Dipertemukan dalam suatu ruang lingkup yang asing. Tak terduga dengan yang telah dialami nya sampai saat ini. Menjalani apa saja yang diperintahkan dalam rasa keterpaksaan. Mungkin memang menyiksa melakukan hal baru yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Entah agar terdidik atas ketidak nyamanan atau bertanggung jawab dengan keputusan yang telah dipilih pada awalnya. Mengawali suatu harapan yang telah tersusun rapih dengan sedemikian rupanya. Mengawali pula dengan beban yang selalu datang satu langkah lebih depan, tanpa ada tanya yang harus dikeluhkan pada siapa. Jangankan untuk mengeluh bahkan sekedar bersandarpun entah harus pada siapa. Saya bukan sosok yang mengandalkan orang lain dalam hidup. Keluarga yang saya miliki tetap menjadi alasan terbaik saya bisa menjalani hal-hal sebelum ini dan saat ini. Menjadi anak bungsu yang banyak menerima harapan dari ayah, ibu, dan kakak menjadi acuan untuk saya harus bisa lebih maju dari apa yang saya pikiran dahulu. Menjadi seseorang yang baru bukan hal yang mudah, lalu menjadi sesuatu pribadi yang belum pernah ada dalam keluarga juga tidak mudah. Menjalani rutinitas yang sebelumnya tidak terjalani menjadi tantangan sendiri bagi diri saya. Saya tau menjadi seseorang yang sesungguhnya bukan hal yang mudah. Mungkin dalam proses ini kata-kata itu bisa dibilang sangat benar. Akan menjadi seseorang yang sesungguhnya butuh suatu pengorbanan dan yang saya tau pengorbanan tidak bisa didapatkan hanya dengan berleha-leha.
Waktu yang sangat tersita cukup bisa merubah kegiatan yang biasanya terjalani dengan semestinya. Semestinya dahulu, bersantai dengan apa saja yang diinginkan lalu menikmati waktu bersama kawan-kawan dan tentunya dengan kekasih terdahulu. Saat masuk dalam tanggung jawab yang telah menjadi alasan untuk mengubah segalanya jenuhpun datang. Saya yakin itu bukan hanya saya seorang diri yang merasakan. Saya pastikan kawan-kawan saya yang sama merasakan hal ini juga pasti merasa jenuh. Melakukan hal yang tidak benar akan membuat kita dimarahi habis-habisan, lalu mau bagaimana lagi jikalau kita memang tidak mengetahuinya. Ketika melakukan hal yang menurut kami benar masih saja diangap salah. Memang begitu hukumnya, mereka yang menuntut selalu benar sedangkan kami yang dituntut selalu salah. Selama kurang lebih setengah tahun menjalani Pendidikan Dasar pecinta alam dengan empat orang teman lainnya menjadi tempat mengeluh sekaligus beradu argumen lainnya. empat orang diantaranya adalah Rama, Ariq, Herlan dan Hawa. Dalam masa pendidikan yang berjalan selama itu kami cukup mendapatkan banyak pelajaran perihal pertemanan, rasa egois dan pelajaran hidup lainnya. Memang benar negeri ini sangat berbeda jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Susah bersama dan terkadang merasa senangpun bersama. Jika mengingat pada saat bersama-sama memang menyenangkan, bertahan dalam kondisi yang bisa dibilang tidak menyenangkan.
Pada akhirnya kami bersama mendapatkan suatu kehormatan, setengan leher. Syal kuning kami berganti menjadi syal hijau disertakan lambang himpunan. Membanggakan ucap para sebelum kami yang baru mendapatkan syal itu. Rasa haru terus bercampur sembari mengingat bahwa selama tujuh hari kebelakang kami dihadapkan dengan medan sesungguhnya. Suatu kondisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Karena kaki yang dipaksa melangkah melebihi biasanya, mata yang dipaksa lebih jeli melebihi biasanya, tangan yang dipaksa memagang apa saja agar dapat menahan diri dari jurang yang terus berada dikanan dan kiri, lalu pundak yang menahan beban carrier sebagai bekal dalam perjalanan yang entah perunjung selamat atau sebaliknya. Rama, Ariq, Herlan, Hawa, dan tentu saja saya sendiri merasa lega dengan apa yang telah kami alami hingga hari ini. Saat jiwa yang menghadapi hukum alam dan raga yang keluar dari titik aman membuat kami mensyukuri diri pada Tuhan hingga hari ini kami berdiri. Pada masa setelah itu kami tidak berhenti melangkah, menemukan dan mencari ilmu lebih dalam lagi. Bukan artinya kami pantas menikmati syal hijau tetapi dalam setengan leher itu terselip tanggung jawab yang ada serta tersirat pesan didalamnya. Menjalani hal-hal tersebut memang menyenangkan, hingga melupakan segalanya. Mulai dari raga yang diabaikan dan tentang kesehatan yang kian menurun. Ditambah malam saat kondisi tubuh sedang tidak baik masih saja harus melaksanakan tanggung jawab dalam himpunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Awal Perjalanan
AdventureAwal harapan yang telah tersusun dengan sedemikian rupanya telah hilang termakan angan. Lalu seorang datang entah dengan maksud apa telah menghantam raga. Kembali lagi dengan sosok yang berbeda, dengan raga yang sama. Menyusun dengan hati yang diiri...
