"Sini lo. Kenalan."
Aku hanya berdiri kaku di ruang tengah dan tersenyum canggung. Rasanya tak ada keberanian bahkan untuk berjalan.
"Alea ini. Bikin malu Mama aja. Masa disuruh kenalan gak mau."
Senyumku berubah getir.
Sial. Kesan pertamaku sudah buruk.
Mataku langsung tertuju pada anak laki-laki manis yang duduk di ruang tamu rumahku. Siapa menyangka, dia akan datang ke rumahku ini sekarang? Aku mengutuki sifat pemaluku ini. Atau pengecut? Aku tidak tahu. Yang pasti, aku sudah berakhir di dalam kamar lagi dengan kesal, karena kehilangan kesempatan berkumpul dengan laki-laki menawan itu bersama keluarganya. Lebih tepatnya kesal pada Mama. Bisa-bisanya, dia tidak memaksaku lebih lanjut.
Ya. Aku masih duduk di bangku sekolah dasar saat ini. Kelas 3.
Cinta pertamaku dimulai minggu lalu.
Dengan laki-laki di ruang tamuku itu.
———
Aku menangisi kepindahan kami. Setiap. Malam.
Kami harus meninggalkan kota kelahiranku, keluarga, teman dan kerabat ke kota aneh yang panas, kecil dan terpaut laut Jawa dengan kota kelahiranku.
Semua demi Papa yang berusaha memperbaiki kehidupan kami dari yang cukup, menjadi lebih baik lagi.
Tapi, aku sedikit senang. Mama membelikan sebuah bantal dengan visual potrait Barbie, yang hampir seukuranku. Aku jadi merasa masih punya teman.
Lingkungan ini begitu asing. Aku sudah tidak betah lagi walaupun baru 1 minggu. Bahasanya. Airnya. Udaranya. Orang-orangnya. Bahkan bentuk rumahnya pun berbeda. Aku benci dan mulai muak. Aku kesal karena kami harus pindah. Aku kesal karena belum punya cukup kuasa untuk bisa mengubah keputusan di keluarga ini karena masih sangat muda.
Bahkan setelah Papa dan Mama membawaku dan ketiga adikku pergi ke salah satu kebaktian di kota ini, aku tetap merasa asing. Semua orang ramah, menyambutku. Tapi, aku asing. Aku tidak betah. Aku mau pulang. Aku mau pulang ke Jawa. Kapan aku segera pulang. Aku asing. Asing. As—
"Halo, aku Angga."
Laki-laki itu dengan ramah menyalami seluruh keluargaku. Dia tersenyum ramah sekali.
Saat itu juga, aku merasakan perasaan aneh di perutku. Perasaan yang seperti mengaduk isi perut hingga membuat jantungku bergemuruh aneh. Aku jadi sangat gelisah. Tapi, mataku tidak bisa lepas darinya. Aku sudah berupaya memalingkan mataku. Tapi, selalu kembali menatapnya.
Ah, dia manis sekali.
Dia sopan.
Oh, dia hanya terpaut 3 tahun dari ku. Artinya, dia duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar.
Aku suka sekali karena dia lebih tua dariku.
Aku suka—
Malam pun tiba. Aku sudah bersiap memeluk bantal Barbie-ku dengan erat sebelum menangis. Satu. Dua. Empat. Hampir 1 jam dan aku tidak menangis. Aku sedikit heran. Aku mencoba memikirkan apa yang membuatku tidak menangis. Dan seketika aku sadar.
Angga. Dia membuat semuanya tidak berjalan terlalu buruk. Aku masih bisa merasakan genggamannya di tanganku saat menyalamiku tadi.
Aku terus memikirkan itu sambil tanpa sadar tidak berhenti tersenyum. Hatiku seperti sedang menjalani interview dengan pikiranku. Mereka terus saling bicara. Pikiranku terasa sangat ramai.
Aku mengambil jam tangan di atas nakas. Pukul 2 pagi. Aku terkekeh. Pukul 2 pagi biasanya aku masih menangis. Tapi, kali ini berbeda. Tempat ini terasa tidak begitu buruk lagi.
Aku merasa punya alasan baru untuk bertahan.
Aku punya harapan.
YOU ARE READING
Let the Hopes Guide You Home
RomanceTak peduli seberapa lama kau pergi. Tak peduli seberapa jauh kau berlari. Tak peduli dimana pun kau berada. Tak peduli tangan siapa yang kini memelukmu. Harapan akan selalu mengikutimu. Ia akan menepati janjinya padaku. Ia akan menuntunmu kembali. I...
