Should I Say Goodbye?

5 1 0
                                        


Tetes hujan bulan November menyambut pagi hariku. Ku ikat tali sepatu lalu melangkah menaiki kendaraan yang akan membawaku ke sekolah. Aku tidak mengendarai kendaraan sendiri, aku diantar oleh Ayah. Beliau mengantarku terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.

Jejeran murid berbaris di depan gerbang sekolah, bergantian bersalaman dengan guru yang bertugas 'menyambut' murid di pagi hari. Terlihat beberapa murid yang tidak bisa masuk karena tidak mengenakan atribut yang lengkap. Disaat sibuk memperhatikan itu, seseorang menutup mataku sehingga aku berhenti sejenak.

"Heksa Alfino Saputra!" Ucapku sembari melepas tangan yang menutupi penglihatanku.

Tangan itu terlepas, tetapi tidak lama kemudian tangan itu berpindah ke atas kepalaku lalu mengacak rambutku gemas.

"Dih masih pagi udah marah-marah aja neng, ga kangen ya sama pacarnya." Heksa berkata sembari menaikkan alisnya bergantian.

"Males banget, setiap hari ketemu juga ngapain kangen." Aku menjulurkan lidah mengejeknya lalu berjalan cepat menuju kelas.

Dia Heksa, nama lengkapnya Heksa Alfino Saputra. Seseorang yang menjabat sebagai kekasihku terhitung sejak satu tahun yang lalu. Kami tidak masuk ke kelas yang sama, dia kelas C sedangkan aku kelas I. Kelasnya berada di lantai satu, sedangkan kelasku berada di lantai dua. Kami berjalan beriringan lalu berpisah di dekat tangga. Saat aku memasuki kelas, terlihat suasana sudah riuh. Sebagian temanku ada yang mengerjakan tugas, bergossip bahkan ada yang berduaan bersama pasangannya.

"Haduh haduh pagi pagi udah pacaran aja nih mba sama masnya." Ucapku sembari meletakkan tas di kursi lalu duduk.

"Idih iri aja nih, galau ya yang mau ditinggal sekolah ke jakarta." Ucap El. Aku terdiam.

"El gaboleh gitu ih!" Sila kekasih El mengingatkan.

"Ih siapa juga yang iri, udah gih sana puas puasin pacarannya! tiati ketauan guru!" Ketusku lalu membuka buku dan mengerjakan tugas yang belum selesai.

Mereka tidak menjawab, kembali fokus berbincang berdua seakan tidak ada orang lain di sekitar. Dasar cinta monyet. Dia El, Elvano Keanu Pradipta. Salah satu sahabatku yang ada di kelas. Kami dekat karena dia dan Heksa berteman, sehingga aku sering bertanya tentang Heksa dan terkadang dia yang menjadi penengah ketika aku dan Heksa bertengkar.

Berbicara tentang Heksa, dia tidak akan melanjutkan sekolahnya di kota ini. Itu artinya kami akan menjalani hubungan jarak jauh. Sebenarnya hubunganku dan Heksa saat ini tidak terlalu baik, entahlah mungkin aku sedang jenuh atau ingin fokus mendapat nilai baik agar bisa masuk sekolah yang aku inginkan. Hubungan kami semakin memburuk saat dia berkata akan bersekolah di luar kota. Aku merasa tidak bisa melanjutkan hubungan ini, maksudku, apa yang kalian harapkan dari anak ingusan yang berlagak menjalin hubungan sepasang kekasih dan harus menjalani hubungan jarak jauh? mungkin ada yang berhasil bahkan bertahun-tahun menjalin hubungan dan akhirnya menikah. Tetapi kurasa itu bukan aku.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.

Aku sudah masuk sekolah yang aku cita-citakan, salah satu sekolah favorit di kota ini. Dan Heksa, dia sudah bersekolah di kota lain. Sebenarnya yang membuatku ragu untuk menjalin hubungan ini adalah terbatasnya waktu kami untuk berkomunikasi. Heksa masuk ke sekolah yang mengharuskan muridnya tinggal di asrama, tidak memakai telepon genggam sehari-hari, dan itu artinya dia hanya bisa mengabariku sesekali saja. Aku belum memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, jujur aku takut menyesal melepasnya.

Ting!

