~~~SepaRate~~~
Andai sejak awal tidak ada yang namanya perpisahan.
-Author's POV-
Saat perpisahan
"Kaka sayang kamu, Bulan." Suara nan lembut keluar dari seorang gadis kecil berambut coklat yang dituju kepada adik kecilnya.
"Bulan juga sayang kakak." Kata gadis bernama Bulan sambil memamerkan senyuman manisnya. Matanya memandang kakaknya penuh sayang. "Ka, jangan tinggalin Bulan. Please."
"Maaf Lan. Kaka harus ikut daddy ke Singapura." Balas sang kakak dengan wajah sedihnya.
"Tapi Luna... aku sendili di sini." Bendungan air mata yang ditahan Bulan sejak tadi seketika meleleh.
Gadis bernama Luna itu, ikut menangis meratapi perpisahan antara mereka berdua. Siapa yang tak sedih saat berpisah dengan kembarannya sendiri?
"Tenang Lan, kaka pasti kembali. Dad bilang kita cuma siminggu di sana." Kata Luna, mencoba menenangkan adik kembarnya. Walau dia sendiri tak hentinya meneteskan air mata.
Dengan cepat, Bulan menggelengkan kepalanya. Tak terima kakaknya tersayang pergi meniggalkannya.
"Kaka janji akan kembali secepatnya. Nanti kaka beliin permen yang banyak, oke?" Bujuk Luna lagi.
"Bulan ngga butuh pelmen, Bulan cuma butuh kaka.... Pokoknya Kaka ngga boleh pelgi!" Rengek Bulan yang sama sekali tak tahu mengeja huruf 'r', karena lidanya terbiasa menggunakan bahasa inggris. Air matanya terus mengalir membanjiri pipinya yang mulus.
Luna mengusap air mata Bulan, lalu memeluknya erat, bermaksut untuk menenangkan adiknya yang manja itu. Bulan tak henti meneteskan air mata, di dalam pelukan Luna mulai terdengar isakan Bulan. Luna mempererat pelukannya, sementara tangisan Bulan semakin kencang.
"Hua..." tangis Bulan. "Luna jahat. Kamu udah janji ngga bakal niggalin aku."
"Hiks... Jangan nangis Lan. Kamu harus kuat, jangan kaya gini." Kata Luna walau dia sendiri tak hentinya menitikan air mata. "Kamu ngga sendiri, ada mom di sini. Hiks... jangan nangis terus. I know you're strong Lan."
"I'm not strong enough, Lu. I can't handle things by my own. I need you by my side." Kata Bulan dengan aksen inggrisnya yang kental.
Luna meloggarkan pelukannya, menatap adiknya tepat di kedua matanya yang sembab. Dibelainya rambut Bulan sambil mulai menyanyikan lagu perpisahan yang diciptakan mereka berdua. Suara merdu Luna merasuki indra pendengaran.
"Good bye dear love. Don't cry, don't waste your tears on me, and don't miss me to much. Cause i know you're strong even when i'm not around."
Nyanyian Luna berhasil menenangkan tangisan Bulan. Senyum hangat Luna tujukan kepada Bulan, sambil terus menyanyikan lagu dengan suara merdunya.
"If you're sad, promise me, this night you'll see the night sky so you can remember me as the moon that light your night."
Perlahan, hati Bulan menghangat mendengar suara Luna yang indah.
"I just want to let you know, even when the distance separate us, our heart will always be together."
"Cause, like the moon, you are my other half." Di kalimat terakhir, Bulan juga ikut bernyanyi. Keduanya tertawa, melupakan kesedihan mereka.
"Aku akan melindukanmu Lu." Kata Bulan dengan suara seraknya akibat menangis tadi.
"I'll miss you too, Bulan." Balas Luna penuh sayang.
Kedua kembar tersebut berpelukan erat. Seakan mereka tak akan pernah bertemu lagi. Sementar seorang pria menatap kedua gadis itu dengan tatapan bersalah. Di dalam hati pria tersebut, dia menyesali tindakannya sendiri.
"Luna, it's time to go." Kata sang pria yang tidak lain adalah ayah dari kedua gadis tersebut.
Luna mengangguk patuh sembari melepaskan pelukannya. Dia tersenyum hangat ---lagi--- ke arah Bulan yang di balas dengan senyuman lebar nan indah oleh Bulan.
"Sudah cukup sampai jumpanya nanti kalian terlambat." Tambah seorang wanita yang terlihat berada di umur pertengahan tiga-pulul-tahunnya, siapa lagi kalau bukan ibu dari kudua gadis cantik itu.
"Lu, bilang pada big bro, i miss him, ok?" Pintah Bulan pada Luna.
"Tentu Lan. Kaka pergi dulu. Bye Bulan, bye mom." Pamit Luna pada ibu dan adiknya. Bulan dan ibunya mengangguk mengiyakan, sesak rasanya mengucapkan selamat tinggal. Apa lagi sang ibu tau bahwa kedua putri kecilnya itu tidak akan pernah berjumpa lagi, itu pertanda ini pertemuan terakhir mereka.
Tentu saja ada alasan dibalik semua ini. Ceritanya panjang. Di mulai dari pertengkaran hebat kedua suami istri itu dan akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai tanpa sepengetahuan Luna dan Bulan.
"Bye my little Moon." Kata sang ayah sambil menghampiri anak bungsunya, Bulan. Tanpa sadar genangan air mata tercipta lalu perlahan menetes di wajahnya yang masih terlihat tampan di umurnya yang sudah menginjak tiga-puluh-enam-tahun.
"It's okay dad, Bulan ngga akan nangis lagi kok." Kata Bulan sambil menyingkirkan air mata ayahnya. "Masa dad juga nangis. Jangan kaya anak kecil gini."
Bulan mencubit hidung ayahnya bermakdut untuk menghiburnya. Ayahnya yang berjongkok di depan Bulan, terkekeh akibat tingkah lucu anaknya.
"Thanks Moon. Be a good girl and promise me you'll be strong." Kata sang ayah yang dibalas anggukan oleh Bulan.
Akhirnya setelah ungkapan perpisahan yang amat menyayat hati, Luna dan Bulanpun berpisah tanpa tau inilah pertemuan terakhir mereka. Memangnya apa salah keduanya sampai takdir berusaha memisahkan mereka? Sungguh, rasanya sakit apa bila setengah dari dirimu pergi begitu saja.
They were a pair, mean to be together, but they were separated by fate.
-TBC-
Author's note -10 februari 2019
Thanks so much bagi yang rela membaca buku ini, it means a lot to me. Aku tau diriku ini belum sempurna, jadi maaf jika banyak typo bertebaran.
Have a nice day😊😊😊
.
.
.
🌺Kornelie24
YOU ARE READING
SepaRate
Random-Separ Luna chrisant "Bulan, kakak rindu kamu. Andai kita tak pernah berpisah, mungkin sekarang kita sedang duduk bersama di sini, menatap bintang di atas sana. Kakak tak perlu khawatir mencari bulan di langit malam, karena kaulah bulannya." -Ara...
