Hidup terlalu berat tuk sekedar dihadapi hanya dengan bersantai-santai atau sekedar larut dalam sebuah romantika semu. Dua belas bulan untuk tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, rasanya amat sia-sia jika hanya untuk mengejar kepuasan hedonis. Bekerja dan bekerja adalah sikap yang amat sangat tepat untuk mengisi hari-hari.
"Hai Kyar sudah makan siang?" Gadis itu membuka kotak bekal yang dibawa lalu menatanya di meja.
"Seratus delapan puluh tujuh kali"
"Eoh?" Gadis itu tersentak menatapku dengan raut wajah meminta penjelasan
"Kehadiranmu. Kurasa kau sudah harus berhenti berkunjung ke kantorku setiap makan siang-bukan-tepatnya setiap pukul 12 lewat Lima belas menit di hari senin sampai kamismu. Berhentilah" ucapku padanya, gadis pilihan kakek.
"Haruskah kamu seteliti itu untuk sekedar mengabsen kunjunganku? Seharusnya kamu menyukai itu. Hm~ anggap saja ini latihan untukmu agar terbiasa dengan kehadiranku. Aku takut kamu terlalu lelah untuk menghitungnya, hari yang akan kita lewati nantinya Kyar. He he he" yang kujawab hanya dengan memijat pelipis kepalaku.
Lila hendak menyuapiku tapi sikapku selalu sama, menampiknya. Berharap agar wanita itu mengerti. Dia wanita yang baik tapi tidak cukup memikat hatiku. Entah aku merasa perbuatannya sedikit tidak tulus padaku.
20 menit dilaluinya memakan makanannya sedangkan aku terus berkutat dengan beberapa pekerjaan yang harus kutangani.
Klek
"Aku sudah selesai Kyar. Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" Ujarnya setelah menutup kotak bekal.
"Tidak"
"Ouh ayolah Kyar setidaknya sekali saja beri aku kesempatan untuk masuk mengisi hatimu. Paling tidak sampai kakekmu atau ayahku mengerti bahwa hatimu benar-benar bukan untukku" jujur hatiku sedikit iba melihatnya. Bukan tanpa sebab aku bersikap dingin padanya, aku hanya takut membuat wanita baik sepertinya jatuh pada pria sepertiku. Pria yang masih mencari cinta pertamanya.
"Kumohon, sebulan! Jika selama sebulan juga tidak membuatmu suka padaku maka aku akan sadar diri dan mundur" air matanya mengalir dari ujung ekor matanya. Aku melihat itu. Kupikir sebulan hanya tiga puluh hari dari bagian tiga ratus enam puluh lima hariku.
"Baiklah"
Ia loncat memelukku. Aku hanya bisa tersenyum membalas pelukannya. Seperti itu kan? Hatiku takut ini adalah pilihan yang salah
"Kalau begitu kau bisa pulang sekarang, Li-la?"
"Apa? Lila? Ini pertama kalinya kamu menyebut namaku Kyar. Aku suka itu" senyumnya terpatri menghiasi mata bulatnya.
"Aku pulang sekarang besok aku akan kembali lagi, menemuimu dengan kotak bekal baru untuk merayakan hari kedua kamu menerimaku tentunya"
"Terserah kau saja"
"Bye Kyar. Chu~" mataku melotot sempurna dan tegang tentunya. Wanita ini semakin berani bersikap intim padaku. Tapi mungkin itu wajar. Aku juga tak tahu harus bersikap bagaimana padanya.
Sunyi, ruanganku kembali sunyi setelah ia benar-benar pergi.
Aku mengambil jas yang tergantung di tiang penyangga, bergegas pergi menuju suatu tempat.
Aku menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai satu.
"Pak, silahkan ikut bersama kami naik lift saja" ucap salah satu pegawai pria dari dalam lift menawariku
"Tidak, terimakasih"
"Maaf pak, dia pegawai baru disini jadi belum tau kebiasaan bapak" kali ini pegawai wanita yang menyahut. Aku hanya mengiayakan ucapannya kembali beranjak menuruni anak tangga.
