Bismillah
Senja sore ini benar-benar indah, matahari tak lagi malu memperlihatkan aura emas memukaunya. Ditambah dengan semilir angin yang sedikit menggerakkan rambutku, memaksanya untuk menari-nari. Pori-pori ku menyerap aura positif yang dibawa angin sejuk ini. Benar-benar senja yang nikmat.
"Mba... Yang bener bawa motornya!" Tepuknya ke bahuku.
"Eh, maaf Mas." Aku segera menggerakan setir 'carry' kembali melaju ke pinggir jalan.
Keindahan senja ini benar-benar membiusku.
Huft, aku merasa lega, untuk saja jalan sedang sepi kalau tidak... Kalian pasti bisa menebaknya sendiri.
Aku segera menaikkan kecepatan carry, mengingat pesan yang penumpangku katakan sebelumnya dan juga karena jalan sedang berbaik hati padaku menyerahkan sebagian besar miliknya untukku.
Terimakasih 'jini', kau memang sahabat carry yang baik.
Tepukan tangannya kembali kurasakan lagi. "Eh, Mba... Kau mau kemana?" Sepanjang perjalanan dia sudah menepuk pundakku dua kali, aku ga suka.
"Mas gimana sih ? Ya mau nganterin Mas ke tujuan Mas laah..."
"Udah Mba.." Dahiku berkerut. "Maksudnya ?"
"Sudah terlewat dibelakang."
Sssssttttt Aku segara menarik rem, membuat penumpang dibelakangku sedikir terperosok kedepan. Oke, untuk yang ketiga kalinya, dan sekarang tidak hanya satu, kedua tangannya memegang pundakku dan langsung melepaskannya ketika keseimbangan Carry kembali.
Aku memutar balik Carry, "Kenapa Mas ga bilang ?" Kataku sambil melajukan Carry dengan kecepatan dua puluh.
"Harusnya Mba udah tahu dong." Selesai. Sepertinya jika pembicaraan ini dilanjutkan tak akan berjalan baik.
"Stop Mba." Aku mengerim Carry, kali ini tak mendadak.
"Kalau ga bisa jadi tukang ojek, ga usah jadi tukang ojek."
Namanya juga masih belajar, Mas.
"Masalah dan kesenangan pribadi jangan dibawa-bawa pas kerja, fokuskan ke arah tujuan, utamakan kepuasan pelanggan."
Dia berusaha membuka kunci helem, "Ini Mba." Ulurnya padaku.
Senyum tipis, "Terimakasih Mas, untuk kedepannya akan kupertimbangkan saran Mas."
"Ga usah dipertimbangkan lagi, itu saran baik, tinggal dilaksanakan aja." Ketus.
Aku ga punya masalah sama Mas sebelumnya kan?
Senyum lebar, "Iya Mas."
Dia berbalik badan, melangkahkan kakinya kesebuah rumah berpagar hitam. Tepat berada didepan Carry berhenti.
Aku pengepalkan tanganku, menggerakannya ke atas dan segera mengganti mimik mukaku yang sebelumnya tersenyum.
Jika saja ini bukan karena uang, sudah ku tatap tajam dirinya.
Eh, uang?
"Mas!" Teriakku. Dia memalingkan wajahnya menatapku dari sudut matanya. Tangannya sudah memegang pagar, bersiap membukanya namun terhenti mendengar panggilanku.
Kikuk, banyak orang yang melihatku seperti itu dan aku berani-berani saja menatapnya balik. Namun ini ? Entah karena memang pandangannya lebih menusuk atau karena ia pelanggan pertamaku jadi aku harus bersikap ramah padanya.
"Bayarnya ?" Kataku ragu-ragu.
Masih dalam posisi yang sama, "Berapa ?"
"Dua puluh saja, Mas." Dia merogoh kantung celananya, sesaat selembar uang berwarna hijau itu keluar dari kantongnya.
YOU ARE READING
Kisah 2Ki
Spiritual"Tidak semua bisa disinopsiskan," Nara mulai menjelaskan. "Tidak semua bisa dijelaskan dengan sedikit untaian kata. Ada saat nya kau memang harus membacanya secara menyeluruh baru kau paham apa maksudnya itu." °°°°° Salam...
