Malam itu, bulan purnama menggantung di langit yang berkabut. Lolongan demi lolongan secara mendadak merobek kesunyian belantara. Gemerisik bunyi ranting dan daun kering yang bergantian diinjak ikut meyusul kemudian.
Adalah seekor serigala kecil yang tengah berlari tanpa arah, berusaha menyelamatkan dirinya dari kejaran serigala lain yang tertinggal tak begitu jauh di belakang. Sinaran rembulan memantulkan cahaya perak dari rambutnya, darah menetes dari lukanya yang menganga, ia kembali meloloskan sebuah lolongan panjang yang pilu.
Napasnya hanya tersisa satu-satu. Seseorang harus menyelamatkan dirinya saat ini juga. Bila tidak, ia pasti akan segera mati.
BRUKK!...
Seekor serigala berpostur paling besar berhasil menerkamnya dari belakang, hingga ia harus terseret di atas lapisan tanah yang basah.
Serigala itu menahan seluruh pergerakannya dari atas. Ia sudah pasrah. Tenaganya sudah habis, bahkan untuk bertahan dalam wujud hewannya. Serigala berambut perak itu perlahan kembali ke dalam wujud manusianya; sesosok pria berpostur mungil dengan surai berwarna senada.
Dengan napas bergemuruh, ia melirik ke samping. Memperhatikan serigala-serigala lain yang mulai membentuk lingkaran mengelilinginya. Menutup seluruh celah untuknya kabur. Terlebih, serigala di atasnya sudah memamerkan cakarnya yang tajam dengan sombong, ia hanya bisa menutup kedua netra pasrah.
Bila malam ini adalah saat terakhirnya untuk hidup bersama ramalan sialan itu, ia ingin berterima kasih karena telah menemaninya begitu lama. Bahkan lebih lama dari orang tuanya sendiri.
Ibu...
Ayah...
BRAKK!! BRUKK!!!
Beban di atas tubuhnya tiba-tiba menghilang, membuat pria bersurai perak itu buru-buru membuka mata. Doa-doa yang baru saja hendak ia panjatkan untuk Dewi Bulan lenyap begitu saja dari kepalanya. Matanya menyipit, mencoba mencerna lamat-lamat kejadian apa yang sebenarnya sedang berlangsung.
Seekor serigala berambut cokelat gelap gagah berdiri di hadapan serigala lain yang terbaring di tanah. Serigala itu menggeram marah, menyoroti lawannya satu-satu dengan tatapan mata kuningnya yang menyala dalam gelap malam.
Satu lolongan lolos memecah ketegangan.
Menandakan sebuah awal dari pertarungan. Menggerakkan seluruh serigala yang ada di sana untuk menyerang serigala cokelat itu dalam waktu bersamaan.
Pria itu hanya mampu meringis.
Seluruh badannya terasa kebas. Di saat penolongnya berusaha melawan para serigala yang mengejarnya, ia hanya bisa menyaksikan tanpa berbuat apa-apa.
Serigala itu memang lincah. Pertarungan berlangsung begitu sengit dengan perbandingan sepuluh lawan satu. Meski terlihat gesit membalas serangan lawannya, tetapi pria itu tahu bahwa serigala cokelat akan kewalahan dalam jumlah yang tak seimbang.
Namun...
Entah Dewi Bulan sedang baik-baiknya atau memang ia belum ditakdirkan untuk mati sebelum ramalan di dalam dirinya itu terjadi, seekor serigala lain tiba-tiba muncul memperkuat pertahanan si serigala cokelat. Pria mungil itu tersenyum tipis, sebelum akhirnya ia kehilangan seluruh kesadarannya.
Pertarungan masih berlanjut. Setelah seekor serigala bernetra merah datang, perkelahian tersebut menjadi lebih imbang. Ia berhasil mengalahkan serigala-serigala besar yang sebelumnya membuat serigala cokelat kewalahan. Kedatangannya membuat mereka berhasil mengalahkan kesepuluh serigala yang lain.
Serigala cokelat adalah yang pertama merubah wujudnya menjadi manusia setelah seluruh lawannya terkapar tak berdaya. Ia berubah menjadi sosok pemuda berperawakan tinggi dengan kontur wajah tegas dan rupawan. Surainya cokelatnya sengaja ditarik ke belakang, hingga memperlihatkan dahinya yang besar dan lebar.
Serigala berikutnya menyusul kemudian. Ia berubah menjadi sosok pemuda dengan karisma yang begitu kuat. Aura kediktatorannya terpancar jelas dari rahang tegas, beserta netra semerah darah yang memancar.
Ia melirik sekilas pada pria bersurai cokelat yang menundukkan pandangan padanya, lantas berjalan mendekati pria mungil yang pingsan.
Pria itu mengendus-endus lehernya sesaat. Kemudian, ia menggeram, "Omega..."
Suara beratnya menggema di seluruh belantara. Beberapa gagak berterbangan dari persembunyiannya akibat terusik.
Ia pun mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Sebelum beranjak pergi, ia menyempatkan diri untuk menoleh kepada pria lainnya yang masih belum bersuara dengan kepala menunduk.
"Ini milikku."
Detik berikutnya, ia sudah menghilang dari posisinya. Berlari dalam kecepatan tinggi, kembali menuju istana. Pria bersurai cokelat menyusul beberapa detik kemudian.
Tidak ada yang mampu menentang perkataan sang Alpha. Ia adalah pemilik kekuasaan paling mutlak di seluruh belantara ini.
Tbc.
Catatan Penulis:
Hmm... Aku lagi pengen baca ff binhwan yang ABO werewolf AU gini tapi susah banget nemunya. Yasudah, akhirnya aku bikin sendiri. 😤
YOU ARE READING
Silver Forecast
FantasySerigala perak yang tak pernah bisa tidur tenang, suatu malam diselamatkan oleh seekor Alpha. Untuk pertama kalinya, ia kemudian mengenal rasa aman. Namun, ketika ia diminta untuk menjadi pasangannya. Ia tidak bisa. Sebuah ramalan telah lama hidup d...