Suara pesan masuk membuyarkan lamunanku tentang Heksa. Nama El muncul beserta pesan yang ia kirim.

Al gimana hubungan lo sama Heksa?

Aku menghembuskan nafas membaca pesan itu. Aku dan El menjadi lebih dekat semenjak masalahnya dengan Sila yang membuat keduanya akhirnya putus, kami berbagi cerita dan saling menghibur satu sama lain. Tidak, jangan salah paham dulu. Aku tak mungkin bersama El. Alasan dia putus dengan Sila adalah karena orang ketiga, sudah aku katakan bukan? Mereka berganti pasangan layaknya mengganti pakaian, tapi yang aku sayangkan adalah hubungan El dan Sila sudah terhitung langgeng dan mereka terlihat sangat saling menyayangi. Tapi memang dasar El nya saja yang sudah tidak bisa tahan dengan kelakuan kelewat manja seorang Sila dan datangnya gadis cantik lain yang mampu merebut hati El, yang berakhir dengan putusnya hubungan mereka. Oh! Jangan lupa adegan drama yang mereka tampilkam di kelas. Sungguh hal itu adalah hal yang tak bisa terlupakan.

Disaat aku akan mengetik jawaban dari pesan yang El kirim, 2 pesan kembali masuk.

ALETA AILEEN GIANINA! BALES DONG JANGAN DI READ AJA! LO KIRA GUE KORAN?!

Satu pesan dari El.

Leta, sabtu ini aku pulang. Kamu ada waktu? aku kangen.

Dan satu lagi dari Heksa.

Aku terdiam, entah mengapa melihat pesan dari Heksa membuatku gelisah. Antara senang, sedih dan marah.

aku memutuskan untuk membalas pesan dari El terlebih dahulu.

Stop panggil gue Al, gue gasuka. Panggil gue Leta, udah berkali-kali bilang emang batu lo. Dan Sabtu ini Heksa minta ketemu, gue harus apa?

Ya tinggal ketemu lah, emang kenapa? lo gamau ketemu sama dia?

Bukan, bukan gamau. gue cuma ga siap.

Halah ga siap apa si, lo cuma ketemuan Al bukan mau nikah, gaperlu pake persiapan segala!

HATI GUE YANG GA SIAP BEGO! kalo gue nangis gimana? kalo gue emosi terus bilang putus gimana?

Yaelah lebay ah lo, udah temuin dia gausah overthinking. Btw gue sama Nadine berantem lagi:(

Hmm kenapa lagi?

Dia marah karena gue telat jemput kemaren, gue ngga ngerti deh padahal kalo emang gue lama banget jemputnya kenapa dia ga pulang pake gojek aja sih? kenapa harus nungguin gue?

Ya itu sih salah lo juga kenapa ga ngabarin, udah minta maaf?

Gue lupa hehe, udah tapi dia masih ngambek.

Aku hanya membaca notifikasi yang masuk, lalu membalas pesan dari Heksa.

Ada, ketemuan di mana? aku juga kangen.

Nanti aja kita tentuin, aku jemput kamu. udah dulu ya, hpnya harus dikumpulin lagi. love you.

Selalu seperti itu, memberi kabar sebentar lalu hilang berhari-hari, katakan aku tidak pengertian, tetapi sungguh terlalu lama menjadi hubungan seperti ini tidak sehat untuk hatiku.

Yang harus aku lakukan saat ini adalah mempersiapkan hati untuk bertemu Heksa Sabtu nanti, aku tak ingin menangis konyol di depannya.

Ting!

satu pesan masuk, ku kira itu El tetapi ternyata nama Heksa muncul lagi.

Sabtu ini aku ingin berbicara serius tentang kita, jadi aku mohon jangan batalkan lagi pertemuan yang satu ini.

Aku menghela nafas, beberapa kali aku memang membatalkan pertemuan kami dengan alasan sibuk, padahal aku hanya tak ingin bertemu dan ujung-ujungnya mengakhiri hubungan ini. Aku memang pengecut.

Ya, aku bisa Sabtu ini, tidak ada pembatalan.

Dan sisa hari itu aku habiskan memikirkan kalimat apa yang harus aku katakan jika ujung-ujungnya Heksa meminta putus. Apa aku harus mengiyakan atau malah menolak?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 11, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

NOW OR NEVER!Where stories live. Discover now