Author pov
"Arghh...." teriakan itu menggema di seluruh penjuru gudang sekolah. Terlihat seorang lelaki yang sedang merintih kesakitan.
Tolong jangan keluar, Daniel.
Batinnya seraya mencengkram pinggiran kaca dengan kuat. Tidak lama kemudian pandangan lelaki itu pun mengabur dan setelah itu dia pingsan.
🎸🎸🎸
Di kelas XI MIPA 4.
Suasana di kelas itu sangatlah ramai. Ada yang mengobrol, bermain gitar, membaca buku, mmgerjakan tugas, sampai yang sedang tidur pun ada di kelas ini. Tiba-tiba ada seorang siswa yang berlari masuk ke dalam kelas lalu berteriak,
"Woy, Pak Dadang...." ucapnya menggantung.
"Ada Pak Dadang?" tanya salah seorang siswi.
"Ga ada." ucapnya sambil tertawa karena sudah mengerjai teman sekelasnya.
"Kenapa lu, kesambet?" tanya seorang siswa yang bernama Kenan.
"Patut dicurigai nih?" sambung yang lain.
Lalu, siswa yang menjadi tersangka utama tadi terus tertawa bahkan sampai terbahak-bahak.
"Tuh, kayanya si Axelle beneran kesambet." celetuk Kenan, sahabat Axelle , sambil melanjutkan bermain gitarnya.
"Kenan, tumben lu bawa gitar?" tanya siwa bername tag Axelle dengan gugup.
"Lah, emangnya ga boleh?" jawab Kenan bingung.
Kenan kenapa lu harus bawa gitar sih? Dan juga kenapa gua harus ngeliat gitar. Gua masih betah di tubuh orang ini tau.
🎸🎸🎸
Di Gudang.
Untuk kedua kalinya dalam hari ini seorang siswa bername tag Axelle Shaquille berada di gudang sekolah.
"Axelle, jangan keluar!" teriak siswa tersebut kepada dirinya sendiri.
Atas dasar apa kau melarangku?
suara itu berbunyi di kepalanya.
"Axelle, aku sudah memperingatimu, lebih baik kau menghilang!" teriaknya.
Tidak bisa Daniel, karena tubuh ini adalah tubuhku bukan tubuhku, jadi sebaiknya kau yang pergi.
Lagi-lagi suara itu berbunyi di kepalanya.
Bugh
Dan tidak lama setelah itu, hanya gelap yang mendominasi penglihatannya.
🎸🎸🎸
Axelle pov
Argh... sekarang jam berapa?
batinku seraya melihat jam tangan.
"Oh tidak, aku telat pulang ke rumah." ucapku panik.
Aku pun segera berlari ke kelas untuk mengambil tasku yang masih ada di sana. Setelah mengambil tas yang tertinggal di kelas, aku berlari sekuat tenaga menuju halte sekolah. Aku pun menunggu bus yang akan datang kira-kira 15 menit lagi. Tapi, tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku.
"Maaf, bus mana yang menuju daerah alun-alun Bandung ya?" tanya perempuan itu.
"Bus nomor 203." jawabku ramah.
"Terimakasih." ucapnya.
"Sama-sama." balasku.
Lalu perempuan itu terdiam dan menatap kosong ke arah jalan.
"Busnya sudah datang, apa kamu tidak mau naik?" tanyaku kepada perempuan itu.
Perempuan itu tersentak lalu segera menaiki bus.
Aku pun juga segera masuk ke dalam bus itu dan membayar ongkosnya. Perempuan tadi melihat ke arahku dengan tatapan bingung.
"Kenapa kamu disini? Kenapa kamu mengikutiku? Jangan-jangan kamu penguntit ya?" tuduh perempuan itu kepadaku.
"Untuk apa aku menguntitmu? memang tidak ada pekerjaan lain selain menguntitmu?" balasku kesal.
"Oh begitu ya, maaf sudah salah sangka padamu." cicitnya pelan.
"Tidak apa-apa" ucapku melembut.
"Ah iya, kita belum berkenalan. Namaku Arabelle Jovanka, panggil saja Belle." ucapnya sambil menjulurkan tangan.
"Cantik." ucapku sangat pelan.
"Tadi kamu bicara apa? Aku tidak dengar." tanyanya dengan sangat lembut.
"I-itu, oh iya, namaku Axelle Shaquille, biasa dipanggil Axelle." balasku gugup lalu kita berjabat tangan.
Setelah acara berkenalan selesai, aku dan Belle sama-sama terdiam sepanjang sisa perjalanan.
Kenapa seragamnya sama sepertiku? Apa dia satu sekolahan denganku? Tapi aku tidak pernah melihatnya. Atau jangan-jangan dia murid pindahan?
Itulah sekelibat pikiran yang menghantuiku sepanjang perjalanan.
