Hari itu, Ann pulang ke rumah dengan hati yang gelisah. Ucapan guru BK-nya tadi masih terngiang di kepalanya. Beberapa kali ayahnya menegurnya karena melamun saat makan malam.
Setelah makan malam, ia tak langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia memilih untuk duduk di ruang tamu sembari berusaha memfokuskan pandangannya pada televisi di depannya. Sesekali ia menengok ke arah teras di mana ayah dan pamannya berbincang, seperti biasanya.
Hingga ia mendengar ayahnya bercerita tentang keinginannya untuk pindah dari rumah yang saat ini mereka tinggali, rumah nenek dari ibu Ann. Ia masih terdiam di tempat ketika bibinya masuk dan duduk di sebelahnya.
Hening sesaat.
"Memangnya kau tidak betah tinggal di sini?" tanya wanita paruh baya itu.
Ann menoleh sebentar kemudian menundukkan kepalanya. Tak lama berselang sepupunya pun muncul.
"Jangan-jangan dia mengatakan hal yang tidak-tidak pada ayahnya, Bu." Ujar seorang gadis berusia 18 tahun itu.
Dengan cepat Ann mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Tidak, Bi. Aku tidak bilang apa pun pada ayah."
"Jangan kau pikir kami telah menyiksamu di sini. Syukur-syukur nenek masih menerima mu tinggal di sini setelah ibu mu meninggal!" Ujar bibi dengan suara meninggi.
Tak tahan mendengar ucapan bibinya, Ann lalu bangkit dari duduknya. Ia telah melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu, ketika bibinya kembali membuka mulutnya.
"Enyah saja kau dari dunia ini! Dasar anak tak tau diri!" satu gertakan lagi dari bibinya.
Dan Ann rasa itu sudah lebih dari cukup.
• • • • • • •
A/N : Hi! Jadi ini cerita pertamaku di wattpad hihihiw. Mohon bersabar dengan kalimat yang absurd dan dialog yang tidak jelas. Saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan :)
-Atikah
YOU ARE READING
Annabeth
Teen FictionSejak awal, hidupnya tak pernah baik-baik saja. Keluarganya membencinya. Teman-temannya pura-pura menyayanginya. Sehingga ketika ia melihat kejadian --yang akan mempermalukan keluarganya dan mengganggu teman-temannya-- hendak menghampirinya maka ia...
