Elbert Toninsen memandangi setiap sudut kota jakarta. "Kota Jakarta terlihat indah dari atas sini," kata Elbert. Saat ini Elbert sedang duduk santai di samping emas yang berada di ujung monas. Suasana malam yang dingin membuat seluruh tubuh Elbert menjadi menggigil. Elbert mengeluarkan sebungkus rokok yang ada pada kantong kemejanya, dan mengambil sebatang rokok serta membakarnya. "Sebatang rokok ini dapat menghangatkan tubuhku."
Angin perlahan menghembuskan rambutnya yang panjang, dan sedikit menggoyangkan kemejanya. "Sayang sekali di kota yang indah ini terdapat seorang werewolf," kata Elbert sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan tidak percaya dengan kenyataan yang telah terjadi. Werewolf adalah sebutan untuk manusia yang dikutuk menjadi serigala, dan mereka dapat berubah menjadi serigala pada saat bulan purnama. Pada malam hari mereka selalu memburu manusia, mencabik-cabik tubuhnya dan memakanya. Disetiap malam pasti selalu ada korban yang meninggal dibunuh oleh werewolf.
"Kasihan sekali manusia bodoh ini, mereka tidak mengetahui bahwa sang predator hidup berdampingan dengan mereka," kata Elbert sambil menghembuskan asap dari mulutnya. Pandangan Elbert terlihat seperti seorang yang prihatin dengan kehidupan yang terjadi sekarang. Elbert membuang putung rokok yang ada di tangannya dan berusaha untuk berdiri, dia lalu membersihkan debu yang ada di pahanya dengan cara menepuk-nepuk dengan tangannya.
Elbert lalu memandangi langit malam yang gelap karena diselimuti awan. Bulan tidak muncul karena awan menyelimutinya sehingga sang rembulan tidak dapat menerangi gelapnya kota jakarta. "Dunia ini memang sudah berubah."
Setelah beberepa menit, cahaya terang mulai menyinari di setiap sudut kota Jakarta. Cahayanya yang terang menyinari seluruh tubuh Elbert. Dia lalu menoleh kearah cahaya itu. Awan mulai bergerak sedikit demi sedikit menjahui sang rembulan. Sang rembulan akhirnya terlihat jelas dengan sinarnya yang terang.
Mata Elbert melihat langsung bulan purnama yang bersinar dia atas kepalanya. Elbert lalu tersenyum dengan sangat senangnya. Tubuhnya lalu bergetar sangat kuat, dan pupil mata Elbert merubah secara perlahan menjadi garis lurus yang berada di tengah matanya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan bulu yang semakin lama semakin tebal. Kuku dan giginya mulai memanjang dan meruncing. Elbert menggerang sangat kencang untuk menahan rasa sakitnya. Elbert sempat ingin terjatuh, namun dapat di tahan dengan tangannya.
Setelah kejadian yang menimpa Elbert, tatapannya berubah menjadi dingin dan seluruh tubuhnya di selimuti oleh bulu tebal. Kupingnya berubah menjadi besar, serta gigi dan kukunya berubah menjadi tajam. Elbert menggeram seperti hewan buas yang ingin memangsa mangsanya. Elbert melolong panjang di pucak monas dan ditemani sang rembulan yang bersinar terang di langit kota Jakarta. "Saatnya aku berburu sekarang."
YOU ARE READING
Werewolf_The Phoenix of Tears
FantasyMike Goulin dan sahabatnya Lisa Morlin dan Tomy Quise mengetahui bahwa tersimpan sebuah air mata Phoenix di dalam sekolahnya. Mereka mencoba menghentikan Werewolf mendapatkannya. Jika air mata Phoenix jatuh ketangan para Werewolf maka itu adalah akh...
