wall and hope

6 1 0
                                        

Aku hidup di kota yang gelap, sinar matahari tidak masuk kesini. Alasannya bukan karena apapun, hanya karena disini banyak berdiri pabrik-pabrik. Asap dari pabrik-pabrik menutupi langit, sehingga terjadi banyak polusi. Disini juga berdiri tembok yang mengelilingi kota ini. Orang-orang bilang dibalik tembok itu udaranya lebih besar, karena tembok itu adalah tembok pembatas antara kota tempatku tinggal dengan pedesaan sebelah. Kalau dilihat secara finansial dan ekonomi. Orang-orang yang tinggal di kotaku ini kebanyakan memang orang kaya, sedangkan orang-orang yang hidup di pedesaan balik tembok itu hanya orang-orang biasa yang sederhana. Namun bila dilihat dari tingkat kebahagiaan kupikir orang-orang yang tinggal di pedesaan itu lebih bahagia ketimbang disini. Orang-orang disini cenderung hanya memikirkan diri mereka masing-masing masing, orang yang tertindas akan tetap tertindas, sehingga tingkat kriminalitas disini cukup tinggi.

Suatu hari, saat aku sedang berjalan-jalan di tengah kota, aku melihat seorang gadis yang sedang berteduh di bawah bangunan karena hujan sangat deras. Aku hampiri gadis itu, kulihat kulitnya yang putih, dan wajahnya yang terlihat segar, berbeda dengan orang-orang lain.

"Permisi, apa ada yang kamu tunggu disini?"

"Ah, tidak, aku hanya sedang menunggu hujan reda."

"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, wajahmu juga berbeda dengan orang-orang di kota ini. Darimana kamu berasal?"

"Aku berasal dari balik tembok ini." Dia menunjuk tembok yang tepat berada di depan kita.

"Aku kemari untuk menjual beberapa hasil kebun kami, siapa tau di perkotaan ini ada yang membutuhkan."

"Kamu sungguh-sungguh datang dari balik tembok itu?"

"Tentu saja aku bersungguh-sungguh, apa wajahku menunjukan kalau aku berbohong?"

Aku dan dia pun terdiam sejenak. Hujan tak kunjung reda, aku tau sekarang musim hujan, dan di kota ini hujan turun lebih lama ketimbang kota atau tempat-tempat lain. Meskipun begitu hujan itu tetap tidak dapat menghilangkan asap polusi tersebut, selama pabrik-pabrik itu masih berjalan. Kulihat langit yang mendung, lalu kulihat jam saku yang kubawa. Waktu menunjukan jam lima sore, hujan sepertinya tidak akan berhenti hingga malam, mungkin lebih baik kalau dia menggunakan payungku, hari juga mulai gelap.

"Maaf, aku boleh tanya sesuatu?"

"Boleh, apa itu?"

"Rumahmu jauh dari tembok ini?"

"Lumayan..."

"Hujan sepertinya tidak akan berhenti hingga malam tiba, kusarankan kamu pakai payung ku saja untuk pulang."

"Lalu kamu bagaimana?"

"Rumahku ada di dekat sini jadi tidak masalah. Ditambah disini tingkat kejahatannya meningkat saat malam hari."

"Baiklah kalau begitu."

"Kalau begitu biar kuantar sampai gerbang."

Kami pun berjalan bersama di bawah payungku, berlindung dari hujan menuju gerbang pembatas antar daerah. Kami meminta izin untuk membukakan gerbangnya. Setelah gerbangnya terbuka, ini pertama kalinya walaupun hanya samar-samar, aku melihat banyak sekali pepohonan yang tumbuh, jalan di depan sana juga terlihat begitu bersih. Berbeda dengan disini. Setelah itu ia berpamitan kepadaku dan berterimakasih. Gerbangpun ditutup kembali oleh penjaga. Aku mencoba bertanya kepada penjaga.

"Di balik tembok ini apa benar ada pedesaan?"

"Iya. Kamu belum pernah kesana ya?"

"Belum, sama sekali."

"Sayang sekali ya... Sekali-kali cobalah pergi kesana."

"Paman sendiri apa pernah kesana?"

"Aku? Aku tentu saja pernah, tapi untuk pergi ke seberang harus punya alasan tertentu. Kita tidak bisa bebas menyebrang begitu saja."

"Misalnya?"

"Ya... seperti gadis yang kau temui tadi, dia kemari untuk membawa sayuran dan lain-lain untuk diperjual belikan. Alasan seperti itu juga boleh."

"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas informasinya paman."

"Ya sama-sama. Tunggu. Kamu tadi meminjamkan payung mu ke dia kan?"

"Iya."

"Ini pakai saja payungku, aku hari ini jaga sampai pagi jadi tidak masalah."

"Terimakasih."

Aku pun pulang dengan menggunakan payung milik paman penjaga gerbang tersebut, sungguh tidak bisa kupercaya. Diseberang sana ada tempat yang masih segar dan tumbuhan dapat tumbuh segar disana. Kupikir itu semua hanya cerita belaka. Aku pun berjalan di bawah hujan yang deras. Suara langkah kakiku tak terdengar karena suara hujan yang deras. Dari rumah rumah warga sudah mulai banyak lampu dan tungku perapian yang menyala. Hari mulai gelap. Malam pun tiba. Matahari yang tidak pernah terlihat wujud jelasnya mulai terbenam, dan digantikan dengan bulan yang sama seperti matahari. Tidak dapat terjangkau cahayanya dari kota ini. Selama pabrik-pabrik ini masih berjalan. Kota ini selamanya akan tetap gelap. Saat itulah aku mulai memikirkan bagaimana caranya membuat kota ini menjadi terang lagi. 

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 23, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

WHENYOUWISHStories to obsess over. Discover now