Sang Tuan Putri

29 4 2
                                        


Aku hanya sosok perempuan yang jauh dari kata sempurna. Ya, seorang perempuan yang juga mempunyai segudang kisah di masa lalu. Dulu aku sangat periang dan pecicilan,tak ada seorang pun yang menghalangiku untuk tertawa lepas termasuk Allah ajza wajalla. Angin selalu ramah menyapaku hingga rambut pendek,hitam,dan tebalku pun seolah menari-nari. Parasku menggoda tatapan setiap orang yang melihatku,hingga selalu berkeinginan mencubit pipiku yang lembut. Aku dulunya punya saudara dan keluarga yang ramai,itu sebelum keluargaku dicampakkan. Aku sangat bersyukur,sebab sudah pernah merasakan kasih sayang dari semua orang termasuk kakek dan nenek buyutku.

Aku Si Tuan Putri yang jail dan menjengkelkan serta merta sifat tomboy keanggunan ku diwariskan dari ibuku. Tapi,dibalik itu ternyata aku phobia terhadap laki-laki.Di perkumpulan keluarga ada seorang lelaki yang mungkin aku tak kenal entah siapa namanya,tapi ibu sangat kenal betul ia orangnya seperti apa. Lelaki ini selalu ingin ikut berbaur jika keluarga kami sedang berdiskusi mengenai perkembangan kampung kami,tak di pungkiri jika dulu kakek dan nenek buyutku adalah orang yang sangat dihormati.

Pada saat aku duduk sendiri,lelaki no name itu selalu menggangguku. Aku sangat jengkel dan kesal.
"Dedek,lagi apa cantik"sapanya, tapi sungguh tatapanku tak menyenangkan.
"Lagi B.A.B"jawaban yang sangat tidak sopan terucap olehku.
"Yuni,ora iso ngomong ngono karo wong tuwo,ora sopan ndok" peringat nenek buyut.
"Ngono-ngonolah,dedek gak suka sama om gila ini"ketusku."lho emang om salah apa sama dedek, kan om sayang sama dedek","gak perlu,aku gak butuh"sambil beranjak dari tempat duduk. Ntah sengaja atau tak sengaja lelaki itu memegang tanganku mungkin maksudnya adalah obrolan ini belum selesai,dan spontan tangan kananku meninju bagian sensitif darinya"Auuuw...!","upss..."berlarilah aku sekencang mungkin dan bersembunyi. Bahkan ibu dan ayahku kewalahan mencariku sampai-sampai keliling kampung. Aku pun terkekeh melihat ekspresi ibu dan ayah,padahal aku sedang berada di atas pohon sambil makan buah rambutan,syukurnya saat itu musim rambutan.

Perlahan ku turun dari atas pohon lalu memakai sandal sambilku berlari mengitari halaman rumah,aku juga suka bermain air yang jaraknya 2 meter dari rumah. Warna jingga sudah menghiasi mata coklat ku,kusegerakan untuk menyudahi semua permainanku. Bergegas aku untuk memakai pakaianku,"Bu,dedek udah cantik belum?","Belum"jawab ibuku yang tak sesuai harapan,"kalau belum cantik dedek gak mau ngaji ah,nanti dedek diejek teman kalau jelek"mataku berbinar-binar karena ingin menangis. " Dedek belum cantik kalau jilbabnya belum di pakai"sambil ibu memakaikan jilbab kepadaku,ayah langsung duduk melihat karisma anak perempuan nya"anak ayah udah cantik,mau kemana kok bersih bener?"tanya ayah,"mau ngaji" sambil beranjak dan memeluk ayah.

"Wissss, cantik bener,mau kemana kak?"tanya paman,"om anterin" pintaku melas.
"Ia kakak mau kemana?","mau ngaji lho",aku rada emosi.
"Mau ngaji toh. Yok,paket sandalnya biar om keluarin kereta dulu."
"Hmm"menggangguku tanda setuju.
"Ibu,Ayah,dedek mau ngaji dulu"sambil mengecup kedua tangan orang tuaku.

