I can kill you

47 7 1
                                        

Kuda hitam terpacu dengan cepat seiring nafas sang pengendali. Melesat cepat saat para prajurit penjaga gerbang istana membukan pintu untuk nya. Gong dipukul dengan sangat kuat membuat bunyi yang dapat merusak sel telinga, semua menoleh kearah datang nya kuda hitam. Pengendali dengan pakaian serba putih, menggunakan penutup kepala putih membuat wajahnya susah untuk dilihat. Turun dari kuda kesayangannya dan berjalan menuju titik pusat dia memilih pulang ke istana.

Sang paduka raja.

Yang mulia Bang. Ayah sekaligus pemimpin negri yang dia bangun bersama.

Gadis itu membuka kerudungnya memperlihatkan wajah indah namun tegas. Menekuk sebelah kakinya dan menunduk hormat.

"Atas perintah paduka, saya kembali dari perjalanan mencari ilmu." Hana mendongakkan kepalanya dan menatap mata cipit ayahnya.

"Kemari lah, ayahmu ingin dipeluk" Raja Bang berdiri dari singgasana nya membuat keadaan yang tadinya kaku dan penuh intimidasi menghilang begitu saja digantikan adegan haru seorang ayah yang merindukan anaknya.

Hana melebarkan tangan nya dan menerima pelukan sang ayah lalu tersenyum "aku juga merindukan pelukanmu, paduka"

*

"Hah.." satu deruhan nafas keluar dari mulut pria bermata cipit dan mempunyai kulit lebih putih dari pangeran lainnya. Dia sedang bermain dengan adiknya, kalau saja adiknya tidak mengancamnya akan mogok makan kalau dia tidak mau bermain tentu saja dia masih didalam kamar sambil tiduran.

TRING!

Mata itu melotot meskipun kecipitannya masih terlihat jelas. Sebuah ujung pedang sedang berada didepan lehernya adalah alasan pria bernama min yoongi ini melebarkan matanya. Nafasnya tercekat begitupun dengan gerakan tubuh nya yang seketika menegang.

"H-hya! Aku seorang pangeran! Kau bisa dihukum-" Omongannya terhenti saat merasa pedang itu sudah berada dileher menyentuh kulit nya.

Pemilik pedang perlahan maju untuk melibatkan wajahnya. Seorang gadis dengan tatapan membunuh menatap yoongi.

"Sedang apa kau disini?" Tanya hana dengan tatapan yang masih sama.

"Terserahku! Kerajaan ini milik ayahku! Jadi terserahku aku ingin kemana saja!" Protesnya melupakan sejenak bahwa pedang itu bisa saja menebas lehernya kapan saja.

"Lalu kalau kau pangeran? Aku berhak membunuhmu, sejak tadi gerak-gerikmu mencurigakan" mata hana masih menatap dalam manik coklat didepannya seakan menyelidik.

"Hya, turunkan pedang mu" Hana refleks menoleh kearah suara kecuali Yoongi karena kalau dia menggerakkan kepalanya maka lehernya akan terluka.

"Pengacau yang lagi ini?" Hana menatap remeh pria yang sedang berjalan kearahnya dengan pedang ditangannya.

"Pengacau? Kau tau sedang siapa kau berbicara?" matanya masih tetap menatap Hana sambil mendekat kearahnya.

"Dan apa kau tau siapa yang kau tantang sekarang?" Balas Hana, nada meremehkan sangat melekat disetiap kata-kata yang keluar dari mulut Hana.

"Aku sudah bilang padamu tadi, turunkan pedang mu dari Hyungku!!" Tepat pria itu berhadapan dengan Hana nada suaranya meninggi.

Hana tak langsung melepaskannya tapi melihat pria itu siap untuk menyerang nya, Hana segera menarik pedang nya.

"Menodongkan pedang pada pangeran dan melukainya adalah masalah tingkat tinggi." Pria itu mengambil kuda-kuda.

Hana hanya berdiri tegak sambil memegang pedang disisi tangan kanan nya.

"N-namjoon" lirih Yoongi saat melihat akan terjadi peperangan didepannya.

"Namjoon? Namamu sangat tak asing bagiku" Hana menatap langit seolah akan menemukan sesuatu disana.

My princeWhere stories live. Discover now