"Apa kebiasaannya itu menuruni anak tangga dari lantai 12 ke lantai 1? Woah gak heran tubuhnya atletis seperti itu"
"Sudahlah, nanti pak CEO mendengarnya"
Samar samar kumendengar percakapan mereka saat menuruni anak tangga ketiga sampai kelima. Aku mengabaikan obrolan tak penting seperti itu. Aku hanya menanggapi orang yang benar-benar tulus padaku.
Aku terus menuruni anak tangga. Tapi selalu, tepat di lantai 7 aku terhenti. Memandangi toko klontong di ujung perempatan jalan. Toko klontong itu selalu sukses menarik perhatianku.
Toko klontong yang sangat, sudahlah lupakan.
Lantai 1, 14.17 PM
"Pekerjaan anda sudah selesai pak?" Sapa seorang security yang cukup lama mengabdi diperusahaan ini.
"Yah pak Amir, hari ini pekerjaan saya tak cukup banyak" ucapku sambil berjalan menuju parkiran mobil bersama pak Amir
"Bersantailah barang sehari saja pak, tak akan merugikan waktu bapak jika hanya sehari. Jangan sampai masa tua anda nantinya terbuang tanpa memori masa muda kekeke" beliau terkekeh disela ucapannya
"Baiklah pak Amir, saya akan mengingat nasihatnya. Saya pulang dulu pak, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" pak Amir menundukkan kepalanya hormat.
Drrn...
Kulajukan mobil menuju tempat itu, mencari cinta pertamaku. Lebih tepatnya, tempat dimana aku dan cinta pertamaku merajut memori.
Hai sayang, aku disini.
Selalu disini.
Menunggumu.
Menunggu kepulanganmu
Menunggu kamu menepati janjimu
Kembali ke pelukanku
Melewati seluruh hari-hari kita
Tidak kah kamu tega padaku?
Tujuh tahun kamu tak pernah kembali
Atau mungkin
Sekedar mengirimiku kabar
Kamu tidak nakal kan?
Kamu masih mencintaiku bukan?
Aku tau kamu hanya milikku
Dan
Selalu
Selamanya akan begitu!
Segeralah pulang
Aku tak yakin cincin ini akan selalu mengikat disana
Dijari manisku
Kau tau kan bagaimana sifat kakek?
Ya, dia selalu memaksa kehendaknya
Setidaknya itu lebih baik daripada ayah.
Sekarang ayah dan kakek saling berlomba memutihkan rambut mereka. Ha haha ha
Itu lucu bukan?
Jika kamu disini
Pasti kamu akan mengomeliku
Mengoceh panjang lebar
Karna kumembuang waktuku untuk menemuimu
Lagi.
Cepatlah kembali pulang sayang
Kutau kamu pasti rindu dengan dvd koreamu
Kau tau sekarang boyband favoritmu masih saja bernyanyi
Dan membuatku sukses semakin teringat dirimu
Aku juga selalu membelikan dvd korea terbaru setiap minggunya,
Hanya untukmu
Kumohon pulanglah
Sebelum mereka benar benar membuatku hidup bersama wanita yang tak kucintai.
I love you, Chagi
Tes
Itu bukan bulir hujan, melainkan air mataku. Ya, aku akan sangat lemah dan cengeng jika mengingatnya.
Aku sangat menyesal karna tak sempat mengabulkan tiga permintaannya. Menyebutkan chagi-ya~ salah satu permintaan itu. Sepele dan aku mengabaikan hal sesepele itu dan menyesalinya sekarang.
Tujuh tahun berlalu seperti ini, aku tak akan bosan. Karena dia, sayangku akan kembali seperti ucapan terakhirnya sebelum benar-benar menghilang dari hidupku.
"Hy paman, hari sudah semakin sore. Paman tidak pulang?"
Anak ini selalu saja menghampiriku bersama neneknya. Anak yang sangat menggemaskan dengan rambut hitam panjang bergelombang dengan bandana merah muda bermotif blossom flower yang menambah kesan keimutannya.
"Baju baru? Cantik dan lucu sepertimu. Ambillah ini" kusodorkan sebuah permen lolipop padanya
"Terimakasih paman" anak itu mendekapku erat, hangat. Itu yang kurasakan setiap kali ia mendekapku.
"Kalau begitu paman pulang, sampaikan salam paman untuk nenekmu juga ok?" Namun anak manis itu hanya menyunggingkan senyumnya membuatku gemas untuk membelai rambutnya sayang.
