#1 unsent words.

57 2 0
                                        


Matahari sedang teriknya siang itu, tiba-tiba kamu menelfon. Dahiku berkerut, ada apa? Tidak biasanya kamu menelfon kalau lagi sama dia, pacar baru yang biasa menemani hari-harimu beberapa bulan terakhir, dan tentu sudah menggantikan posisiku. Aku mendengarmu berkata halo dari seberang sana. Tanpa sadar, aku tersenyum saat mendengar suaramu. Aku lalu menjawab hai. Tidak tau mau bilang apa. Seakan kamu mengerti kecanggunganku, dengan mudahnya kamu mencairkan suasana menjadi hangat. aku selalu menyukai caramu. Kamu menceritakan aktivitasmu selama aku tidak bersamamu. Katamu, kamu tidak suka melakukan sesuatu tanpaku. Membosankan. Kamu kangen. Dengan bodohnya aku percaya semua kalimatmu. I trust you, too much. Sampai aku lupa, bahwa siapapun bisa bohong.
Satu jam, lebih. Kamu tiba-tiba bertanya.
"Aku boleh nanya gak?"
"Tumben izin dulu haha. Boleh kok, asalkan pertanyaanmu gak aneh-aneh dan punya jawaban." balasku.
Aku boleh gak berharap, kamu yang jadi jodohku?" honeslty, aku gak tau mau jawab apa. Mulutku cuma mampu jawab nggak salah. Dengan percaya dirinya kamu berharap aku dan kamu akan bersama, di masa depan nanti. Aku tidak menggubris, karena aku sibuk dengan pikiranku. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu sedangkan kamu memacari perempuan lain? Tepat pukul 3 siang, kamu mengakhiri panggilan. Katamu ada urusan. Ahh paling kamu akan bersama pacarmu lagi. Aku iya-kan saja. Terserah kamu mau ngapain, bukan urusanku lagi, batinku. Karena aku bukan siapa-siapa yang berarti untukmu lagi.
Aku ingin bilang, kalau aku harus pergi jauh dari hidupmu. Aku ingin bilang, kalau aku lelah menjadi pilihan keduamu, bahkan mungkin pilihan terakhir saat kamu sedang lelah dilanda pilu. Aku ingin bilang, kalau aku ingin lepas dari semua kenangan diantara aku dan kamu. Tapi kerongkonganku tiba-tiba kering, lidahku kelu, dan bibirku jadi bisu. Aku ingin, tapi kenapa aku tidak bisa?.

MindWhere stories live. Discover now