Teng..teng..teng.. jam berdenting 12 kali menandakan pukul 12. Malam ini Ayah dan Ibu bertengkar lagi dan membuatku tak bisa tidur, bukan hanya itu lagi-lagi mereka membicarakan soal cerai ( pisah ). Linangan air mata yang menetes dibantalku membuat aku tak bisa tidur.
Kini pagi yg tak kuharapkan telah tiba, padahal aku belum tidur sama sekali. Aku bangun dan segera menuju kamar mandi. Kulihat ibu mengemasi bajunya sambil menangis dan langsung memberikan kecupan dan pelukannya padaku.
"Maafkan Ibu yaa nak!" Ibu menangis dipelukanku dan langsung pergi membawa kopernya.
"I..i..i..buuuu... hiks hiks hiks" aku menangis sambil menahan tangan Ibu. Huh adegan ini sudah seperti sinetron sinetron saja.
"Ini untukmu nak.. ibu tau ibu pantas mendapatkannya dan ini untuk kebaikanmu juga" ibu memberiku sebuah kertas yang berisikan alamat rumah seseorang.kurasa ini alamat rumah ibu. Aku benar-benar tak kuasa menahan tangis dan aku tak sempat menahan tangan ibu, ibu sudah pergi menjauh dariku tanpa basa-basi. Kenapa ibu pergi tanpa sembahyang bersamaku dulu, kenapa ibu terburu-buru??....
***
Di gereja,
Ayah dan ibu bertengkar ditempat begini oh, yang benar saja ini privasi. Seorang pendeta melerai mereka"selesaikan urusan kalian dirumah saja... disini banyak orang!"
"MULAI SEKARANG AKU CERAIKAN KAMUUU!!!!!...." aku langsung menangis sejadi-jadinya. Semua orang terkaget dan mulai menenangkanku. Kenapa semuanya terjadi dihari minggu begini? Padahal biasanya aku ayah dan ibu kegereja bersama-sama, dan setelah itu kami makan direstaurant terdekat, tapi tidak untuk minggu kali ini.
Dimana ayah dan ibu yang kusayangi telah berpisah untuk selama-lamanya. Dimana tak akan ada lagi jalan-jalan bersama dan tak akan ada lagi kasih sayang yang lengkap untuk kurasakan.
"Alexa! Kini adalah hakmu untuk memilih.. kau ingin tinggal dengan siapa??..." kata pendeta.
"AYAH DAN IBU JAHATTT...!!! AKU AKAN PULANG KERUMAH NENEK..!!" Aku mengucapkannya tanpa menoleh pada mereka. Aku langsung pergi, lari menuju rumah nenek yang tak jauh dari taman kota yang berada diluar gang gereja.
"Nek!, aku main!" Aku memasuki rumah nenek dan melihat nenek sedang duduk dikursi goyangnya.
"Ada apalagi kok kamu sedih gitu kayak habis nangis aja?" Tanya nenek seraya memegang daguku.
Kuceritakan semuanya dengan runtut sambil menangis dipangkuan nenek. Nenek membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.
"Nek, apakah aku boleh tinggal bersamamu mulai sekarang? Aku tak ingin melihat mereka seumur hidupku, mereka berdua tak tahu bagaimana perasaanku saat ini, AKU BENCI MEREKA BERDUA!!!..." aku bangkit sambil merobek-robek kertas berisikan alamat dari ibu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan Three Hijabers (in revisi)
PetualanganHidupku bagai sederetan mimpi buruk. Tetapi tidak setelah 2 sahabatku menemaniku dalam kesepian dan kisah hidupku. Petualangan yang tak terduga menghampiriku dikala aku lulus SMA. Jangan lupa vote like and komen
