Untukmu, Pelipur Laraku.

41 3 9
                                        

Semua itu bermula sekitar kurang lebih dua tahun yang lalu. Ketika aku dan keluargaku pulang dari perjalanan menjelajah sebuah kota di Negri Tirai Bambu, Guangzhou untuk keperluan mengembangkan bisnis keluarga kami. Aku kesana dengan keluarga intiku, artinya tanpa suami dan iparku. Sekitar 2 minggu pulang dari Guangzhou, suamiku bertanya apakah aku sudah mengalami menstruasi. Ya, dia sudah sangat rindu akan keberadaan si Kecil. Ketika mengecek jadwal haid di aplikasi smartphone, baru aku sadar bahwa aku sudah terlambat hampir satu bulan. Suamiku dengan mata berbinar pergi ke apotek terdekat untuk membeli testpack. Lalu, mata berbinar penuh harap itu sungguh terbit ketika melihat garis dua pada alat test kehamilan tersebut.

Maka, aku pun berbisik, dear tiny human, Allah SWT knew our heart needed you.

It was a miracle, indeed! Ada dorongan yang begitu kuat agar aku memperbaiki amalan demi mencari RidhoNya untuk memberikan kami sebuah titipan yang jika dinilai akan mendapatkan predikat sempurna sebagai pelipur lara dan peyejuk hati kami berdua. Aku merasakan, tubuhnya yang masih sebesar kurma memintaku untuk memperbaiki amalan. Perkembangan nya hari demi hari terus meminta kepadaku agar aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur karena sudah dipercaya untuk membawanya di rahimku. Dengan sukacita aku senantiasa melewatkan hari menemaninya dengan membaca minimal 1 juz AlQuran. Jika sedang tidak lelah, alhamdulillah, aku bisa menemaninya dengan membaca petunjuk hidup kami sebanyak 3 juz. 

Kebanyakan mereka yang sudah menjadi Ibu heran dengan prosesku. Aku sama sekali tidak mengalami semua gejala yang lazim dialami oleh Ibu hamil. Aku tidak mengalami muntah-muntah, ngidam, pening dan kelelahan yang significant. Aku pun heran sekaligus tentu saja bersyukur yang luar biasa kepada Allah SWT. Bayangkan saja, aku baru sadar bahwa aku hamil sejak pulang dari Guangzhou. Aku masih ingat rasanya berlarian di bandara KLIA2 untuk mengejar jam pesawat yang mepet. When you do traveling, suddenly walking is your hobby. Alhamdulillah, Allah lah sebaik-baik penjaga.

Ketika Sang Pencipta sudah menganugrahkan bayi ini kemampuan untuk mendengar, aku selalu menempelkan murottal ke perutku. Ada moment ajaib yang sungguh sangat ingin kami berdua awetkan, yaitu ketika mendengar surat Yasin didekatkan ke perutku, dia menendang dengan hebatnya. Seolah-olah meminta untuk mengajarkan surat tersebut ketika dia sudah menatap dunia. MashaAllah, this baby really fills my heart

Tibalah saatnya. Qadarullah, aku yang begitu enjoy menjalani masa kehamilan tidak bisa menjalani proses melahirkan normal. Ketika didorong ke ruang operasi, aku yang sungguh ketakutan dengan jarum suntik, meminta perawat mengizinkan ku untuk membawa tasbih sebagai penenangku. Alhamduliah, setelah mereka berdiskusi, aku diizinkan membawa tasbih ke ruang operasi.

Aku sangat ingat. Pada tanggal 12 Oktober 2017 pukul 13.00 WIB, aku merasakan sakitnya anastesi epidural yang diberikan lewat tulang belakangku. Kugenggam erat tasbihku sambil menangis dan berakhir dengan keluarnya keringat dingin. Lalu, setelah aku terbius setengah badan, dokter pun melakukan proses pembedahan untuk mengeluarkan buah cinta kami berdua.

Hari demi hari berlalu. Sekarang makhluk kecil ini sudah berumur 15 bulan. Sosoknya yang tanpa dosa menjadi pelipur lara dengan segala aksi polosnya. Teman ibuku yang dikaruniai Allah SWT anak-anak yamg hafal AlQuran dari rumah memberikan bagaimana tips mendidik anak. Beberapa diantaranya adalah dengam membiasakan berwudhu bersama ketika adzan berkumandang.

Maka, aku pun berusaha menjaga fitrah keimanan anakku dengan cara membiasakan dia berwudhu ketika adzan berkumandang. Awalnya ada perasaan tidak tega ketika harus membawanya ke toilet di shubuh hari. Tapi, aku harus tega, tekadku. Akhirnya sejak umur satu tahun 3 bulan, dia sudah terbiasa berwudhu di waktu shubuh. Tak jarang dia menangis ketika harus merasakan dinginnya air di pagi hari. Maka aku pun berkata kepadamya, "maafkan atas ketidaknyamanan mu ya nak, inshaAllah, ini salah satu cara agar Allah SWT sayang kepada kita," Beberapa kali kukatakan itu setiap dia menangis, ajaib dia pun berhenti menangis. Lalu ku tanya kepadanya, "mehrab mau susu ya?" Dengan lucunya dia pun bisa menganggukkan kepala kecilnya. Selain itu aku mencoba senantiasa menjaga fitrah keimanan nya dengan cara senantiasa mengajaknya berterima kasih kepada Allah SWT. Misalnya ketika dia sudah selesai minum susu, aku pun berkata kepadanya, "terima kasih Allah, sudah kasih Mehrab susu, Alhamdulillah". Ketika dia selesai makan, tak lupa ku bilang, "terima kasih ya Allah, sudah kasih Mehrab makan, terima kasih ya Allah, Mehrab menghabiskan makanan nya"

Aku sungguh berharap dan berdoa, semoga salah satu cara sederhana ini bisa menjadi jalan agar fitrah keimanan nya terjaga.

Maka wahai anakku, kelak profesi apapun yang kau pilih, niat kan lah agar engkau juga menjadi seorang mukmin yang cerdas. Ketahuilah sayang, mukmin yang cerdas adalah manusia-manusia yang berusaha keras menyimpan tabungan untuk menghadapi kehidupan abadi.

Ketahuilah sayangku, ibumu ini sering mencuri waktu mustajab untuk berdoa agar aku dan ayahmu diberikan Sang Maha Penjaga kemampuan untuk mendidikmu menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Tolong maafkan ibumu, Nak. Jika ada perasaan mu yang merasa bahwa terkadang aku mengabaikanmu ditengah kesibukanku.



You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 29, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Makhluk Kecil, Si Pelipur LaraStories to obsess over. Discover now