Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

prolog

814 145 153
                                        

Mungkin 'Dia' tampak baik-baik saja dengan senyum tipis itu. Tetapi 'Dia' tidak sekuat Baja untuk menahan luka hati.🍃🍁

Suasana ramai di sebuah Caffe Shop membuat mata Dean memicing sedikit karena ia sedang mencari seseorang yang sudah berjanji bertemu dengannya.

Masih dengan kebingungannya, Dean berdecak sebal.

"Ck, apa dia sudah pulang?"

Dean menebak sambil melangkah ke arah meja bagian belakang. Lalu langkahnya terhenti sebentar.

Tatapan malas Dean menunjukan jika ia sedang tidak ingin melakukan apapun selain duduk diam.

"Satu jam, satu jam aku menunggumu. Ke mana saja kau?" ucap lawan bicara Dean.

"Kau tau aku sibuk," jawab Dean santai.

"Tidak ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Ayra.

"Nothing," jawab Dean

"Baiklah, kita makan lalu pulang setelahnya," ucap Ayra.

"Ayra," panggil Dean

"Besok aku tidak bisa menjemput sekaligus mengantarmu pulang ya kau tau sendiri bagaimana Kinan," tambah Dean.

"Biasanya juga kau seperti itukan? Sahabatmu adalah prioritas dan aku menjadi yang terakhir bagimu," gadis yang bernama Ayra berbicara dengan tenang.

"Jangan mulai." perkataan dingin Dean menusuk hati Ayra.

Setelah ucapan terakhir Dean, gadis yang di panggil Ayra menjadi diam bahkan saat di mobil pun Ayra juga memilih untuk diam.

Dean sedari tadi melirik sekilas ke arah Ayra.

Tidak

Ini bukan kejadian yang pertama kali tetapi ini sudah yang kesekian kalinya.

"Kau mau beli sesuatu?" tanya Dean

Tidak ingin membuka suara Ayra menggeleng saja sebagai jawaban.
Begitu seterusnya sampai mobil Dean sampai di depan pintu gerbang rumah sederhana Ayra.

"Hati-hati di jalan," ucap Ayra lalu ia beringsut pergi membuka pintu tanpa melihat wajah Dean barang sedikitpun.

Dean tau apa yang terjadi selanjutnya karena hal seperti ini sudah tidak bisa di hitung dengan jari.

Yang bisa dilakukan Dean hanya menunggu amarah Ayra mereda.

Sedikit termenung, Dean kembali sadar lalu pergi menuju ke suatu tempat.

Langkah Dean yang santai dengan wajah dingin belum pernah berubah selama ini mengejutkan temannya Kinan karena kali ini wajah Dean lesu.

"Kali ini pasti masalah lebih serius? Hey tunjukan wajah angkuhmu saat berjalan kawan."

"Mana yang lain?" tanya Dean.

"Belum sampai, kau terlalu buruk untuk gadis semacam Ayra. Kan aku sudah katakan kepadamu agar putuskan hubungan kalian," ucap Kinan.

DEANDRA [ON GOING]Stories to obsess over. Discover now