Bandung, 01 Januari 2016
"Saya terima nikahnya Nur Cahaya binti Ahmad Husein dengan mas kawin 10 gr emas tunai"
" gimana para saksi? Sah? "
" Sah... " jawab saksi serempak.
Aku langsung melihat kebelakang.
Di situ kamu duduk anggun, di sebelah Bunda mu. Tertunduk. Sesekali kulihat bahumu bergetar. Kau mendongak dan tatapan mata kita bertemu. Kau tersenyum. Indah. Sangat Indah. Sampai aku lupa bahwa kita masih di dunia, aku fikir ini di surga.
---------------
---------- 1 ----------
Jakarta, 23 Desember 2017
Termenung.
Kau tersenyum mengingat momen ijab kabul hampir 2 tahun yang lalu.
"Aku tak menyangka bisa menjadi istri mu Mas. Aku seorang cahaya, gadis sunda yang biasa-biasa saja, yang hanya tamatan S1 di universitas swasta Bandung. Bisa menikah dengan kamu yang tamatan S2 Universitas Indonesia (UI) Depok. Dan sekarang bisa menjadi dosen disana. " kau bergumam sendiri. Lalu kau tertunduk, bersedih sambil mengusap perut mu. "Nak, hadirlah nak, Ibu merinduimu. Ibu ingin kau segera hadir kepangkuan kami" kau terus mengusap-usap perut mu dan terus berdoa di dalam hati.
---------------
" Assalamualaikum Aya.. "
"Wa'alaikumsalamussalam Mas.. " kau membuka pintu lalu menyalamiku.
"Mau makan dulu atau mau mandi dulu Mas? Biar Aya hangatin air. "
" Mas laper Ay. Makan dulu yuk? Kamu masak apa? "
" Aku masak gulai jengkol kesukaan mu Mas. "
"Aduh tau aja kamu kalo Mas lagi ngidam jengkol.. " aku menjawab sambil mengusap manja hidung mancung mu.
---------------
Kau duduk di ujung kasur, menunduk. Sesekali kulihat bahumu bergetar.
"Sayang. Kenapa kamu menangis? Mas ada salah? " Aku bertanya kepadanya dengan hati-hati.
Lalu kau mengusap perut datar mu. Sekarang Aku mengerti apa yang membuatmu menangis.
" Sayang, bersabar lah. Mungkin Allah masih menguji kesabaran kita. Allah masih ingin menguji keimanan kita. Yang penting kita terus berikhtiar dan terus berdoa. Kan tahun lalu kita sudah periksa sama-sama, bahwa kita berdua sehat, ya kan? Hmm?"
" Tapi mas... Aku ingin segera jadi Ibu. Aku sedih ketika sahabat ku Fatma baru setahun menikah tapi sudah punya anak. Kita sudah hampir 2 tahun menikah mas.. " Kau terus merengek manja.
"Dua tahun itu masih sebentar sayang, bersabarlah.. Ya? Jangan nangis lagi ya? "
Aku memeluknya, mengusap punggungnya agar ia tak bersedih lagi. Yang Aya tak tau, bahwa aku pun gelisah. Aku pun sedih lihat teman-teman mengajarku sudah menggendong anak.
Tapi, aku tak boleh menujukkan kesedihanku di depan istriku. Kalau aku sebagai suaminya saja tak bisa menahan kesedihan ini, bagaimana dia sebagai istri ku tak bersedih?.
---------------
Jakarta, 26 Desember 2017
"Mas pergi ya Ay, cuma tiga hari aja kok, gak lama. Kamunya hati-hati ya dirumah. Mas beri izin kalo kamu mau jumpa-jumpa temen di daerah Jakarta ini. Atau kamu mau pulang ke Bandung jumpa Bunda? "
"Gapapa Mas, Aya di rumah kita aja. Aya gapapa kok Mas, Aya paling nanti belanja ke minimarket untuk keperluan bulanan kita. Mas hati-hati di sana. Jangan lupa minum madunya, kalo udah sampai jangan lupa hubungin Aya ya Mas... "
kamu begitu panjang bicara pagi itu, Aku malah gak tega meninggalkanmu selama 3 hari Ay. Aku merasa berbeda untuk pergi kali ni, hati ku merasa was-was meninggalkanmu sendirian di rumah. Tapi, mudah-mudahan ini cuma kekhawatiranku.
"Yaudah, Mas berangkat dulu ke Bali ya Aya. Kalo ada apa-apa hubungin Mas ya, insya Allah kalo sudah sampai Bali, Mas langsung kabarin kamu, Assalamualaikum.. "
"Iya Mas, hati-hati. Wa'alaikumussalam warahmatullah... ".
Sebenarnya, dalam hati Cahaya, dia berat untuk melepas Aditya ke Bali. Tapi, ia tak ingin membuat Aditya khawatir, karena Aditya ke Bali murni karena kerjaan dari Kampus. Harus menghadiri konferensi sesama dosen selama tiga hari disana.
---------------
YOU ARE READING
Penantian
General FictionAdit seorang dosen di Universitas Indonesia Depok. Menyimpan rasa kepada gadis sunda, Cahaya. Akhirnya mereka menikah. Setelah 2 tahun mereka menikah, mereka belum dikaruniai anak. Cahaya sangat sedih akan kondisi mereka saat itu. . . . Sampai pa...
