LANGIT terlihat gelap, segelap kopi yang tengah dinikmati oleh lelaki yang sedang fokus dengan tablet di tangannya. Sesekali ia memandang langit dari jendela Coffee Shop. Cuaca di Bandung memang selalu seperti ini, setiap hari mendung lalu setelahnya akan turun hujan.
Sayangnya, hari ini ia tidak membawa payung seperti biasanya. Ia kira hujan tidak akan turun, karena sejak tadi pagi awan terlihat sangat cerah. Benar kata pepatah, bahwa kita harus sedia payung sebelum hujan.
Beruntung kafe yang didatanginya dekat dengan area Masjid Raya Bandung, setidaknya ia tidak akan kesulitan untuk mengikuti salat Jumat.
Dering ponsel menghentikan aktivitas jari-jari kekarnya yang masih setia di atas tablet melakukan scroll dari atas sampai ke bawah. Ia tersenyum ketika melihat sebuah nama.
"Assalamualaikum Bun," sapanya pada wanita tercintanya.
"Wa'alaikumsalam Za, kamu jadi pulang hari ini?" tanya sang Bunda di seberang telepon.
"Insyaallah jadi Bun, kenapa memangnya?"
"Bunda cuma mau mengingatkan kalau besok kita akan segera menemui keluarga Narendra."
"Loh bukannya masih akhir bulan ya Bun?"
"Akhir bulan Ibu dan Bapak Narendra akan pergi umroh Za, kebetulan juga Sarah ada di rumahnya karena sudah selesai diwisuda."
"Yasudah Bun, Vinza terserah Bunda aja." Lelaki itu memijat tulang hidungnya sebentar untuk menghilangkan penat.
"Makasih sayang, anak Bunda yang paling penurut. Pulangnya hati-hati ya Nak!" Sang bunda mengingatkan. "Kereta kamu jam berapa?"
"Jam tujuh malam Bun," sahutnya cepat.
"Loh nggak ambil yang jam lima saja?" tanya Venny penasaran.
"Nanggung Bun, nanti Vinza nggak bisa salat magrib."
"Oh iya. Yasudah pokoknya kamu hati-hati pulangnya ya!"
"Iya Bunda, Vinza hati-hati."
"Wasallamaualaikum."
"Wa'alaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh."
Sambungan terputus.
Vinza Ramananda pasrah dengan takdir yang sudah ditetapkan untuknya. Ia tahu ridho orangtua termasuk dari ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Vinza percaya bahwa rezeki, jodoh dan maut merupakan hak prerogatif dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Kendati masih ada bagian di sudut hatinya yang masih merasakan keraguan. Vinza meyakini bahwa itu hanyalah sebuah tipu daya setan, ia akan berusaha untuk menghiraukannya.
Vinza juga tidak pernah menyangka kalau pernikahannya akan direncanakan oleh kedua orangtuanya. Selama ini memang ia tidak pernah memikirkan soal pasangan. Hari-harinya selalu dipenuhi dengan pekerjaan dan aktivitas spiritualnya.
Vinza sadar, ia bukanlah sosok lelaki yang amat religius. Vinza ingin belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan mengikuti beberapa pertemuan ukhuwah. Vinza ingin menjadi imam yang soleh bagi istrinya kelak. Intinya Vinza ingin mendalami agama dengan sebenar-benarnya.
"Hei Za, udah lama? Sorry ya tadi aku masih ada urusan pekerjaan," ujar Rishi yang baru datang. Lelaki itu langsung duduk di depan Vinza.
"It's okay Brother, kamu nggak bawa payung?"
"Nggak! Kamu tau sendiri aku paling males kalau harus nenteng-nenteng barang apalagi payung," dumal Rishi seraya mengusap jaketnya yang sedikit basah.
YOU ARE READING
WE ARE BROTHERS
SpiritualA SHORT STORY Apa arti sahabat bagimu? Seorang sahabat tidak hanya ada pada saat kamu sedang bahagia. Seorang sahabat akan selalu berada di sisimu sekalipun kamu pernah melakukan kesalahan. Seandainya di kemudian hari kamu mencari dan menemukannya...
