Keduanya berjalan menjauh menyusuri jalanan kota di pagi hari itu.
ESTÁS LEYENDO
The Florist and The Photographer
RomanceIni sebuah cerita dari dimensi waktu yang berbeda tentang seorang florist dan seorang fotographer.