"Hati-hati ya dek,cepat pulang ,terus jangan sendirian pulang nanti di culik Wewe gombel."canda ibu.
"Iya,tapi mana mau Wewe nyulik dedek,kalau Wewe nyulik dedek pasti Allah marah,karena Allahkan sayang dedek,iyakan,yah?","iya sayang ayah,Wewe kan takut sama dedek yaka?","iya,ibu dengarkan Wewe aja takut sama dedek". Orang tuaku terkekeh mendengar pernyataan konyol dari ku,bahkan kakekku tertawa sambil mencium pipiku,seakan terkagum dengan kedewasaanku yang konyol.
"Yuni...! Yuk,udah adzan,nanti telat lagi."
"Iya bentar,om. Bu,yah,nek,dan kek,Yuni pamit ya, assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam."serentak mereka menjawab.

***

Pengajian malam ini begitu menyenangkan, ustadz pun selalu memujiku sebab aku sudah pandai membaca Al-Qur'an di usia dini.
"Masyaa Allah, dedek belajar dimana,udah pande aja baca Qur'an nya?"tanya ustadz.
"Ustadz mau tau aja atau mau tau banget?"candaku sambil terkekeh.

"Mau tau banget lah."
"Tapi dedek gak mau kasih tau,ah."
"Lho kenapa? Dedek gak percaya sama ustadz?"penuh keheranan.
"Percaya."
"Lha,terus kenapa gak mau kasih tau ustadz?"
"Karenaaaaa...."
"Ish,ni bocah."menggaruk kepala.
"Karena ustadz gak beliin dedek jajan." Sambil ku menampakkan deretan gigi yang bersih dan rapi.
"Astaghfirullah,dedek. Jadi ceritanya dedek malak ustadz nih?"menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa yang malak,dedek minta jajan sama ustadz." Aku manyun.
Ustadz menghela nafasnya,sungguh ia tak menyangka aku bisa berbuat seperti itu,"trus kalau ustadz beliin jajan,dedek mau kasih tau ustadz dari mana dedek bisa mengaji?"
"Iyap." Senyum manja.
"Ya udah yuk,kita jajan sekalian ustadz ngantar dedek pulang."
"Tapi dedek mau pulang sama bibi."
"Bibi Sarah sama om Oyok nanti bisa pulang bareng,kan dedek mau cerita sama ustadz tentang pandenya dedek ngaji. Yakan?"mencoba meyakinkanku.
"Iya sih,dedek takut nanti dedek dimarahi ibu sama ayah."
"Nanti ustadz bilang deh sama bibi dan omnya dedek,kalo dedek pulang sama ustadz. Gimana,setuju kan?"
"Hmmm." Mengangguk walau gelisah.
"Ya udah yuk"ajak ustadz sambil menggandengku dan memakaikan sandalku.

***
"Nah,sekarang udah jajan. Cerita dong sama ustadz."
"Ustadz!"panggilku pelan.
"Iya?"menoleh ke arahku.
"Ustadz,kepo."sambil memakan jajanku.
"Astaghfirullah,kok kepo sih?"menggelengkan kepala.

Aku masih diam,memikirkan apa yang harus ku katakan.
"Ustadz!"panggilku lagi.
"Iya?"jawab ustadz.
"Ustadz,jelek."
"Astaghfirullah,dedek kok ngomong gitu?"bingung.
"Kenapa,ustadz jelek?"tanyaku sambil ngunyah makanan.
"Huh,ustadz jelek udah di kasih sama Allah dari sananya begini dedek,kita harus mensyukuri apa yang udah ditakdirkan Allah sama hidup kita."jelasnya.
Aku hanya mengangguk mengerti.
"Ustadz?" Panggilku lagi,tapi kali ini ustadz diam saja.
"Ustadz oooo ustadz" panggilku,tapi ustadz hanya diam karena takut aku ejek lagi.
"Ustadz,apa dedek bisa tetap bahagia?"
Ustadz tampak heran mendengar kata-kataku.
"Ustadz udah bilangkan,dek. Mau jelek,ganteng,cantik,bahagia,dan sedih itu datang nya dari Allah,kita wajib mensyukuri apa yang udah ditakdirkan olehNya. Manusia hanya bisa menerima dan melaksanakan kewajiban,serta meninggalkan larangan Nya."
Aku hanya diam dan terus berjalan sambil menggandeng tangan ustadz.
Ketika hampir sampai di rumah,aku baru ingat kalau aku udah buat ustadz menunggu jawaban mengenai kelancaran mengajiku.
"Ustadz?"
"Hm.?"
"Dedek pintar ngaji karena diajari ayah dan ibu,dedek juga ikut mengaji sepulang sekolah di kota."ceritaku singkat.
"Masyaa Allah,jadi dedek ikut ngaji ke kota?"
"Iya"
"Ya, Allah semoga dedek besarnya jadi seperti ibu Aisyah dan Khodijah ya!"
"Dedek mau jadi kayak ibu dedek"
"Lho kenapa?"
"Karena ibu dedek kuat."
Ustadz hanya tersenyum kagum mendengar perkataan ku.
"Nah,sudah sampai."seru ustadz
"Yee."jawab lemas.
"Besok dedek ngaji lagi ya,sekarang dedek harus istirahat!"sambil jongkok dan memegang kedua bahuku,ia terus memperhatikan mataku yang memerah tandaku sudah ngantuk.
"Iya."
"Ya udah sekarang masuk rumah ya jangan lupa ucap salam dan cium tangan ibu ayahnya dedek,ok?"
"Ya,ok."sambil mengusap mataku.
"Ya udah,ustadz pulang dulu,ya, assalamu'alaykum dedek!"bangkit dan melambaikan tangannya kepadaku.
Aku masih terdiam lesu,setelah beberapa langkah ustadz pergi,aku kembali memanggilnya.
"Iya?"sahut ustadz.
"Ustadz siapakah ibu Aisyah dan Khodijah?"tanyaku.
"Dedek,tidak tepat waktunya jika saat ini ustadz menjawabnya."tersenyum lembut.
"Dedek?"panggil ibu ketika menyadari kepulangan ku."eh ustadz,ustadz yang nganter dedek pulang?"
"Hehehe,iya Bu,maaf jika anda merasa khawatir."
"Tidak ya ustadz,tadi adik-adik kecil saya bilang kalau dedek diantar sama ustadz,emang ada apa ustadz gerangan mengantar dedek pulang?"
"Anak ibu luar biasa,di usianya yang masih kecil ia sudah pandai membaca Al-Qur'an. Saya kagum,semoga anak ibu besarnya bisa menghafalkan Al-Qur'an ya Bu?"
"Insyaallah ya ustadz,terima kasih sudah mengantar dedek pulang."
" Iya Bu sama- sama. Ya sudah saya pamit ya Bu,lagian dedek sudah sangat mengantuk.","hahahaha...iya nih udah kriyep- kriyep matanya"sambil melihatku.

"Saya pamit,Bu. Assalamu'alaykum!"
"Wa'alaykumussalam"
"Ustaaadz..."panggilku dan menghampirinya.
"Ada apa dedek?"kembali jongkok.
"Ceritakanlah tentang ibu Aisyah dan Khadijah!"pintaku lirih. Dari kejauhan ibu tersenyum mendengar permintaan ku.
"Besok ustadz ceritakan ya, sekarang dedek istirahat udah jam 10 malam nih. Lihat tuh ibu kamu udah nunggu. Ustad janji deh bakal cerita tentang ibu Aisyah dan Khodijah."
"Janji?"mengacungkan jari kelingkingku.
"Insyaallah!"membalas jari kelingking ku dan tersenyum.
"Ya udah ustadz pulang. Wa'alaykumussalam."
"Astaghfirullah,dek ustadz belum ngucapin salam lho."
"Tadi udah ustadz ucap tapi dedek belum jawab."
Ustadz terkekeh,"ustadz pulang sana,nanti ustadzah nyariin ustadz."
"Ceritanya ngusir ustadz nih?"
"Tau ah"berlari menghampiri ibu.
Ustadz pun menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi.

***

"Semua yang sudah ditakdirkan olehNya wajib untuk kita syukuri sebab kita hanya manusia yang wajib terus beribadah dan meninggalkan laranganNya "

Mawar Senja Stories to obsess over. Discover now