Sebuah private jet mewah telah bersiap untuk terbang di atas langit Indonesia. Hanya menunggu satu orang penumpang yang sampai 10 menit setelah jam penerbangan berlalu belum juga memunculkan batang hidungnya di bandara.
"Heh prill, VIP ngaret lagi ini. Kita gagal pulang lebih awal deh."
Gritte Agatha.
Teman satu sekolah ke-pramugarian Prilly yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
"Yaudah lah beb, yang penting flight kali ini bonusnya gede. Langsung dari VIP lagi gak pake lewat maskapai. Kan untung juga buat kita."
Prilly tersenyum. Mencoba menguatkan sahabatnya yang sudah telihat sangat kesal. Bahkan make up tebalnya tidak bisa menutupi kerutan-kerutan di dahi Gritte yang ia buat karena ekspresi kesal.
"Kalian berdua! Ayo bersiap! VIP udah datang malah ngobrol aja."
Senior Prilly memerintahkan mereka berdua untuk segera memasuki pesawat. Entah bagaimana VIP itu masuk, tapi eksistensinya tidak tertangkap sama sekali oleh retina Prilly.
Padahal gadis itu terkenal sangat jeli dan teliti di antara Pramugari lainnya.
Tak berselang lama Prilly dan Gritte sudah siap dengan seragam pramugari mereka untuk menyiapkan segala hal yang akan diminta oleh VIP mereka kali ini.
Biasanya VIP yang mereka dapat selalu saja banyak permintaan. Jadi Prilly dan Gritte sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu. Sebelum pergi ke ruang VIP untuk introduction.
Satu hal yang ditangkap Prilly setelah selangkah ia memasuki ruang VIP adalah sosok Ali yang sedang duduk dengan majalah Forbes ditangannya.
Terlihat begitu fokus membaca baris perbaris kata yang sedang membahas Bisnis International. Bahkan seperti tidak akan ada yang bisa menganggu konsentrasinya, walaupun pesawat ini jatuh sekalipun.
"Selamat pagi tuan, perkenalkan saya Prilly Latuconsina. Penanggung jawab pramugari penerbangan hari ini. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat perjalanan anda menyenangkan."
Prilly menundukkan kepalanya. Diikuti Gritte yang juga memperkenalkan diri. Sekaligus pilot dan co-pilot yang akan bertugas.
"Ya baiklah, kalian boleh kembali bekerja."
Ali masih tetap memfokuskan bola matanya kedalam rangkaian-rangkaian kata yang sedang ia baca. Membuat Prilly sedikit berdecak kecil saat ia sudah kembali ke ruangan kusus pramugari.
"Ah sialan! Kita dapet VIP yang kurang pendidikan kayak gini lagi."
Celetuk Prilly sambil membenahi heels yang ia pakai. Benar ia sudah terbiasa menggunakan benda tersebut, tapi tetap saja membuat tumitnya pegal minta ampun.
"Hush! Lo gila ya? Aliando Syarief lo bilang gak berpendidikan?"
Prilly mengangguk.
Masih merasa kesal dengan sikap Ali tadi.
"Oh My God! Prilly Latuconsina, asal lo tau aja. Aliando Syarief, CEO termuda di Indonesia yang membawahi perusahaan multinasional yang masuk 10 besar perusahaan terbesar di Asia! Dia lulusan luar negeri Prilly! Lulusan Summa Cum Laude!"
Gritte menceritakan latar belakang Ali dengan begitu menggebu. Matanya melebar seiring respond sahabatnya yang hanya menganggukan kepala sambil mencebikkan bibir.
"Seriously? Dia segitu pinternya. Kenapa gak bisa menghormati orang lain hah? Percuma kali mau lo lulusan terbaik sedunia kalo sopan santun dan rasa hormat lo gak ada ya, tetep aja nol. Nol besar malah!"
Gritte terdiam. Membenarkan perkataan sahabatnya. Tapi memilih diam juga karena tidak ingin berdebat dengan Prilly. Karena kemungkinan besar dia akan kalah.
"Prilly lo dipanggil sama VIP tuh."
Gritte dan Prilly membulatkan mata seketika.
Yang benar saja. Ia dipanggil VIP, dan hanya dia?
Oh tolonglah, Prilly masih sangat mencintai pekerjaannya.
[To Be Continue]
YOU ARE READING
Airline I'm In Love
Short StoryComplete. "Selamat pagi tuan, perkenalkan saya Prilly Latuconsina. Penanggung jawab pramugari penerbangan hari ini. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat perjalanan anda menyenangkan." Ali tetap memandang majalahnya tanpa menoleh ke arah Pr...
