"Kita putus!" ucapku kepada seseorang yang sedang duduk dihadapanku. Ia terlihat santai. Tidak menanggapi apa yang aku katakan.
Brak!
"Kau tidak dengar?! Kita putus sekarang!" ucapku lagi. Orang-orang di sekitar tempat dudukku mulai memperhatikanku.
Ia menyeruput kopinya. Lalu menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kutebak. Ekpresi dingin dengan tatapan yang mengandung sejuta makna. Lalu dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Aku tidak mau," ucapnya santai.
Apa-apaan maksudnya?! Aku menatapnya tajam. Namun dia hanya balik menatapku sekilas lalu kembali menyeruput kopinya.
Kesabaranku mulai habis. Aku mengambil tas milikku di meja dan berdiri dari tempat dudukku.
"Aku tidak peduli. Pokoknya kita putus! Kita akhiri hubungan ini secara sepihak kalau begitu."
Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat ini. Baru selangkah aku berjalan tiba-tiba dia mengatakan sesuatu.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Aku terdiam sejenak. Berusaha memahami apa yang dia katakan. Aku membalikkan badan untuk melihat apakah dia memberikan penjelasan lagi atas kalimat yang sudah dia ucapkan. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap kopi di dalam cangkir yang sedang dia pegang.
“Aku tidak peduli,” ucapku sambil menatapnya sinis.
Aku segera meninggalkan kafe tempat dimana aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sudah lama kujalin.
Namun yang tidak aku ketahui saat aku pergi seseorang itu terus menatapku dengan seringai di bibirnya.
***
Kksssrrhhh...
Hujan turun sangat deras sore ini.
Aku menatap lapangan sekolah dari jendela disampingku. Anak-anak yang sedang bermain basket segera menepi ke pinggir lapangan. Pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang berlari sambil membawa bola basket menghindari hujan.
Seseorang itu adalah Dirga. Mengingat sosok itu membuatku terngiang-ngiang dengan kejadian tadi siang.
“Oy! Jangan ngelamun!” Rara menepuk kasar bahuku.
Aku menatapnya sengit. Rara adalah sahabatku sejak masuk SMA hingga sekarang. Dia sangat cantik hingga disebut sebagai ratu sekolahku. Walaupun begitu, sikapnya yang cerewet membuatku sedikit merasa annoying.
“Apaan sih, ga ngelamun juga,” balasku sambil terus menatap sosok itu dibawah sana.
“Masa? Oh… Aku tau. Pasti kamu lagi liatin Dirga kan?”
Aku menatapnya sengit. “Engga kok! Cuma lihat pemandangan saja.”
“Iya… Dirga kan pemandangan indahnya kamu! Hahaha!” Rara tertawa kencang. Teman-teman sekelasku menatap sinis kami berdua.
“Sorry,” ucap Rara. “Eh, ngomong-ngomong, kamu jadi kan nerima pernyataan cintanya Dirga, Sya?” Rara menatapku dengan pandangannya yang super kepo.
“Ga tau.”
“Dih, masa gatau. Terima aja kali! Dia kan termasuk salah satu daftar cogan di sekolah. Kapan lagi kamu ditembak sama yang kayak begitu? Ya… walaupun orangnya agak misterius gitu. Eh, tapi dia itu katanya kaya banget loh! Terus…”
Aku tidak mendengarkan omongan Rara selanjutnya yang pasti akan seperti jalur rel kereta api. Tidak ada habisnya.
Oh, ya, teringat Dirga… aku akui dia memang tampan. Namun sosoknya sangat misterius membuatku bingung. Seperti apa sosok Dirga itu? Lalu… jika aku menerima cintanya, apakah itu hal yang benar?
YOU ARE READING
Obsessed
Mystery / ThrillerObsesi terhadap seseorang. Pernahkah kalian mengalami hal itu? Lalu... apakah itu hal baik atau buruk? Tentu saja itu adalah hal yang buruk. Namun yang jarang kita sadari mungkin kita adalah salah satu korban dari obsesi seseorang atau mungkin... ka...
