Arion sedang asik duduk di kursi kantin paling pojok di temani susu coklat kesukannya, suasana kantin siang ini tidak terlalu ramai seperti biasanya, masih ada beberapa kursi yang kosong. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang selalu padat dan berisik dengan murid yang kelaparan.
"Ri! lo tahu kan minggu depan sekolah kita bakal ngadain kompetisi fotografi?" Tanya Tara sambil menepuk pundak Arion.
Arion menoleh. "Iya gue udah tahu kok" ucap Arion dengan muka datar sambil menyeruput susu coklatnya.
"Serius lo gak tertarik ? biasanya lo paling antusias kalau ada kompetisi fotografi" ucap Tara sambil memandangi Arion dan berdecak aneh.
"Iya, serius" ucap Arion masih dengan wajah datarnya.
Bel sekolah berbunyi, pertanda bahwa waktu istirahat telah berakhir. Arion segera meninggalkan Tara tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Di sepanjang koridor, Tara berpikir keras tentang setan apa yang merasuki tubuh Arion hari ini, tidak biasanya Arion melewatkan kompetisi fotografi, karena ia sangat suka memotret, semua benda yang tepat berada di depan mata Arion pasti akan ia jadikan objeknya.
"Lo Arion Sanskara yang gue kenal kan?" ucap Tara yang berada tidak jauh di belakang Arion.
"Iya bawel!" ucap Arion yang mulai kesal dan segera berlari menjauhi Tara.
Arion Sanskara, ia adalah pria yang memiliki kepribadian berbanding terbalik dengan arti namanya sebagai sosok yang bermoral dan memiliki hati lembut. Di lingkungannya ia biasa dikenal sebagai sosok berkepribadian dingin tapi menggoda. Tubuhnya tinggi semampai, Rambutnya berwarna hitam pekat, pada bagian wajahnya terdapat alis yang cukup tebal, hidung yang mancung, bibir mungil berwarna merah muda yang dibalut dengan helaian kumis tipis, sehingga membuatnya terlihat tampan. Ia juga pandai disemua mata pelajaran, tak salah jika ia mendapat julukan "Mr Pefect" di sekolahnya. Tapi dibalik semua kelebihannya, Arion tak pandai bergaul dengan lingkungannya. Ia anak yang pendiam, tertutup dan ambisius, ia juga suka melakukan segala hal sendiri, bahkan saat ada tugas kelompok pun ia memilih untuk mengerjakannya sendiri ketimbang bersama teman-temannya. Semua temannya tak ada yang tahan dengan sikap Arion, hanya Tara yang sampai detik ini masih berteman dengannya.
Hari ini cukup melelahkan bagi Arion, jika biasanya ia akan mencari kegiatan untuk mengisi waktu luangnya,hari ini tidak berlaku untuknya yang baru saja dihukum oleh guru paling galak di sekolahnya. Di tambah perasaan kesalnya yang tidak bisa mengikuti kompetisi fotografi kali ini karena kamera miliknya rusak.
"Kenapa juga sih lo harus rusak pas gue butuh?" batin Arion sambil memandangi kameranya
Tiba-tiba terdengar suara ponsel
"Drt...drt...drt..."
Arion yang sedang melamun seketika tersadar dari lamunannya dan segera mencari darimana sumber suara itu datang, Ia melihat ponselnya berdering di atas kasur. Dengan malas ia mengambil ponselnya. Rupanya Tara mengirimnya sebuah pesan.
Tara : Assalamualaikum
Arion hanya membaca pesan dari Tara tanpa membalasnya, ia tahu Tara hanya akan menanyainya tentang kompetisi fotografi yang ia lewatkan kali ini. Ia pun melemparkan ponselnya ke atas kasur.
Ponsel Arion pun berdering lagi
"Drt..drt...drt..."
Arion mengambil ponselnya , lagi-lagi ia melihat sebuah pesan dari Tara
Tara : Kok dibaca doang ? waalaikumsalamnya mana nih?
Arion tak habis pikir mengapa Tara sangat senang menggangunya, tak lama kemudian munculah pesan baru.
Tara : Kalau ada yang salam dijawab dong ganteng !
Arion : Waalaikumsalam. Puas lo?
