Manusia dan Waktu

33 1 2
                                        

    Aku terus menatap bulan di atas langit itu, "sungguh indah ya bulan itu" pikirku. Saat ini aku dibawah pohon yang berada di depan rumah ku, persis tapi agak jauh. Aku biasa berteduh disini jika aku sudah merasa bosan dengan segala aktivitas yang membuat aku merasa harus melarikan diri sementara waktu.

    "Bulan itu memang indah, tapi dia hanya dapat dinikmati hingga pagi saja. Cukup sebentar bukan, Eigi?" Niko langsung duduk disebelahku. "Haa seperti biasa ya aku duduk disini kau ikut - ikutan, menyebalkan tahu" Ya, seperti biasa ketika aku sedang menikmati alunan angin yang sejuk dan tarian  awan yang terlihat diatas sana pasti Niko, atau lebih tepatnya dia--Khronos, menemaniku.

    "Yaa, maaf. Aku juga tahu kau pasti menginginkan sebuah wadah berbagi dari apa yang di benakmu itu." Dia menghela nafas sebentar, lalu mengeluarkan apa yang ada di plastik yang dibawanya. "Nih ambil, penahan kantuk mungkin saja kau akan bercerita panjang lebar, makanya aku sudah menyiapkan ini. Lagipula tidak lucu kita sama - sama ketiduran di tempat ini seperti waktu itu." Niko memberiku sebotol kopi, entah mengapa orang menyebalkan satu ini memang selalu bisa mengetahui waktu diriku sedang gusar.

    Berbicara soal Niko, dia adalah teman dekat er.. atau bisa dibilang tetanggaku dari kami bayi. Jadi wajar saja dia mengetahui habitatku jika aku sedang menahan emosiku terhadap semua aktivitas yang membuatku harus hibernasi sejenak. Niko mempunyai nama lengkap yang cukup aneh di telinga kami, karena dia diberi nama campuran oleh ayahnya, Nin Khronos.

     Karena aku merasa aneh memanggilnya seperti Khronos yang seperti nama orang Yunani dan itu sangat tidak cocok dengannya ataupun Nin yang rasanya mengganjal di lidahku, makanya aku memanggilnya Niko lagipula dia menerima saja. Kalau tidak salah... nama dia berarti Manusia dan Waktu, entahlah apa yang ada di benak ayahnya, tapi menarik memang.

    "Woi!, malah bengong" menepuk pundakku agak keras. "Urgh, sakit tahu!" aku merasa sedikit kesakitan, "yee, ditepuk sedikit keras saja, lagian ditanya gak dijawab." Niko menggerutu karena aku sedikit membentaknya. "Maaf, maaf. Aku sedang berpikir tentang nama-mu yang unik itu serta juga bulan ini." Balasku.

     "Hee.. kau memikirkan aku? Waah sepertinya kau sudah tidak normal ya, untuk ukuran orang yang sudah punya pacar yang rencananya bulan depan bakal menikah." Niko meledek.
      "Bukan gitu bego. Yang aku pikirkan bukan kau. Lagian ogah juga mikirin orang yang menyebalkan, dan berisik ini." Sekarang giliranku yang menggerutu kesal karena ledekannya barusan.

        "Ya, ya. Santai Eigi, aku hanya bercanda. Lagipula biar aku tekankan, mungkin aku bego seperti katamu tapi, orang pintar mana yang tahan mendengar celotehanmu tiap saat kau bodoh seperti ini, aku yakin pacarmu itu juga tidak tahu kebiasaanmu sekarang ini." Eigi mengganti nada bicaranya yang mengisyaratkan dia sekarang serius.

        Memang dia adalah tetangga yang menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari pacarku, berisik, dan juga usil, tapi dia menurutku lebih dapat diandalkan daripada siapapun. Apalagi disaat seperti ini. Mungkin, ini alasannya dia diberi nama Nin Khronos, Manusia dan juga Waktu. Sosok manusia yang paham kapan waktu yang tepat, menemani manusia lainnya.

Separuh WaktuWhere stories live. Discover now