Malam kian larut
Cangkir tehnya pun mulai tandas
Ia bangkit untuk mengisi cangkir tehnya kembali
Bisa dipastikan malam ini ia akan berlarut lagi dengan sepi
Orang-orang selalu menasehatinya tentang bahaya tidur larut tapi mereka tidak tahu bagaimana ia berusaha untuk larut sebagaimana mestinya
Persetan! Mereka memang tak pernah ingin tahu
Malam ini ia bertemankan sepi dan kerlip bintang dilangit
Lewat gorden jendelanya yang terbuka ia bisa melihat betapa damai malam disaat tidak disibukkan dengan dunia
Terkadang ia mensyukuri nikmat malam sepi yang ia lewati
Suara detik jam mulai jelas terdengar
Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. lalu detik pun berganti dengan menit
Sudah berapa puluh menit ia lewati tanpa beranjak dari tempatnya
Sekarang jam sudah menunjukkan angka akan munculnya fajar
Lagi dan lagi
Ia masih saja belum bisa terlelap
YOU ARE READING
Frekuensi
Teen FictionMenetaplah karena kau peduli, jangan menetap hanya karena kau kasihan.
