Aku masih terisak, tapi kali ini ayah membawa ku kesebuah kedai mie Aceh yang berada sedikit jauh dari rumahku. Malam mulai menyelimuti bumi. Bintang gemintang tampak indah bersinar di balik ayu nya dedaunan kelapa yang menjulang tinggi. Ayah membawa ku dengan motor Honda Astrea nya. Aku duduk di depan. Mataku masih sembab, gigiku masih sakit, tapi bersama ayah, yang ada hanyalah rasa bahagia.
Motor Astrea berhenti tepat di depan kedai mie Aceh. Ayah memesan mie tumis daging kesukaan ku kepada penjual. Aku menunggu di motor. Tak lama ayah datang dan menggendong ku mengitari kedai-kedai yang berada dekat dengan jalan lintas. Walaupun gigiku masih sakit, aku tetap meminta ayah membeli kan "nyam nyam" untuk ku. Ayah, bukan penolak handal atas permintaan anak-anaknya. Ia ahli dalam membuat anak-anaknya bahagia. Semua bangga memiliki nya.
Mie telah selesai, ntah berapa bungkus yang ayah pesan. Yang jelas, itu tugas ibu untuk membagikan kepada kakak dan Abang. Kali ini, aku tak mau tau. Aku mau porsi terbanyak diantara mereka. Melihat tingkah ku yang keras kepala, ayah hanya tersenyum dan aku mendapat kan porsi terbanyak, sedang kan kakak dan abangku harus bersabar atas tingkah adik kecilnya yang menyebalkan. Aku suka senyum ayah. Tak pernah menggambarkan gurat lelah di wajah. Aku juga suka menyambut ayah sepulang kerja, sambil menodong "nyamnyam" titipan ku. Jika ayah lupa, aku marah dan mengunci diriku di kamar, lalu menangis sebentar. Nanti nya, pasti akan ayah ajak keluar untuk jalan-jalan. Aku rindu ayah, apa ayah rindu dengan ku?
STAI LEGGENDO
Sebuah Catatan untuk Dilupakan
CasualeHanya berisi catatan curahan hati ketika sedang sendiri
