BAB 1

13 2 0
                                        



Pertemuan kita dengan seseorang memang adalah sebuah pertanda.

Namun sebuah pertemuan yang pertama kalinya tak harus mengandung sebuah tanda bukan?



Nama ku Ratna, aku anak kelas 10 disalah satu SMA di Kab. Semarang. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Aku punya Kakak cowok namanya Andre, anak jurusan arsitektur semester 6. Adik ku masih kelas 3 SD, namanya Ratih.

Di SMA ini, aku bertemu dengan dia. Laki-laki yang bisa membuat perasaan ku campur aduk tak tentu. Dia bisa membuat aku menangis dan tertawa pada detik yang sama. Bisa membuat aku kecewa dengan pengakuannya. Dia juga yang mengajarkanku tentang betapa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Dan dari catatan ini pula kisahku dan dia dimulai.

Namanya Dito, gak ada yang spesial dari namanya. Dia adalah kakak kelasku di SMA, kelas 12 MIPA sedangkan aku anak kelas 10 IPS. First meet kita juga gak kayak cinta pandangan pertama. Dia cuman ngelewatin aku gitu aja peke motornya, gak ada saling sapa, ataupun sekedar senyum. Kenal aja enggak waktu itu. Trus kenapa aku bisa suka sama dia? Tenang, aku bakal cerita dikit-dikit. Semua dimulai saat aku memutuskan untuk gabung sebuah organisasi kemanusiaan di SMA, dari sana aku tau dia itu siapa. Ditengah semester 1 setiap organisasi bakal ngelaksanain semacam LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), organisasi yang aku ikutin juga ngadain, acaranya 3 hari 2 malam. Kita bakal nginep disekolah selama waktu yang ditentukan. Setiap organisasi punya acaranya masing-masing. Karena organisasi yang aku ikutin adalah organisasi kemanusiaan, alhasil LDK yang kita adain gak ada acara buat marah-marah ke adik kelas, atau bikin kita pusing biar mau turutin keinginan mereka. Dan lucky-nya, kakak ku adalah salah satu pembina di acara itu, jadi aku gak terlalu mikirin gimana nasib aku bakalan kalo misalkan bakal diadain stressing nantinya.

Malam itu kita organisasi-organisasi kumpul dibasecamp, buat dengerin panduan acara.

"Buat organisasi PMR, sama Rohis harap baris kebagian kanan. Buat organisasi OSIS, MPK, Paskibra harap baris di bagian kiri " kata pembinanya.

Setelah pengumuman dan pembinaan itu aku langsung aja baris ngikut temen-temen yang lain. Oh ya aku lupa, aku punya sahabat namanya Intan. Anaknya baik, manis, ceria, dan untungnya dia bisa ngimbangin kegilaan ku. Di setiap organisasi bakal ada penanggung jawabnya (PJ Organisasi), mereka yang bertugas kasih laporan tentang perkembangan organisasi ke pembina masing-masing organisasi, kakak ku kebetulan jadi pembina di Organisasi OSIS, jadi dia gak bisa terlalu mengawasi aku, aku sih bersyukur jadi aku bisa lebih leluasa dalam LDK nanti. Bay the way PJ di organisasi aku adalah Dito, nah aku pertama kali ngobrol sama dia juga gegara organisasi kita sama.

"oke, kenalin nama gue Dito, gue kelas 12 MIPA 4, gue adalah penanggung jawab organisasi kita. Ada yang mau ditanyakan sejauh ini? " tanyanya.

Lantas kami-pun menjawab "Siap, tidak kak."

Iapun meneruskan " Oke, gue bakal absen kalian satu-satu, karena bagi anggota yang ada didaftar tapi gak dateng bakal dikasih sebuah hukuman. Kalian ngerti? " kamipun menganggukkan kepala. Setelah itu ia mulai mengabsen nama kami satu persatu.

Awalnya aku tak tertarik padanya, aku hanya berfikir kalau dia tak menawan ataupun tampan. Meskipun dilihat dari rahangnya yang kokoh bak pahatan seorang seniman, alisnya yang tebal, hidung mancung, dan rambutnya yang agak messy karena ia acak-acak dengan tangan, namun tetap aja aku gak tertarik.

" Rat, liat deh Kak Dito ganteng banget gak sih?" Tanya Intan.

" Enggak ih, B aja. Masih gantengngan Kak Andre sama Bani.." kataku

" Ih Bani mulu. Putusin aja ngapa si, cowok kayak dia tu gak guna tau gak, gue sumpahin lo suka sama Kak Dito baru tau lo" jawabnya

" Ogah.." dan jawaban itu bagai boomerang buat ku. Dalam hati aku mengumpat, mulut yang terlalu cepat bicara, dan otak yang tak selaras dengan apa yang aku katakan.

Pagi, Senja, dan MalamStories to obsess over. Discover now