Secangkir teh panas menemani Hwanim di pagi hari. Langit yang sering ia liat tampak sama seperti sebelumnya. Langit cerah dan awan yang indah selalu menjadi saksi akan perjuangan Hwanim. Ia selalu berjanji kepada langit biru dipagi hari bahwa ia kan mewujudkan cita citanya. Gagal dan lelah sudah menjadi tangga bagi dirinya. Matahari telah menyinari balkon kamarnya, itu saatnya bagi Hwanim untuk pergi ke tempat latihan.
Sedikit cerita, Hwanim ialah seorang guru dance ditempat kerjanya. Setiap hari selain selasa dan sabtu ia mengajar sampai malam, dengan extra Hwanim mengajar remaja pada waktu malam dan pagi hari dengan mengajar anak sd menari. Ia hanya punya waktu dua hari untuk beristirahat, tapi ia pakai waktu itu untuk mengajar anak2 bernyanyi di tanam kanak kanak. Ia tinggal seorang diri, orang tuanya menetap di negara tetangga karena keterkaitan dengan pekerjaan. Sudah tiga tahun mereka tak kunjung pulang. Terpaksa Hwanim tinggal sendiri meski kebutuhannya tercukupi.
Hwanim telah sampai ditempat latihan. Ia lihat anak2 telah menunggunya.
" Eonii!!" Ucap salah seorang anak.
" Annyeong ! Mian aku datang terlambat." Ucap Hwanim. " Baiklah ayo kiya mulai saja. Tapi sebelum itu, ada yang tidak hadir di kelas ini?" Lanjut Nana.
" hyalin tidak datang Eoni."
" Ahh.. tidak seperti biasanya ia tidak datang ..
" Apakah Eoni khwatir? Kalau begitu hubungi saja ibu nya." Kata Somi anak didik Hwanim.
" aku akan menghubunginya nanti setelah kelas selesai. Baik semuanya, ayo masuk barisan masing2 kita akan mulai pemanasan." Ucap Hwanim.
Satu jam mereka berlatih dan Hwanim mengakhiri kelasnya dan mengucapkan selamat tinggal. Hwanim pergi ketoilet untuk membersihkan diri dari keringat. Ini baru saja satu kelas, masih ada beberapa kelas yang harus lewati. Belum lagi ia juga harus berlatih dance dan vokal untuk mengikuti audisi di beberapa agensi. Iya, Hwanim bercita cita menjadi idol yang terkenal diseluruh dunia. Sudah beberapa kali ia mengikuti kompentisi tapi alhasil tidak memuaskan. Dan ia berpikir dari pada ia tidak dapat nilai yang memuaskan dalam dirinya, ia memanfaatkan keahliannya untuk mengajari anak2 menari, tapi tetap saja ia bersikeras menjadi idol.
💜💜💜💜
Hari demi hari telah Hwanim lalui. Tak bosan bosanya ia belajar. Sampai akhirnya, kelas terakhir yang ia ajar telah selesai.
" Trimakasih semuanya atas kerja samanya!" Ucap nya membukukan setengah badan.
" sama sama Eoni! Jawab remaja serentak.
" hubungi aku jika kalian telah sampai rumah!"
" baik Eoni. Kami pulang. Selamat tinggal!"
" sampai jumpa! " ucap Hwanim.
Hwanim memutuskan beristitahat sebelum melanjutkan latihannya. Ia mengambil air dari dalam tasnya dan meminumnya sampai habis.
" Sudah kuduga kau masih disini!!" Ucap seseorang di balik pintu dengan tergesa gesa sambil mengatur nafasnya.
" Kau kenapa Jeahyuk- ah? Mengapa kau kesini?" Tanya Hwanim bingung.
" Aku menemukan buku di halte bis. Kukira itu bukan bukumu, tapi setelah ku lihat dari dekat dan aku yakin ini bukumu." Ucap JeaHyuk berjalan menuju Hwanim yang tengah duduk.
" Bagaimana kau menemukannya?" Tanya Hwanim.
" Aku tidak ingin mengulanginya dua kali."
" haha baiklah. Trimakasih dokter!"
" jangan panggil aku dokter. Kita ini teman bodoh!"
" adakah alasan mengapa kau bisa ke sini? Bukannya tempat kerjamu sangat jauh dari sini?" Tanya Hwanim
" tadinya aku hanya akan mengunjungi rumah kakak iparku saja, tapi karena buku ini, aku jadi lupa untuk pergi kesana." Jelas Jaehyuk.
" kau selalu memikirkan ku Jaejae-ah!"
" Enak saja! Aku kesini hanya peduli terhadap buku kesayanganmu itu!"
" aku tau itu. Lebih baik kau pulang saja ini sudah malam. Selamat tinggal Lee Jaehyuk-ssi!" Ucap Hwanim pergi meninggalkan Jeaehyuk sendirian.
" ehh kau mau pergi kemana nona Kim? Kau marah padaku? Ayolah aku hanya bercanda!" Teriakan Jaejae tak didengar oleh Hwanim.
kemudian setelah berapa lama Jaejae pun pergi.
Ia tau sahabatnya itu suka sekali bercanda. Tapi pada situasi seperti ini candaan tidak pas untuk perasaannya. Pasalnya Hwanim begitu lelah seharian menari, belum lagi ia berlatih untuk kepentingan pribadi.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan telah masuk. Setelah dia lihat, itu dari Jaejae, ia semakin malas untuk membacanya. Ia mematikan ponsel lalu melanjutkan berlatih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Magic SUN
RomanceSeperti matahari yang selalu menyinari di pagi hari. Dia bukan hujan yang tidak tahu kapan ia akan datang. - HwaNim Wanita. Bagaimanapun cara kita memandangnya, tetaplah ia salah satu orang yang spesial...
