Tubuh itu berayun. Ke kanan, ke kiri, lalu ke depan, ke belakang. Melengkung dengan indah mengikuti irama musik, tubuh itu semakin meliuk-liuk. Semakin lincah. Semakin lihai. Wajahnya mendongak, matanya terpejam. Rambut panjang yang dikuncir satu itu mencuat kemana-mana, bergoyang mengikuti tubuhnya. Telinganya terpasang dengan tajam mendengar lagu yang dimainkan. Konsentrasi nya tidak pudar walaupun sudah hampir setengah jam melakukannya. Tidak juga memberikan tanda-tanda akan berhenti.
Sampai lima menit kemudian, tubuh itu tiba-tiba saja berhenti. Terduduk, dengan napas yang letih. Keringat bercucuran membasahi kaus putihnya. Wajah yang tadi mendongak dengan percaya diri sekarang menunduk. Jika dilihat secara dekat, bahu itu naik-turun, berguncang. Diikuti dengan suara isakan tangis. Tubuh yang tadinya menari dengan sangat Indah, percaya diri, mengeluarkan aura seseorang yang kuat, tiba-tiba saja runtuh. Isakan itu terdengar sangat memilukan, sangat menyakitkan.
Setengah jam, tanpa jeda, tanpa henti, berputar, berayun, bergoyang kesana kemari dengan seluruh kekuatannya, seluruh tenaga nya, ternyata tidak juga mengurangi apapun yang ada didalam hatinya. Hatinya masih hancur. Masih kacau. Masih sakit. Masih sesak. Masih... sama seperti bertahun-tahun lalu.
Tidak ada yang berubah.
Perasaannya, rasa sakitnya, kepedihannya... masih sama.
Memaksanya kembali kepada satu hari itu. Hari kehancurannya. Hari dimana dia tidak punya siapapun. Hari dimana dia merasa mati dan hidup secara bersamaan.
"Kenapa?" bisiknya perlahan. Kedua tangan yang tadi terkulai lemah disamping tubuh sekarang sibuk menghunjam jantungnya. Memukul-mukulnya. Berharap rasa sakit itu segera pergi. "Kenapa aku harus sejatuh ini sama kamu? Kenapa, Ja, kenapa?"
Lebih dari sekedar patah, dia... hancur.
• fate •
"Kinan!"
Kinan menoleh, dan tersenyum saat melihat Fela, teman sebangkunya memanggil. Mensejajarkan langkah, mereka berjalan di koridor yang sekarang penuh dengan siswa-siswi yang mempercepat langkahnya karena sudah mau bel masuk.
"Telat lagi?" tanya Kinan. Cewek itu nyengir.
Yang ditanya ikut nyengir. Menggandeng lengan Kinan di sisi kirinya Fela menguap. "Biasalah, kesiangan. Kayak nggak tau gue aja kalau abis hari libur gimana."
"Lo telat nggak cuma hari senin, Non." toyor Kinan. Bagi Kinan yang sudah dua tahun lebih satu bulan lebih kenal dan duduk dengan Fela, kebiasaan cewek itu yang telat sudah biasa. Dan sudah biasa juga di gandeng seperti ini sama Fela, cewek yang lebih pendek darinya itu. Apalagi mendengar Fela menguap setiap menit, itu sudah biasa. Bukan Fela namanya kalau tidak mengantuk.
"Upacara, ya?" tiba-tiba Fela melongok ke bawah. Mereka memang ada di lantai tiga, kelas 12 semua jurusan. Sekarang cewek itu menguap lebih lebar. "Ah, baru seminggu nginjek kelas 12 masa udah upacara lagi sih? Sebel!"
Ya, satu minggu lalu tepat setelah libur satu bulan kenaikan kelas. Sekarang, mereka sudah menjadi senior tingkat akhir. Kelas 12. Kata orang, anak-anak yang sekarang menjadi penguasa sekolah. Siapa yang tidak senang menjadi senior, kan? Bisa menyuruh-nyuruh adik kelas. Memarahi seenak jidat. Ya, itu bagi orang-orang yang gila hormat sih. Fela sih nggak peduli. Selagi dia naik kelas dan lulus, semuanya tidak penting lagi.
"Paling penyambutan siswa-siswi baru. Kan Mos udah selesai kemarin. Dan penyambutan buat kita karena kenaikan kelas lah. Senin kemarin kan nggak upacara." balas Kinan. Di belokan pertama, Kinan berbelok diikuti Fela.
"Coba kalau gue anak osis ya, mungkin seru ngerjain anak baru." lalu cewek itu terkekeh. Masuk kelas, Fela mengambil tempat dengan Kinan disamping kanannya.
YOU ARE READING
FATE
Teen FictionMereka semua di pertemukan karena takdir. Saling mengenal karena takdir. Saling jatuh cinta karena takdir. Tapi, bagaimana kalau takdir itu yang justru mempermainkan mereka dalam satu cerita?
