Beautifull part 1 - Panwink

335 50 35
                                    

Guanlin dan segala ketampanannya adalah satu dari sejuta hal yang menjadi alasan Jihoon mencintainya. Ahh tidak, Guanlin terlalu sempurna. Menjadi tampan hanya bonus karena tuhan sedang sangat bahagia ketika menciptakan pria itu.

Jihoon?

Jihoon tidak sempurna. Bukan, bukan karena tubuh berisinya, bukan pula karena sifat kekanakannya. Jihoon tidak sempurna dalam artian sebenarnya, ia seorang tuna daksa, terlahir hanya dengan satu tangan yang dapat berfungsi dan ia tidak dapat berjalan seperti orang normal, kakinya akan terasa lemah jika berjalan terlalu lama. Itu adalah satu dari sekian alasan yang pria manis itu pikirkan tentang seberapa tidak pantasnya Jihoon untuk Guanlin.

Jihoon tengah duduk di tengah ranjang, matanya menatap lurus pada makanan yang ada di atas meja kecil di samping ranjangnya. Guanlin telah berangkat bekerja, pria itu menyiapkan sarapan dan sebuah sticky note biru terang untuk Jihoon.
Jihoon meraih kertas itu dengan tangannya, ahh.. ralat, tangan kirinya.

Cheesecake dan coklat panas untuk Si manis kesayangan. Habiskan sarapanmu baby. Musim dingin hampir tiba, cuaca hari ini tidak baik untuk kesehatanmu, jadi pastikan mengenakan jaket dan selimutmu sayang. Aku akan pulang secepat mungkin. Telpon aku kalau kamu sudah bangun. Aku tidak bisa fokus bekerja kalau belum mendengar suaramu.

I love you so much, my queen.

Jihoon tersenyum tipis, Guanlin memang selalu berhasil membuat hatinya menghangat. Jihoon meraih kotak berwarna coklat terang yang mirip dengan warna rambutnya di kolong tempat tidur, memasukan sticky note biru terang tersebut ke dalam kotak yang sebelumnya telah berisi banyak sticky note berwarna-warni. Ya, Guanlin selalu seperti ini setiap pagi, sederhana namun romantis, dan Jihoon selalu menyimpan goresan tangan Guanlin dalam kotak rahasianya, berjaga-jaga jika suatu saat nanti Ia merindukan Guanlin saat laki-laki itu tersadar bahwa Jihoon tidak sempurna dan berakhir meninggalkannya. Ahh, membayangkannya saja sudah membuat Jihoon merasa sesak.

"Aku lebih mencintaimu, Guanlin." lirih Jihoon, sebelum melahap makanannya dalam diam. Ia tidak ingin menghubungi Guanlin saat ini, ntahlah, Jihoon hanya sedang merasa buruk. Ia sedang teringat perkataan teman dekat Guanlin.

Jihoon berjalan sangat pelan menuju pintu, karena kondisi kakinya. Jihoon sedikit bingung, karena suara bel terus terdengar nyaring dan terkesan tidak sabaran. Siapa yang datang? Kalau Guanlin kenapa tidak langsung masuk saja, ini apartement Guanlin, jadi tentu pria tampan itu bisa masuk dengan leluasa ke dalam apartementnya.

Ceklek..

Pintu terbuka, Jihoon menatap seorang gadis yang terlihat sangat anggun berdiri di depan pintu.

"Ahh ada kau rupanya, Guanlin di rumah?" Gadis itu berkata tanpa menatap Jihoon, matanya menerobos masuk ke balik punggung Jihoon, tepatnya ke dalam apartement.

"Ti..tidak, Guanlin masih di kantor. Mau masuk dulu?" Jihoon melemparkan sebuah senyum tulus.

"Hmm... Guanlin masih di kantor, pantas saja pintunya lama terbuka, pasti kau kesusahan membukakan pintu untukku dengan kakimu" Shuhua, gadis tadi berkata dengan nada hangat dan tersenyum manis, namun Jihoon sadar itu adalah sebuah sindiran.

Senyum Jihoon meluntur, Ia meremas ujung piyama dengan tangan kirinya. Mencoba menguatkan diri sendiri.

"Ahh iya, aku.. kaki ku tid-"

"Aku jadi heran, kenapa Guanlin tidak mencari seseorang yang cantik dan sempurna saja. Maksudku, yah kau tahu, dia tampan, kaya raya, cerdas, dan karakternya sangat mempesona. Dia bisa mendapatkan kekasih yang sepadan untuknya. Aku sedikit kesal dengan anak itu" Shuhua memelankan ucapannya, pada kalimat terakhir. Gadis ini memang tertarik pada Guanlin sejak lama.

Panwink Jinseob OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang