Mentari pagi menyusup melalui celah di lorong kamar kecil itu, seorang wanita muda dengan wajah pucatnya meringkuk terlelap, tanda lelah menghujam tubuhnya. Ia menggeliat dan tanpa sengaja menyenggol jam waker di pinggir ranjangnya, membuat suara gaduh yang mengagetkan.
" praaaank...."
Wanita itu seketika terbangun, ia menyadari benda yang jatuh itu dan dengan malas mengambilnya.
" Astagaaa" pekiknya. Ia langsung terlonjak saat menatap arah jarum jam yang sekarang berada di tangannya. Jam menunjukkan pukul 8.00 dan hari ini ada pertemuan penting yang harus ia lakukan. Entah mengapa alarm jam sialnya itu tak bergeming, membuatnya harus terlelap lebih lama.
Hari sebelumnya Laura merasakan lelah yang sangat dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bangun lebih awal sehingga ia bisa menyiapkan beberapa pakaian yang bisa digunakannya hari ini.
Ia menatap ke sekeliling kamarnya, flatnya masih berantakan. Koper dan beberapa kardus barang masih teronggok dibeberapa tempat. Ia baru saja pindah ke flat barunya hari kemarin, hanya sedikit barang yang selesai dirapikan. Selebihnya tak tersentuh sama sekali.
" Oh God" celetuknya frustasi. Ia membongkar salah satu koper pakaian dan menemukan pakaiannya dalam kondisi tidak layak, tidak rapi sama sekali karena ia memasukkan semua pakaiannya secara sembarangan.
Ia semakin frustasi, dibongkarnya semua koper secara membabi buta, isi didalamnya dibiarkan tercecer begitu saja.
Tiba-tiba saja nada dering ponselnya mengalun indah, dia mulai mengumpat lagi. " Siaaal" pekiknya. Diambilnya ponsel itu segera dan memandang sekilas nama yang muncul di layar.
" Ya Bastian..." jawabnya tergesa, perasaan khawatir menyelimuti pikirannya. Manajer PH sanggarnya menelpon. Entah apa yang akan terjadi setelah keteledorannya hari ini.
Seseorang mengambil alih telepon Bastian. "Kau dimana Laura?? kita hampir sampai di tempat meeting " Nada Suara ditelepon meninggi karena kesal.
" Maaf Corry, aku segera menyusul" Laura menutup telepon itu. Dengan susah payah ditariknya sebuah celana jins biru yang sudah memudar dari salah satu koper miliknya.
Ia bergegas ke kamar mandi, membasuh wajahnya sekenanya dan menggosok gigi.
Laura tergolong cantik diantara kebanyakan wanita, wajahnya sempurna dengan hidung kecil yang menawan. Bibirnya merah walaupun tanpa lipstick. Tubuhnya ramping yang terbentuk indah karena ia seorang penari. Tampilan Laura tetap menawan walaupun ia belum mandi pagi ini.
Dengan tergesa Laura mengenakan celana jins usang penemuannya dan mencomot begitu saja kemeja yang tergantung dari kemarin di balik pintunya. Hanya itu pakaian yang dianggapnya memungkinkan untuk digunakan saat ini. Disemprotnya minyak wangi di tubuhnya untuk menutupi persaaan tidak enaknya karena tak sempat mandi.
****
Jalanan kota begitu ramai hari ini, cuaca sangat gerah dan penuh polusi. Sedari awal masuk ke dalam bus ia sudah merasakan hawa-hawa yang tidak mengenakan. Berulang kali Laura melihat jam di tangannya gusar. Terbayang kekacauan yang akan dibuatnya karena ulahnya yang telat datang.
Mata Laura menatap ke luar jendela, tapi pikirannya menerawang ke sesuatu yang lain. Percakapannya dengan sang ibu akhir-akhir ini membuatnya kacau. Ia mengalami insomnia beberapa lama.
Kesedihan kembali tersirat di wajahnya. Tak bisa dipungkiri kondisi sang ayah yang sempat terserang stroke membuatnya tertekan. Laura menghela nafas panjang, ada satu hal yang selalu menghantuinya. Keinginan orang tuanya. Umur Laura tidak muda lagi, 25 tahun. Itu waktu yang cukup untuknya menjalin ikatan pernikahan. Ayah Laura sangat ingin agar Laura segera menikah namun keinginannya untuk menjadi penari professional tak bisa diganggu gugat, hingga akhirnya iapun disini, di kota besar yang penuh hiruk pikuk dunia dengan kemacetan jalanan yang tak bisa dihindari setiap harinya.
Laura mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya dan mulai mengibaskannya ke wajah. AC bus sepertinya tidak berfungsi dengan baik, sama sekali tak menolongnya dari sengatan panas matahari dan aspal yang menguap di atas jalanan.
Roda bus yang mendecit seketika menyentakkan tubuh Laura ke depan, dengan reflek dipegangnya bahu sofa bus di depannya.
"kenapa ini??" teriak salah satu penumpang.
Suasana dalam bus yang panas mendadak gaduh. Dari dalam bus terlihat sebuah mobil sedan mewah teronggok tak berdaya di jalur bus. Beberapa kali sopir bus mengklakson mobil sedan di depannya, tapi mobil itu tak bergeming. Ibu-ibu disebelah Laura mengomel tanpa henti, sepertinya mereka juga buru-buru. Laura kembali melihat jam ditangannya dengan gundah, segera diambil ponselnya dan menghubungi Bastian.
" Maaf Bastian. Bagaimana ini? Jalanan macet. Ada sebuah mobil mogok tepat di jalur bus kami" Laura menjelaskan dengan panik. Laura membayangkan wajah Corry yang marah.
Corry adalah tipe senior yang suka mengintimidasi juniornya, apalagi dengan koneksi yang dimilikinya, dia bisa berbuat apa saja termasuk tidak membiarkan Laura ikut berpartisipasi dalam pertunjukan-pertunjukan penting.
Seseorang di seberang telepon menggerutu marah.
" Kau ini benar-benar Laura, bisa-bisanya kamu telat dalam acara sepenting ini. Kau tau, aku terpaksa ikut kemari karena permintaan bodoh dari perusahaan ini untuk menghadirkan para artis juga" Corry kembali mengambil alih telepon Bastian.
"Maaf Corry" sahut Laura mencoba membuat Corry iba.
Laura memandang keluar jendela sambil masih memegangi ponselnya, benar-benar hari sial untuknya. Walaupun memakai taxi dirinya tetap akan terjebak macet, mengingat jalanan yang sangat ramai. Hanya menggunakan bus Laura bisa tiba tepat waktu karena jalur itu seharusnya memang khusus untuk bus, itupun bila tak ada kejadian menjengkelkan ini.
Laura akan melangkah keluar saat melihat mobil derek mulai menggeser mobil sedan tak tahu malu itu. "Hambatan sebentar lagi hilang" pikirnya menarik napas panjang. Laura kembali duduk di kursinya, mengurungkan niatnya.
Ia menengok lagi ke depan, seorang pria menggunakan jas berjalan menuju bus yang ia tumpangi, beberapa kencing atas kemejanya terlepas. Laura menduga pria itulah pengemudi mobil itu.
Tanpa rasa bersalah pria itu naik ke atas bus.
Laura merasa kesal dibuatnya. Kalau pertemuan pentingnya kali ini gagal, maka salah satu penyebabnya adalah pria itu, ya walaupun sebenarnya karena kesalahannya sendiri juga. Laura memalingkan wajahnya ke jendela, kedua alisnya mengkerut khawatir, dia tak menyadari ada seseorang yang diam-diam terpaku memandang ke arahnya.
Perlahan pria itu berjalan ke arah Laura dan duduk disebelahnya dengan gaduh hingga membuat Laura terkejut.
" buru-buru?" Tanya pria itu sambil membenahi posisi duduknya. Laura masih dapat mendengar bisikan kesal ibu-ibu dibelakang tempat duduknya. Aroma maskulin yang mahal merebak seiring gerakan pria itu, Laura hanya menoleh sesaat dan mengangguk kesal.
" maaf sekali nona, kejadian tadi tidak terduga" ia menjelaskan tanpa diminta.
Laura tidak ingin menggubris tapi ia ingat kejadian tadi dan membuatnya menggerutu pelan.
" bukankah jelas masuk jalur bus itu dilarang?" Laura berbisik kesal pada dirinya sendiri.
Pria itu terkekeh, " Oh benar, tapi saya sedang buru-buru. Bukan saya saja yang melakukan hal itu" Pria itu berusaha mencari pembenaran, tapi nada suaranya terkesan tidak merasa bersalah.
Ponsel Laura kembali mengalunkan nada deringnya, dilihatnya nama yang tertera di layar. Panggilan dari Ema, sahabatnya yang juga merupakan salah seorang staf di sanggar.
" Laura" pekik Ema. Nadanya sedikit panik. " aku dengar ada masalah denganmu? Bagaimana ini?"
" Iya sedikit" sahut Laura merasa tidak enak sambil melirik kesal ke sumber masalah disebelahnya. Yang dilirik duduk tenang tanpa ada perasaan bersalah di wajahnya. " Tapi tenang saja, 15 menit lagi aku sampai. Lanjut Laura.
" Oke sayang, hubungi aku bila terjadi sesuatu. Aku akan sampai di tempatmu secepat kilat" Ema tampak bersemangat. Sahabatnya itu memang selalu optimis, gadis lucu berambut ikal dengan kaca mata tebalnya, ia terkesan seperti manusia serius padahal pada kenyataannya ia gadis yang humble. Ia yang selalu ada di saat diperlukan.
Laura tersenyum lega, pria disebelahnya menoleh sesaat ke arahnya, tanpa Laura sadari ia ikut tersenyum penuh arti.
YOU ARE READING
Oh My..Mine
RomanceMenemukan kembali senyum yang membangkitkan harapannya beberapa tahun lalu adalah anugrah bagi David, senyum yang hadir setelah badai mengguncang hidup. Ia bertekad meraihnya sekarang dan tak membiarkannya pergi lagi. Namun ternyata, semua tak semud...
