Upacara penerimaan murid baru berlangsung begitu menyenangkan. Para murid mulai membiasakan diri dengan lingkungan baru yang akan dikenalnya selama tiga tahun kedepan, termasuk Risa.
Risa Watanabe, gadis dari kelas 11—MIPA itu menjadi obrolan hangat karena aura-nya yang menarik perhatian adik-adik kelasnya.
Selain karena cantik, Risa juga murid yang handal dalam olahraga, dia juga pandai—namanya selalu berada di peringkat tiga teratas murid tercerdas satu angkatan—. Walaupun begitu, lingkup pertemanan Risa hanya bisa dibatasi oleh beberapa orang saja. Salah satu yang paling menonjol adalah Manaka Shida.
"Seperti sudah merasa sangat tua, ya?" Perkataan Manaka mengundang lirikan mata dari Risa yang berdiri disampingnya dengan membaca buku, merasa bingung.
"Anak-anak baru itu," lanjutnya seolah bisa membaca pikiran Risa, "Padahal seperti baru kemarin angkatan kita yang ikut upacara!"
Kali ini Risa mengerti, memang dia juga merasa demikian. Naik SMA, waktu yang ia jalani terasa sangat cepat. Tanpa sadar ia mengangguk menyetujui ungkapan Manaka.
"Ngomong-ngomong aku dengar di kelasmu ada anak baru?" Tanya Manaka yang kembali di hadiahi lirikan oleh Risa; tentu saja kembali merasa bingung karena ia tidak menemukan seseorang yang asing di kelasnya tadi pagi.
Kelas MIPA hanya satu—karena sekolah elit ini cukup memperhatikan kapasitas para murid yang mendaftar, hanya yang benar-benar punya nilai diatas rata-rata yang mampu di terima—jadi kabar kedatangan murid baru bisa di dengar oleh Manaka yang merupakan anak kelas Bahasa.
"Belum datang sepertinya." Kali ini jawab Risa,"Aku tidak melihat siapapun yang asing tadi."
"Katanya anak pindahan luar, Nagasaki. Jauh ya? Biasanya yang paling jauh cuma Fukuoka, tapi ini Nagasaki loh."
Risa tidak terlalu terkejut karena memang banyak anak rantauan dari prefektur lain bersekolah disini, lagipula sekolah mereka memiliki asrama walau memang tidak ada yang sejauh orang ini.
"Bagaimana caranya dia pulang nanti kalau libur musim panas, semester, atau natal? Pasti harga tiket melunjak tinggi!" Manaka menggeleng kepalanya, memikirkan harga tiket tiap kali ia pulang ke Niigata saja sudah seperti mencekik lehernya padahal jarak sekolah dan kampung halamanan tidak sejauh itu.
Tapi karena Manaka anak rantauan yang tidak mau bergantung pada orangtua, mau tidak mau tiap kali pulang harus dengan uang sendiri—hasil pemasukan dari royalti-nya sebagai model merek baju sahabatnya.
Sementara Risa adalah murid yang semua kebutuhannya di sekolah ditanggung oleh yayasan; beasiswa. Rumahnya juga sangat dekat dari sekolah, oleh karena itu dia tidak sebeban Manaka.
Tanpa mempedulikan waktu, jam istirahat yang cuma berkisar dua puluh menit itu mendadak terasa sangat cepat bagi Manaka dan Risa.
***
Risa pulang ke apartemen yang di sewakan oleh ayah angkatnya. Jaraknya cuma sepuluh menit dengan jalan kaki dari sekolah.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis dengan koper besar seperti kebingungan mencari arah. Risa yang memandanginya mau tidak mau harus membantunya, maka daripada itu ia menghampiri gadis tersebut.
"Permisi, apa anda tersesat?" Menyadari bahwa lawan bicaranya ini terlihat seumuran, Risa sedikit merasa canggung memakai bahasa yang sangat formal.
Namun gadis itu tersenyum seraya mengangguk, "Iya. Aku mau ke apartemen A tapi tidak menemukan jalannya, ponselku kehabisan baterai."
Apartemen A? Apartemenku dong. Pikir Risa. "Oh begitu, kalau tidak keberatan, silahkan ikuti aku. Kebetulan kita searah."
"Benarkah?"
Risa mengangguk dan kemudian gadis itu mengulurkan tangannya; mengajak berkenalan.
"Kalau begitu mari berkenalan, aku Nagahama Neru. Salam kenal ya?"
Risa menyambut uluran tangan tersebut dan memperkenalkan dirinya, "Watanabe Risa. Salam kenal."
Selepas perkenalan singkat itu, Risa dan Neru sampai di depan apartemen. Disana Neru sadar kalau Risa adalah salah satu penghuni apartemen enam lantai itu. Neru merasa bersyukur.
"Terima kasih banyak sudah membantuku," Neru menunduk begitu keluar dari lift—hanya beda satu lantai di bawah Risa—dan Risa membalasnya dengan senyuman lebar sembari tangan terus menyentuh tombol open .
"Sampai jumpa," Risa melambaikam tangannya ketika Neru melakukan itu terlebih dahulu. Kemudian pintu lift tertutup sempurna. Risa tersenyum, ia jadi teringat seseorang.
Risapun masuk ke dalam ruangan apartemen yang hanya erdiri dari dapur, kamar mandi, ruang tengah yang merangkap menjadi kamar, serta balkon kecil untuk menjemur pakaian. Ruang kecil yang cukup menampung satu penghuni seperti Risa.
Kemudian dia memencet mesin kotak panggilan—yang dengan otomatis merekam pesan panggilan yang tidak terjawab—. Sebuah pesan panggilan pun terdengar memenuhi satu ruangan tersebut,
"Berisa, ini aku. Papa telah pulang dari Prancis dan ingin bertemu denganmu tapi aku bilang kalau kamu sibuk sekolah. Dan dia ingin kamu berkunjung ke kak—" belum juga pesan tersebut selesai, Risa malah menatikannya, mendesah pelan, dan mulai mengistirahatkan tubuhnya.
Dia berbaring di sofa yang telah ia rentangkan menjadi kasur empuk tanpa melepaskan seragam yang melekat di tubuhnya.
Sudah berapa lama ya semenjak kejadian itu? Tiga? Lima? Aku lupa. Dan disaat Risa mencoba mengobrak-abrik pikirannya, ia malah terlelap dalam tidur. Kelelahan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Unreal.
FanfictionWatanabe Risa dan Nagahama Neru memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi seorang dokter di masa depan dan memiliki alasan dibalik itu semua, 'untuk bisa memaafkan diri sendiri'.
