Prolog

24 9 0
                                        

Heloo..dengan @adindashintyadewi disini saya akan menulis dengan judul 'Hapus' series Harris Jung, yang sebelumnya sudah baca judul 'Instan' jangan lupa vote dan koment.

Insya Allah saya disini akan pegang tiga judul yang nantinya akan di publish di akun ini. Sebenarnya saya ingin mencari dua penulis untuk menulis series ini, namun..hasil review yang saya pertimbangkan hanya beberapa jjs yang akan bawa kepercayaan untuk bisa menyelesaikan tulisan mereka dalam tiga bulan mendatang.

Be the way..satu judul itu masih rahasia yah, biar penasaran wkwk.

Cerita lainnya bisa kalian baca di akun wattpadku @adindashintyadewi

                                                              ***

Hapus memiliki kisah yang mengharuskan menutupi kisah indah bersama orang terpenting yang sulit digapai kini harus diberi jarak bahkan menangis pun tak bisa.

Karena..siapapun tahu dia adalah orang yang sangat mustahil menjaga sebuah komitmen bersama kita. Membangun sebuah ikatan persahabatan yang baru terjalin selama dua minggu tidaklah mudah, apalagi untuk komitmen dengan jarak yang begitu jauh.

Terlebih dia akan disibukkan dengan rutinitasnya sebagai penyanyi, tidak bakal ada waktu untuk mengobrol seperti biasanya. Mungkin itu hanya angan menginginkan kehadirannya setiap saat.

Harris Jung, begitulah nama yang sedang saya pertahankan jadi sahabat nyata. Rasanya sesak jika dia akan pergi jauh.

Ah..sudahlah, mungkin mimpi itu harus ditutup dari diksi yang paling digemarinya.

                                                                ***

Tidak banyak yang saya minta, hanya satu ingin jangan buat saya menghilangkan rasa harapan besar itu jadikan kamu sahabat berubah musuh. Saat tahu kamu sibuk dengan rutinitasmu di sana.

Please..mengertilah bahwa mimpi dan puisi yang selalu ku ciptakan menggunakan hati juga perasaan yang sering mendesak dada.

'Mampu kah kamu berada di sini? Saat rutinitasmu menjadi prioritas, mungkin saya tidak beda jauh dari fans-fansmu di luar sana, Ris.'

Terkadang pikiran kalut juga cemas itu menghiasi pikiranku, membuang semua kenangan singkat tentang persahabatan tiga minggu akan lebih mengistirahatkan hati ketika berharap lebih dari kamu, Ris.

Ini sebagai curahan Della saat tahu kepergian sahabat terbaik sekaligus mimpi mustahilnya harus pergi jauh dari Indonesia.

                                         ****

"Kamu adalah halaman yang harus dihilangkan dan dihapus dari diksi."

                                                             ****

"Kenapa kah tulis puisi trus..pikir tidak capek dan siksa kepalamu itu, Del?! Mulai-mulai belajar sudah! Tidak usah pikir dia! Lagian..mana ada kemustahilan itu di raih?! Kamu di sini hanya berhalusinasi." Cerocos Yelisa.

"Apa sih, Sa?! Kalau tidak nyaman lebih baik kamu pasang telinga pakai headset sana!"

"Della..dimana-mana itu tidak ada yang nyata hanya dapat luka saja, lebih baik yah saya sarankan kamu buang-buang tuh puisi untuk orang yang tidak mengenal kita sama sekali." Sarannya.

"Ah..kenapa sih kalau kedatanganmu hanya merusak mood orang saja?! Biar saja kali kalau saya dapat luka, kan bukan kamu yang rasa sakit tapi saya." Della membalas dengan wajah cuek.

Della Alvina Nufus begitulah nama panjangnya, gadis keras kepala yang tidak suka diatur bebas berimajinasi juga menutup telinga jika sudah menyangkut dengan apa itu mimpi besar mencari peluang kesuksesaan.

Yah..siapa yang tidak menginginkan kesuksesaan di usia muda? Saat ini Della masih berstatus anak SMA kelas satu jurusan Bahasa di salah satu sekolah SMA Negeri Satu Sentani. Kerjanya yang tidak lain berimajinasi, makan banyak tapi tidak gemuk, menciptakan puisi dan malas belajar.

Kalau belajar Bahasa Indonesia saja paling jago mengarang.

"Kalau misalkan dia jadi kenyataan bagaimana, Sa?" Ucap Della tiba-tiba.

"Hus..kalau mimpi itu jangan di pagi bolong begini, nanti pulang menangis lagi!"

"Yah kan tidak ada larangan juga kali kalau kita bermimpi dan jadikan itu kenyataan? Selagi kita berusaha kenapa tidak bisa jadi nyata?"

"Terserah deh..yang penting hati senang asal..saya tidak mau jadi ruang curhat 24 jam kalau sewaktu-waktu kamu galau karna dia!"

"SIp..beres itu, saya akan curhat di puisi saja!"

Yelisa hanya menggelengkan kepala, "Sudah..lebih baik kita kerja tugas saja..ini nanti dikumpulkan satu jam mendatang, saya malas kasih contekan! Harus kerja sendiri!" Yelisa mengingatkan.

Karena mereka sedang jam istirahat yang diberikan tugas menumpuk dari Guru Matematika yang harus dikumpulkan sebelum masuk ke pelajaran berikutnya, mereka harus menyelesaikan dan sudah ada di meja beliau.

"Kalau matematika ada rumusnya lewat aplikasi boleh, tidak usah capek-capek seperti ini. Tinggal foto dan dapat jawabannya kan enak." Celetuh Della.

"Makanya..belajar mencintai angka, jangan jago mengarang doang!" Yelisa sambil memukul kepalanya dengan pulpen.

"Sakit! Pikir kepala ini meja apa!"

Yelisa hanya tertawa lalu melanjutkan tugasnya. []

                          ***

Jangan marah pada mimpi karena dia tidak salah apa-apa, ubahlah strategi dalam menjemput mimpi yang terlanjur beranjak dan sibuk dengan rutinitasnya di sana.

Jarak akan bisa ditaklukan, jika usaha dan komitmen terus di jaga, sudah dipastikan..mimpi itu takkan pernah beranjak kedua kalinya.

Terpisah oleh jarak, bukan berarti harus menyudahi persahabatan itu, bukan?

Ini adalah..awal dalam bermimpi besar menemukan tantang luar biasa.

                                                    ****

Readerssss...jangan lupa vote dan koment yah...

Jangan pelit dalam memberikan vote dan koment, karena satu vote juga koment sangat berarti bagi saya, eaks:D

Agar melahirkan cerita Hapus ini lebih menyegarkan dahaga hati kalian saat membacanya:D

Salam sayang,

Adinda Shintya Dewi

Yuk..cus saja ke bab pertama..

Selamat membaca cerita ini readerss, jangan pelit koment dan vote yah..

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 14, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HapusWhere stories live. Discover now