Payung

23 5 1
                                        

Malam itu, aku menulis sajak di sebuah kertas kosong. Sejak hujan gerimis turun di kotaku aku sudah menyiapkan kertas ini. Bukan untuk menampung hujan, tentunya.

Aku selalu menulis sajak ketika aku merasa hatiku sedang resah. Lalu waktu hujan adalah waktu yang tepat untuk menumpahkan segala keresahan hatiku.

Aku melirik jendela kamarku yang kubuka sedikit. Udara malam dan bau petrichor menyeruak masuk ke dalam kamarku. Menyegarkan dan menyenangkan.

Aku meregangkan otot-ototku yang kaku akibat terlalu lama menulis.

Tak lama sebuah suara memecah suara hujan, "Noraaa, bisa tolong belikan gula di warungnya Rara?"

Itu suara ibuku. Membuatku bergegas turun ke bawah, dengan payung kecil kesayanganku di genggamanku. Payung ini sudah seperti temanku sejak dulu.

"Assalamualaikum, Nora pergi bu."

Aku mendengar suara blender berdesing beriringan dengan jawaban ibu. Keadaan rumahku memang sedikit bising dengan ibu yang selalu membuat kue di malam hari untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Rumah kami kecil dan hanya terdapat beberapa ruangan di dalamnya. Jadi apapun itu bisa sangat terdengar jelas, karena jarak tiap ruangan tidak terlalu jauh.

Aku mendorong gagang payungku ke atas. Sampai sebuah suara terdengar, itu menandakan payungku tidak akan mudah tertutup. Gagang payungku kuapit tepat di antara kedua kakiku, aku membutuhkan kedua tanganku untuk mengelap kacamataku yang terasa lembab ini.

Kakiku sedikit berjengit ketika aku merasakan seekor semut berjalan di atasnya. Sehingga gagang payung yang kuapit di kakiku tadi terlepas dan terempas angin.

Sementara aku melupakan tugasku untuk membeli gula. Lantaran kini aku harus berlari di bawah hujan mengejar payungku yang tiba-tiba menjadi nakal itu. Sampai membiarkan kacamata yang sudah kulap tadi lembab lagi.

...

Beberapa menit terlewati dengan adegan lari-lari bak syuting film—entah film apa. Aku mengelap dahiku yang banyak mengeluarkan keringat. Padahal seingatku, aku hanya berlari sekitar beberapa meter dari rumah.

Aku mengambil payungku yang akhirnya tergeletak tak berdaya di depan sepasang kaki.

Eh eh.

Tunggu sebentar.

Sepasang kaki, apa itu artinya di depanku ini ada seseorang?

Aku mendongak untuk memastikan kaki siapakah itu.

"Halo, Nona? Mengapa mengejar-ngejar payung di hari yang sedang terik ini?"

Oh tidak, apa maksudnya?

Namun, detik itu aku jadi sadar.

Kapan hujan berhenti? Dan kenapa bajuku tidak basah? Padahal aku sudah berlarian menerjangnya.

...

Another POV

"Nora ada pergi ke warungmu tidak, Ra?"

"Maaf Tante, daritadi warung sepi. Rara juga belum melihat Nora seharian ini."

"Kalau begitu terima kasih, Ra."

Aku bingung, ini sudah beberapa jam sejak Nora tiba-tiba pamit tanpa tujuan yang jelas. Tadi kupikir, dia ingin bermain hujan-hujanan di depan rumah. Tapi, nyatanya sampai sekarang aku tak menemukannya di depan atau bahkan sekitar rumah.

Lalu aku mencoba menghubungi Rara, teman Nora, barangkali ia mengetahuinya dan sudah jelas hasilnya nihil.

Hujan semakin deras, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya.

Kulihat jendela yang memburam akibat rintikan hujan. Di mana Nora?


End.






...
18 Mei 2020
Revisi : 21 Mei 2020
Revisi 2: 25 Juli 2023

Gatau kenapa, tapi ini cerita fav-ku banget! Kemarin aku unpub, soalnya ya gapapa pengen aja. Tapi aku pikir lagi, yaudahlah publish aja gaada yang peduli ini(?)😁🤜🏼

Aku revisi beberapa penulisan yang salah sama gajelas ((menurutku))

Gitu aja sih, hehe

PayungStories to obsess over. Discover now