Siapkah kalian menemani penulis memulai "perjalanan" ini?
Jawab saja iya. Karena jika menjawab tidak pun, cerita akan tetap penulis lanjutkan.
Mentari yang bersinar dikala itu menerangi penglihatannya yang mulai jelas. Matanya yang perlahan membuka menyusuri setiap sudut tempat dia sekarang berada. Walaupun dikatakan sudut, tetapi sejauh mata memandang, tempat itu tidaklah bersudut maupun mempunyai ujung yang jelas. Hanya ada tumpukan pasir panas, dirinya, dan bayangan savana dikejauhan. Mencoba bangun dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan, pemeran utama kita ini mencoba mengingat kembali penyebab keberadaannya di tempat itu. Namun usahanya itu tak berjalan semudah yang ia pikirkan. Sekujur tubuhnya yang gemetar dan berkeringat berkat teriknya mentari membuat tanganya terpeleset tepat sebelum menyentuh lututnya untuk bangun. Ia pun terjatuh. "Dimana ini? apa yang terjadi? bagaimana bisa seperti ini?" pertanyaan - pertanyaan seperti itu terus terngiang tanpa ada jawabannya.
Rasa haus yang hebat membuatnya sulit untuk berpikir apalagi bergerak. Ia pun mulai mempertanyakan kehidupan. "Berdosalah diriku dengan pekerjaan ini. Jika begitu, bukankah mereka yang membayarku, mereka yang menyuruhku, mereka yang membiarkanku seperti ini, bahkan mereka yang membesarkanku pun ikut berdosa?" namun apalah daya, tak kuasa menghakimi, ia pun terus melanjutkan pemikirannya hingga terbesit dipikirannya. "Haruskah ku membuang waktu dan tenaga hanya untuk memikirkan mereka dan kekesalanku saat ini? kenapa tidak memikirkan jalan keluar dari keadaan saat ini? ...Namun setelahnya, apa yang akan kulakukan ketika terbebas dari ini semua? ah biarlah diriku nanti yang memikirkannya." Namun seketika ia berpikir, "Diriku nanti.. akankah ada 'diriku nanti' itu? rasa penyesalan karena tidak menyesali apapun, maupun kata maaf karena tidak meminta maaf. Tak satupun dari apa yang kulakukan kusesali, karena semua itu harus dilakukan demi melanjutkan hidup. Meski kehidupan ini tak berguna, justru karena tidak berguna, biarlah terus tidak berguna karena tak ada arti lagi bagiku untuk hidup. Lalu untuk apa selama ini.. diriku.. me... ...?"
Tak kuat menjaga kesadarannya, ia pun memejamkan matanya. Masih banyak pikirannya yang belum terjawab, namun apalah daya. Mari biarkan pemeran kita ini beristirahat. Mungkin setelah bangun, cerita ini bisa kita lanjutkan. Entah itu dari tempat yang bisa kita sebut peristirahatan terakhir, awal yang baru baginya, ataupun lanjutan dari kisah ini. Mari berharap untuk kesempatan berikutnya.
Sekian cerita pembuka kali ini. Maaf jika banyak kata maupun penulisan yang kurang berkenan karena penulis memang masih baru dalam bidang ini. Kritik dan saran penulis harapkan demi terciptanya karya yang lebih baik kedepannya. terdengar seperti penutup dalam makalah ataupun laporan bukan? maklum saja karena penulis baru - baru ini masih berkutat dengan tugas yang mengharuskan adanya bagian "kata pengantar" didalamnya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu, dan kepada pembaca sekalian yang berkenan menemani penulis sejauh ini. Jika waktu mengijinkan, mari bertemu lagi di "perjalanan" berikutnya.
