1. ORANGE.

25 4 14
                                        

WE WILL WE WILL ROCK YOU ROCK YOU!!!

"BERISIIIIIKK!!!"
Dengan separuh jiwa yang masih belum terkumpul Ria meraba-raba kasur guna mencari ponselnya yang menjadi penyebab kebisingan di pagi hari. Dia menemukan ponselnya dan langsung saja mematikan alarm. Sekilas Ria melirik ponselnya, menunjukkan pukul 8 pagi.

"Hoaaam.. baru pukul 8, ya?" kedip-kedip.

"WHAT THE... PUKUL 8?! Demi apapun, ini kan hari petama sekolah!"

Langsung saja Ria terlonjak dengan refleks dari kasur. Membuka lemarinya dengan kasar, mengacak-ngacak pakaian. Sebenarnya dia hanya memerlukan seragam sekolahnya tapi entah mengapa pakaian lain yang tidak bersalah juga kena imbasnya, bahkan bi Inah.

"Bi Inah! Seragam Ria mana nih?!"
Tak tuk tak tuk. Langkah kaki Bi Inah berlari dengan secepat mungkin menuju kamar Ria.

"Ini non" Bi Inah mengambil seragam Ria yang tergantung dibalik pintu bagian dalam dan menyerahkannya kepada Ria, langsung saja disambut dengan cepat oleh Ria.

"Loh. Kok bisa disini sih Bi?" Ria bertanya dengan alis hampir tertaut. Namun tangannya masih sibuk mengganti pakaian tidurnya dengan seragam sekolah.

"Astaghfirullah non! Jangan lepas baju disini" Dengan spontan Bi Inah membalikan tubuhnya.

"Aelah bi. Kamar kamar siapa? Lagian gak sempat kalo gak buru-buru"

"Tapi kan non..." Ucapan Bi Inah terpotong saat Ria menyambar tangan bi Inah dan menyaliminya

"Assalamu'alaikum" Ria mengucapkan salam dengan setengah berteriak dan lari dengan cepat keluar dari kamar

"Wa'alaikumssalam non" Bi Inah mengikuti langkahnya. "Hati-hati non, jangan ngebut, jangan lupa bekal dimakan tadi udah bibi taroh dalem tas, jangan-"

"Jangan bawel" Pekik Ria dari luar rumah.

BRUUUUUMM
Begitulah deru motor yang terdengar, motor siapa lagi kalau bukan milik Si Tomboy Ria. Bi Inah hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan anak dari pemilik rumah mewah yang didiaminya selama kurang lebih 15 tahun itu.

*****
"Haduh. Pasti dihukum nih gue, mana telat gak nawar-nawar lagi, masa gue telat satu jam, kan-"

BRUKKK

Ocehan dari mulut cewek itu pun tertahan, saat dia telah menemukan dirinya sedang terbaring lesu. Ria melihat motornya berada beberapa meter darinya, dan sekumpulan orang-orang yang sangat berisik bagi Ria.

Dia merasakan nyeri yang hebat disekujur tubuhnya. Cairan merah segar mengalir melewati pelipisnya. Kepalanya terasa berat, seolah-olah sedang memopong tangki minyak di atas kepala. Pandangannya memeburam.

*****

"Lukanya cukup parah, jadi saya sarankan dia dirawat inap untuk sementara waktu. Terlebih lagi luka dikepalanya, dia mengalami pendarahan dibagian kepala. Jika gegabah menggerakan kepalanya terlalu sering, mungkin pendarahan itu akan terjadi lagi"

Siapa sih yang ngoceh panjang lebar?

"Iya dok, saya usahakan agar membujuknya. Saya juga akan usahakan supaya pendarahannya tidak terulang lagi" Suara bass seorang pria berhasil direkam oleh indra pendengarannya.

Papa?

Dengan susah payah Ria mengangkat kelopak matanya. Berat sekali. Sekilas dia melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih polos. Kejadian demi kejadian beberapa waktu lalu kembali terlintas dipikirannya. Untuk hal itu, dia tidak perlu bertanya-tanya dan bingung dimana keberadaannya saat ini. Ria menebak dengan yakin bahwa dia sedang berada dirumah sakit. Walaupun ceroboh rupanya Ria cukup pintar untuk main tebak-tebakan.

"Ria, kamu sudah bangun nak?"

"Berisik"

"Ria, gak boleh ngomong gitu sama papa kamu"

Tak ada balasan.

"Kamu gak kangen sama papa?" Andre-papanya Ria-bertanya dengan menampilkan raut wajah sendu dan menunduk dalam dengan senyum yang agak dipaksakan.

"Peduli apa papa sama Ria?"

"Peduli. Peduli banget malah"

"Emang masih jaman ya peduli itu cuma keluar dari mulut bukan dari sikap? Bullshit apalagi ini?" Ria beratanya dengan nada yang ketus.

"Ria!"
Siapa lagi nih? berisik.

"Astogeh! Gue gak nyangka bakalan kek gini, gue gak nyangka bakalan beneran kejadian, gue gak nyangka ternyata itu bener!"

"Apanya yang bakalan kejadian? Apanya yang bener?" Andre bertanya dengan heran kepada Tea-salah satu sahabatnya Ria. Ralat. Satu-satunya sahabat Ria adalah Tea.

"Eh. Engg anu om. Anu.. ini.. itu loh.." Jawab Tea dengan disertai cengirannya.

"Bukan apa-apa. Lagian papa juga gak perlu tau. Gak penting-penting amat" Kali ini Ria yang ikut angkat bicara.
Dasar si Tai. Eh. Tea. Kalo ngomong gak bisa ngerem. Sambung Ria bergumam dalam hati.

Andre menghembuskan napas secara perlahan karena melihat tingkah laku anak semata wayangnya itu. Sebenarnya Andre sudah terbiasa dengan perilaku Ria kepadanya, dia pun memakluminya. Karena Andre adalah seorang workholic sehingga mau tidak mau mewajibkannya sering meninggalkan Ria dirumah bersama bibi Inah. Hal itu sudah lama berlangsung, sejak kecil Ria terbiasa ditinggal sang papa tercintanya bekerja. Sampai disuatu titik Ria sudah muak dengan semua kejadian beruntun yang terjadi dihidupnya.

Saat Ria kelas 7 SMP, Andre menjadi single parent untuk Ria. Mamanya yang selalu menyayanginya, sesosok bidadari tanpa sayap dimata Ria, manusia yang hampir sempurna. Telah sirna.

Monmaap kalo ceritanya gaje. Secara, ini kan cerita pertama saya:>
Liat responnya dulu ya, baru saya kasih nextnya(emang ada yang mau next wind? wkwk)
Follow ig saya ya: @windy.a.m
Kalo mau sih, kalo gak mau juga gak maksa. hehe

UFORIA.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang