Tifus

479 79 31
                                        


"Can, Tin sakit tifus..." ucap Pete tanpa basa basi begitu bertemu dengan Can yang sedang makan sendirian di kantin teknik. Yang lebih pendek lalu menoleh. Matanya yang kecil membulat, kaget karena tiba-tiba ada Pete dan juga kaget karena berita yang Pete bawa.

"Gimana?" Can bertanya setelah blank beberapa detik.

"Tin sakit tifus," Pete mengulang kembali informasi yang ia beri.

"Tifus?" Can bertanya seolah apa yang diceritakan Pete belum jelas.

"Krab," sahut sang Khun Cay. "Kemarin dia mengeluh perutnya sakit jadi dia pulang duluan. Terus tadi pagi dia bilang mau nggak masuk soalnya lagi dirawat di rumah sakit,"

Tin tertegun. Di rawat di rumah sakit? Sakit tifus? Kemarin?

Kemarin berarti 28 hari terhitung setelah insiden itu, yang membuatnya berhenti berkabar dengan Tin. Dua puluh delapan hari yang sangat panjang, yang membuatnya muak dan tak tahan. Disisi lain, pria mungil itu takut kalau ia menghubungi Tin, sang seme akan marah.

Sakit tifus, ya? Lay juga pernah dirawat di rumah sakit karena itu. Can jadi terbayang wajah adik perempuannya dan mensubtitusi kernyit kesakitan Lay dengan wajah Tin yang ganteng itu.

Duh. Muka Can mendadak panas. Perutnya mendadak mules. Dalam bayangannya, Tin kelihatan tetap tampan. Can merutuki dirinya sendiri dalam hati, "Dasar lemah!"

"Can?" panggil Pete menyadarkan lamunan Can. Saat Can menoleh, Pete sudah duduk, ada sepiring makanan di depannya dan Ae di sebelahnya.

"Ai Ae kenapa di sini?" anak jurusan ilmu olahraga itu bertanya.

"Ini 'kan kantin fakultasku. Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu makan di sini," Ae mendengus, merasa aneh pada pertanyaan Can. "Galau sih!"

"Enggak!" Can langsung membantah. Ia mengalihkan pandangan ke makanannya yang tidak tersentuh. Tangannya mengaduk-aduk makanan itu tanpa menyuap ke dalam mulut, sedang bibirnya merengut. Sesekali Can menggumam, "Siapa sih yang galau, orang enggak!"

"Can?" Pete memanggil lagi, kali ini lebih lembut. Ketika Can menoleh, pacar Ae itu menatapnya teduh sambil tersenyum manis. "Kami akan pergi menjenguk Tin. Can mau ikut?"

.

.

.

Pemilik nickname yang berarti melon oranye itu berjalan pelan di koridor rumah sakit. Sendirian, ia tadi menolak pasangan lovebirds untuk menjenguk Tin bersama-sama. Tanpa alasan yang jelas, Can ingin pergi ke sana sendiri. Sungguh ia sendiri tak mengerti mengapa ia ingin menemui Tin tanpa seorang pun yang menemani.

Pete sudah memberi informasi kepadanya tentang nomor kamar dan jam besuk. Maka di sinilah Can. Ia berdiri di depan pintu ruang rawat VIP, yang merupakan satu-satunya pembatas antara ia dan Tin. Can mendadak merasa ragu. Apakah dia harus masuk? Atau dia pulang saja? Tapi dia ingin tau keadaan pemuda itu. Bagaimana bisa Tin kena tifus? Siapa yang membawanya ke rumah sakit?

Can hampir mundur dan lari pulang ke rumah. Tapi keinginan untuk melihat Tin rupanya lebih besar. Perlahan ia mendorong pintu ruang rawat.

Can dapat melihat sang pasien yang tadinya menonton tv langsung mengalahkan atensi. Ekspresi Tin berubah, tidak terbaca. Sang melon jadi salah tingkah. Tapi ia tetap masuk ke dalam, berjalan pelan mendekat. Suara tv terasa begitu keras dalam kesunyian yang janggal. Bibir keduanya terkatup. Can menunduk begitu sampai di samping ranjang.

"Sendirian?" Tin-lah yang lebih dahulu memecah keheningan. Si mungil kesukaannya hanya mengangguk tanpa menatap. "Kenapa nggak bareng sama Pete?"

Mendengarnya, Can merutuk dalam hati. Kenapa sih pertanyaannya harus begitu? Dia 'kan nggak tau jawabannya...

TifusWhere stories live. Discover now