Bab 1 - Cermin di Gudang

423 49 4
                                        


Namaku Raka Aditya Pratama, dan kalau kau tanya apa yang paling sering kudengar setiap pagi, jawabannya bukan kicau burung, bukan deru motor tetangga, apalagi alarm ponsel. Yang paling sering kudengar adalah bunyi koin yang jatuh pelan di atas toples kaca—"ting... ting"—seolah menertawakan kami karena jumlahnya tak pernah cukup. Ibu menyimpan uang koin itu untuk membeli beras, sabun cuci, dan sedikit gula. Ayah pulang subuh setelah menarik becak semalaman; wajahnya legam oleh malam, dan peluhnya mengering jadi garam di pelipis.

"Raka, roti sisa kemarin masih ada. Sarapan dulu," kata Ibu, menahan senyum sambil menaruh roti bulat setengah basi di piring. Aku mengangguk, menahan rasa getir.

Rumah kami kecil—bukan, sempit—di gang yang bahkan motor harus menahan napas kalau lewat. Di dinding, cat mengelupas membentuk pola seperti peta dunia: Afrika di atas tungku, Asia di dekat pintu kamar. Di luar, udara pagi menggeliat bersama bau gorengan dari warung seberang. Aku biasanya suka bau itu, tapi pagi ini rasanya seperti ingatan pahit: masih ada uang untuk membeli gorengan? Belum tentu.

Ayah duduk di kursi kayu yang salah satu kakinya diganjal batu bata. "Tarikanku sepi," katanya pelan, tanpa menatapku. "Turis makin jarang. Orang naik ojek sekarang."

Aku menelan roti yang rasanya amis oleh udara lembap. "Nggak apa, Yah. Aku bisa cari tambahan seusai sekolah."

"Apa lagi? Jaga warung Pak Masrup? Kau masih harus belajar," Ibu memotong, suaranya tegas tapi matanya cemas.

Aku mengangkat bahu. Di dalam dadaku, ada sesuatu yang menempel seperti jarum: besok SPP jatuh tempo. Seragamku juga kebesaran—warisan tetangga—dengan setrip pudar yang dikerat tangan Ibu agar pas di pundak. Sepatuku retak di bagian depan; kalau hujan, air menyusup masuk, membuat kaus kaki bau lembap sehari penuh.

"Raka," Ayah akhirnya menatapku. "Kau anak pintar. Jangan terlalu diambil hati soal uang. Rezeki ada jalannya."

Kalimatnya indah, tapi perutku tetap kosong. Aku menghela napas, menatap jam dinding yang macet lalu bergerak lalu macet lagi—seperti hidup kami, mungkin.

Di cermin pecah kecil yang kami pasang di belakang pintu, aku membetulkan kerah. Bayangan di sana memantulkan anak laki-laki biasa: rambut hitam acak-acakan, mata yang kadang tampak lebih tajam daripada keberaniannya, dan senyum yang dilatih untuk tidak berharap banyak. Cermin itu sering jadi saksi aku berjanji pada diri sendiri: suatu hari nanti, aku akan mengajak Ibu berjalan di toko swalayan tanpa harus menghafal harga sebelum mengambil barang. Suatu hari nanti, Ayah tak perlu lagi menarik becak. Suatu hari nanti, kami akan duduk makan tanpa harus mendengar "ting... ting" koin yang jatuh dengan bunyi getir.

"Berangkat dulu," kataku.

Ibu merapikan rambutku dengan jari. "Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam."

"Siap, Bu."

Sekolahku bukan yang paling jelek di kota, tapi juga jauh dari kata "elit". Lapangan upacara retak-retak, kelas punya kipas angin yang berputar sekadar gaya, dan perpustakaan selalu bau lembap. Namun di sini, perbedaan paling jelas bukan pada bangunannya, melainkan pada sepatu: yang satu mengilap, yang lain retak. Sering kutatap sepatuku dan sepatu mereka—sepatu anak-anak yang naik mobil tiap pagi, yang membawa botol minum merek mahal, yang tertawa keras seperti dunia milik mereka.

Salah satu dari "mereka" adalah Arsenio Wijaya—Arsen, begitu semua orang memanggilnya. Ia berjalan ke lapangan dengan langkah santai, jaket varsity menggantung di bahu, rambut rapi, dan wajah datar yang seolah berkata: aku tidak perlu berusaha untuk jadi pusat perhatian. Anak-anak lain menoleh, beberapa berbisik, beberapa bersorak tertahan. Tidak ada yang berani menepuk pundaknya; ada jarak tak kasat mata yang menahan. Ia bukan sekadar populer—ia pewaris.

False Reflection (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang