<<SPESIAL WHEEIN>>
Wheein, itulah nama seorang gadis kecil yang tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya adalah pengusaha yang akan membuat suatu pabrik besar di daerah lahan hutan. Padahal, hutan itu adalah satu-satunya hutan yang tersisa di Kota Chili. Tapi, Ayah dan Ibu Wheein memilih untuk tetap melakukan sesuatu terhadap hutan tersebut agar pabrik yang akan mereka buat akan berjalan lancar.
Suatu hari, Wheein bermimpi tentang hutan yang akan orang tuanya habisi 2 hari kemudian. Dalam mimpinya tersebut, sosok kepala bundar berwarna biru bercampur kehijauan berlari mendekati Wheein sambil menangis. Tak disangka, itu adalah Bumi.
Bumi terus menangis dihadapan Wheein hingga akhirnya kehijauan yang ada ditubuhnya setengah menghilang. Lalu Wheein bertanya, "Bumi, kamu kenapa?"
Bumi pun menjawab, "Paru-paruku musnah. Lihat hijau ditubuhku mulai menghilang sedikit demi sedikit".
"Memangnya apa masalahnya?" tanya Wheein.
"Ini semua ulah manusia termasuk orang tuamu yang akan merusak paru-paruku, padahal paru-paruku sangat berguna untuk manusia dan makhluk hidup lainnya" ucap Bumi dengan sedih dan kecewa.
"Tunggu, maksud paru-parumu adalah hutan?" tanya Wheein sekali lagi.
"Iya," jawab Bumi sambil terus menangis.
"Disana adalah sumber oksigen kalian, aku selalu berusaha menjaga mereka tapi manusia selalu berusaha menghabiskan dengan kotor hutan dan lainnya," lanjut Bumi sambil terus menangis.
Wheein kaget dan terdiam dan seketika mimpi itu menjadi gelap. Tiba-tiba, muncul suara yang tak lain ialah suara Bumi yang sedang berbisik ke telinga Wheein. "Tolong aku dan teman-temanku! Agar aku dan kalian bisa bahagia,"bisik Bumi.
Seketika, Wheein bangun dan bergegas turun kebawah untuk membahas apa yang ia mimpikan. Setelah ia membahasnya kepada mereka, hanya tawa yang diberikan kepada Wheein. Ibunya menasehati Wheein bahwa mimpi itu hanyalah mimpi. Tak ada kalimat mimpi itu memang benar bahwa bumi sedang menangis. Tapi, hati kecil Wheein yakin bahwa Bumi sedang menangis sekarang dan teman-temannya bersiap pergi dari dunianya.
Pada malam kemudian, Wheein bermimpi Bumi membawa banyak hewan. Ia memberitahu Wheein bahwa banyak hewan yang sudah kehilangan tempat tinggal.
Hingga akhirnya, hari dimana proyek tersebut dijalankan. Orang tua Wheein tak membolehkan Wheein untuk ikut. Tapi, Wheein memaksa dan akhirnya orang tua Wheein mau mengajaknya. Sampai dihutan, Wheein cepat-cepat masuk kedalam hutan tersebut mencari beberapa hewan disana.
Hingga akhirnya, Wheein menemukan sebuah tempat ditengah hutan yang sangat indah. Disana terdapat sungai yang jernih dan banyak burung terbang kesana kemari. Tak lama kemudian, beberapa hewan seperti rusa dan tupai pun muncul.
Wheein mendekati mereka, tak ada perlawanan dari mereka ketika Wheein menyentuh kepala salah satu rusa. Mereka malah senang. Melihat perlakuan ini, seketika Wheein menangis dan berkata, "Aku akan berusaha menghentikkan proyek Ibu dan Ayahku".
Wheein pun berlari sekencang mungkin. Ia telah melihat beberapa mobil telah siap akan menghancurkan hutan. Dan disana, tepat Ayah dan Ibu sedang berbincang bersama kepala petugasnya.
Wheein memeluk Ibunya. Sambil menangis ia berteriak kepada Ibu dan Ayah, "Ibu dan Ayah jangan rusak hutan ini! Didalam sana banyak hewan yang tinggal, bagaimana jika kita hancurkan ini? Bumi akan terus menangis!".
Wheein lalu menarik kedua orang tuanya menuju tempat yang ia temukan tadi. Orang tuanya terkagum melihat keindahan tempat tersebut. Hewan-hewan yang dilihat Wheein tadi pun muncul satu per satu.
"Indahnya," ucap Ibu.
"Tapi, aku akan tetap menjalankan proyek ku!" ucap Ayah.
"Ayah, aku mohon jangan habisi hutan," tangis Wheein menahan kaki Ayahnya.
"Aku menyetujui permintaan Wheein, kau harus terima sayang. Lihatlah tempat ini, indah dan sejuk," ucap Ibu.
"Dan juga, hewan-hewan ini akan tinggal dimana nanti jika kita habiskan? Apa yang dikatakan Wheein dari kemarin adalah benar," sambung Ibu.
"Oke proyek ini akan kuberhentikan, dan akan kubuat hutan ini begitu cantik," ucap Ayah dengan tegas. Wheein dengan riang memeluk kedua orang tuanya, "Terima kasih Yah,Bu".
Akhirnya, proyek membangun pabrik itu akhirnya dibatalkan. Ayah dan Ibu lebih memilih menjaga kelestarian hutan tersebut. Dan Wheein sering bermain bersama hewan-hewan disana hingga mereka akrab.
Pada malam berikutnya, Wheein lagi-lagi bermimpi. Bumi berjalan mendekati Wheein dengan senyuman yang lebar sambil berkata, "Lihat! Warna hijauku mulai bermunculan kembali, dan teman-temanku bisa hidup berdampingan kembali," ucap Bumi.
Wheein tersenyum senang mendengar kabar baik tersebut. "Ini berkatmu Wheein, terima kasih dan sampai jumpa!" ucap Bumi. Ia berbalik badan sambil melambaikan tangannya.
"Tolong jaga terus yah!" teriak Bumi.
"Iya, aku janji!" balas Wheein.
"Aku janji Bumi. Aku akan menjaga sekitarku agar tidak ada lagi yang akan membuatmu menangis Bumi. Tersenyumlah terus Bumi!" ucap Wheein bahagia.
- 12 Desember 2018 -
