Pukul 11 pagi tak secerah biasanya, it's pouring outside.
aroma green tea hangat masih menyelimuti suasana sejak 15 menit yang lalu menemani seorang gadis pencinta musik R&B/soul, poem dan film Roman ini.
"Ini sih golden time buat nonton. There's nothing better to do than movie in chilly vibe" ujar siren pada dirinya sendiri.
Menonton film yang sama berkali-kali bukanlah gayanya tapi film ini adalah pengecualian.
Such a good movie yang mampu mengingatkannya untuk bangkit entah seberapa jatuhnya ditinggalkan seseorang yang hidup di cerita 5 tahun yang lalu, masih jelas diingatannya bagaimana Siren mencintai seseorang dearestly untuk pertama kalinya.
~~~
"Minta nomor telepon kamu dong" pinta Siren dengan polosnya, ia bisa melihat muka Kyle memerah sudah keburu salting padahal Siren berpikir kalau itu perlu karna Kyle adalah ketua kelas pada saat it.
Sesampai dirumah,
"Kyle, ini nomor teleponku. -siren" pesannya singkat.
2 menit kemudian,
"met sore" jawab Kyle.
Siren bingung kepayang maksud dari pesan itu maklum siren tidak pernah menemukan kata 'met' sepanjang hidupnya sampai hari itu.
Setelah gagal mencoba memahami maksud tulisan itu, siren menyerah dan langsung bertanya
"maksudnya?"
"Selamat sore" jelas Kyle.
Sontan mulut Sharon membentuk huruf O.
Ok point taken.
Sejak saat itu mereka menjadi dekat dan berkomunikasi setiap hari. Pertama kalinya Sharon berbicara banyak dengan cowok dan mulai tau bagaimana cara kerja orang pacaran saking dekatnya mereka.
Selama satu tahun hubungan mereka tepat seperti kata-kata tadi entah bagaimana Kyle menganggap hubungan mereka tapi Siren hanya menyukai interaksi mereka layaknya sahabat yang dengan nyamannya ia ceritakan segala hal.
Oh Kyle's humor. She loves it.
Sharon kaget bahwa anak-anak seumurannya di lingkungan baru yang ditinggalinya saat itu sudah mengenal kata pacaran.
Teman-temannya bahkan sudah ada yang pacaran sejak bangku SD. Mungkin bukan hal yang lumrah di zaman sekarang tapi it was 2011.
Tampaknya kedekatan mereka sudah sampai ketelinga teman-teman nya.
"Siren, kamu ada apa sama Kyle? Kamu tau kan kalo karin suka sama Kyle?" Tanya Risa, teman sebangku Karin.
"Kenapa? Temen ajaa" Siren tidak bohong. Yahh walaupun sebenarnya sedikit lebih dari itu.
"Karin suka sama Kyle? Yaudah nanti aku Bantu deketin dehh" tambah Siren cari aman.
Sepulang sekolah, Siren langsung menulis pesan sudah seperti rutin bagi Siren dan kyle padahal mereka satu kelas, setiap hari bertemu sepertinya tidak cukup.
Siren membicarakan Karin dan berusaha membangun citra yang baik supaya Kyle tertarik pada karin tapi tak bertahan lama, pembicaraan mereka tidak lagi mengenai Karin.
They're in their own world.
Seiring berjalannya waktu, Siren menyukai Kyle. Dan merasa bahwa Kyle juga memiliki perasaan yang sama.
Bukan tanpa alasan, Kyle meluangkan waktunya untuk chatting dengan Siren sepanjang hari tidak terjadi jika Kyle tidak tertarik pada Siren. Right?
Saat Siren tau kalau Karin mendekati kyle aggressively dan berusaha melakukan hal yang selalu dilakukan Siren dan Kyle, Siren tidak cemburu karna cemburu hanya untuk orang yang sedang tidak percaya diri.
Siren percaya diri. Percaya kalau Kyle hanya menyukainya.
Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa Siren merasa perasaan sukanya pada Kyle salah.
Bukankah Siren harus mendukung Karin? Siren sudah berjanji.
YOU ARE READING
First Heartbreak
Non-Fiction"One of the cruellest things you can do to a person is make them feel like home when to you they're only temporary" Quote tersebut mendeskripsikan dengan baik "first Heartbreak" Patah hati memang tidak menyenangkan tetapi segala sesuatu terjadi karn...
