" masa kini, itulah yang sedang kita jalani saat ini, yang kelak saat berlalu ia akan jadi history, dan punya ruang tersendiri dlam diri kita. Sedangkan masa depan sendiri adalah sebuah teka-teki yang membentuk sebuah mistery tentang apa yang akan terjadi nanti"
"lEviosA mobiLienUs, amberco sactaraAtO" mantra ampuh ini di ucapkan oleh ghoseboov, sang penyihir tua bangka itu. Seketika Gemuruh guntur terdengar bersamaan dengan turunnya hujan yang deras. Kawanan monyet yang tadinya sedang bergelantungan di antara ranting-ranting pohon rimba kini memilih untuk bersembunyi di balik ranting-ranting besar, begitu pula dengan kawanan burung kecil yang entah apa namanya, mereka adalah sekawanan burung yang senang hinggap dari dahan ke dahan untuk memakan rombongan serangga yang kebetulan lewat di pepohonan. Bulunya terkadang berwarna kehijauan, kebiruan, atau juga kekuningan.
Burung kecil yang tadinya dengan riang loncat kesana kemari, seraya bersenandung dengan bahasa yang hanya akan dimengerti oleh bangsa mereka sendiri, kini memilih untuk berteduh dan menyaksikan adegan yang akan terjadi kali ini.
Rombongan pasukan semut yang sedang mencari nafkah untuk menghidupi anak istri mereka yang ada di rumah pun tak mau kalah, setelah berunding dengan para pasukan dan bermusyawarah akhirnya mereka kini sepakat untuk pulang lebih cepat, karena menurut badan klimatologi semut, cuaca hari ini nampaknya tidak mendukung, di sebabkan oleh hujan yang turun dengan deras dan tak berjeda. Mereka harus sesegera mungkin pulang ke rumah masing-masing sebelum arus air menghanyutkan mereka, kalau saja hal ini terjadi, maka anak mereka tentu akan menjadi yatim dan istri mereka akan jadi janda karena di tinggal mati oleh suami mereka, dan hal ini tidak boleh terjadi.
Semua makhluk yang ada di hutan tersebut memutuskan untuk mencari tempat yang aman, mereka lebih memilih bersembunyi di balik tempat-tempat yang mereka rasa bisa jadi perlindungan.
Lain halnya dengan seorang albino pendek yang justru memilih duduk di bawah pohon pinus tua, yang tak kalah tua bangkanya dengan sang penyihir tadi. Tangan-tangannya yang pendek di angkat ke langit wajahnya menengadah ke atas, layaknya seorang pengemis yang minta uang kerenceng di tepian jalan. Ia menutup matanya membiarkan cairan bening meleleh dari kelopaknya, membasahi pipinya yang sudah basah oleh hujan, air matanya mengalir dengan deras sebagaimana derasnya hujan yang sedang mengguyur bumi. ia tampak tak berdaya menopang tubuhnya dan memasrahkan tubuh pendek bulatnya itu pada akar pinus yang bermunculan di permukaan bumi. pohon pinus tempat tinggal ghoseboov ini tampaknya sudah terlalu lama menumpangkan akar-akrnya di bumi, hingga bumi pun tampak amat bosan dengan akarnya yang berjejalan di kulitnya, lalu memutuskan untuk memberi tumpangan pada pohon ini sebatas di permukaan.
Rupanya hujan tak datang sendiri, petir, kilat dan guntur pun turut menemani, mereka seolah sedang berkolaborasi setelah menerima intruksi dari penyihir tua yang tak lain adalah ghoseboov. Langit bergemuruh seakan segera runtuh, suasana begitu gaduh, semua takut, semua bersembunyi dan mencoba berlari dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Semuanya terhenti saat petir menyambar seorang albino yang malang tadi, ia meronta kesakitan karena ulah sang petir, rasa sakitnya begitu dahsyat mengalahkan sakitnya seekor sapi yang di kuliti hidup-hidup. Namun ia harus kuat menahannya, karena inilah yang ia inginkan dan ia perjuangkan selama ini. Ia sanggup melakukan apapun untuk dapat mengakhiri semua kenyataan pahit yang ia alami.
YOU ARE READING
wax
FantasyBismillahirrahmaanirrahiim.. apapun ceritanya, dibaca aja ya !!. Ini hanyalah sebuah karangan fiktiv, yang di buat berdasarkan ngayal doang, dan karena kurang kerjaan. Jadi saya harap anda akan membacanya ketika anda tak sedang banyak kerjaan, karen...
