Malam hari ini terasa dingin. Desau angin malam mengecupi tengkuk Fai yang lupa ia balutkan dengan syal merah jambu. Jalanan terlihat mulai sepi, menyisakan beberapa penjual, yang akan menutup warungnya atau yang baru saja memulai berjualan. Tidak ada tempat yang benar-benar sepi jika berada di ibukota bernama Jakarta, seperti saat ini. Namun, rasa hampa yang memeluk menyelimuti pikiran Fai berhasil membuatnya merasa benar-benar kesepian.
Ketika Fai mendongak, ia mendapati satu persatu daun kering berjatuhan dari dahannya, pasrah dibawa oleh angin melanglang buana entah kemana, membuat Fai kembali menghembuskan napas panjang untuk yang kesekian kalinya.
Sambil merapatkan jaketnya, Fai kembali berjalan menyusuri jalanan kecil setapak demi setapak menuju warung seblak yang paling dekat dengan kosnya. Malam ini, entah kenapa ia tiba-tiba ingin makan seblak.
Tak butuh waktu lama untuk Fai sampai diwarung Pak Setra. Disana sudah ada sang bapak dengan leher terkalung handuk kecil lusuh dan mulai berubah warna menjadi kuning karena termakan usia. Ketika ditanya kenapa tidak mau mengganti dengan yang baru, jawabannya singkat, "Saya sudah nyaman dengan yang ini, Non." tuturnya.
Agak mengherankan, memang. Namun sepertinya handuk itu sudah setia menemaninya. Yah, semua orang memiliki sesuatu yang tak jarang terlihat kecil di mata orang lain, namun sangat berarti bagi orang itu.
"Pak Setra?"
"Astaga! Kaget bapak, non. Mau pesen apa, nih?"
"Seblak level 5 satu ya, Pak. Nggak usah pakai kerupuk."
"Oke, non Fai. Sebentar saya buatkan."
Fai tersenyum singkat dan langsung mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar, kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk menghargai Pak Setra.
Dengan langkah gontai Fai berjalan memilih posisi yang pas untuk bersantai, lalu Fai memilih duduk di samping jendela kayu yang memamerkan keindahan pelabuhan malam hari. Sepersekian detik kemudian Fai melayangkan pandangannya ke arah jalan. Tiba-tiba saja memori Fai memutar sekeping kenangan yang mengingatkannya akan seseorang dan semangkuk seblak.
Hari itu Fai menjemput adiknya, Dio dari tempat bimbel. Karena hujan, mereka terpaksa menunggu dan mencari warung seblak terdekat. Hari itu adalah hari pertama Dio mencicipi makanan bernama seblak. Fai berkata ia menyukai seblak karena ia bisa menangis sampai air matanya habis dan menumpahkan rasa sedih sambil menikmati kuah seblak tanpa takut ditertawakan orang lain.
"Lo tau nggak, Yo? Seblak bisa menyalurkan kesedihan kita?"
"Ah, masa sih? Emang gimana caranya?"
Fai terkekeh lantas berkata, "Saat lo sedih, lo bisa makan seblak sambil memikirkan hal yang sedih. Kalau lo menangis, lo nggak perlu takut orang lain akan menertawakan lo, karena mereka pasti bakal mengira lo nangis karena kepedasan."
Dengan berani, Dio yang baru duduk dibangku kelas 1 SMP memesan seblak paling pedas yaitu level 6. Mereka menandaskan mangkuk mereka dalam waktu 1 jam sambil berurai air mata.
"Kak Fai, lo nangis gara gara sedih atau karena kepedasan? Gue sih, karena kepedasan. Duh, pedas banget nih," Dio merintih sambil menghabiskan gelas es teh milik Fai diam-diam.
Saat itu Fai hanya tertawa, terlalu malu untuk mengatakan bahwa sebenarnya ia menangis. Karena sebelum menjemput Dio, ia sempat melihat surat resmi dari pengadilan agama yang isinya persetujuan perceraian dan sudah ditanda tangani kedua orang tuanya. Dio belum boleh tahu hal itu, karena adik kecilnya itu terlalu polos dan terlalu kecil untuk mengetahui kenyataan yang kejam dalam kehidupan keluarga mereka.
Fai diseret keluar dari lamunannya dengan sangat mendadak ketika terdengar olehnya suara seseorang yang dirindukannya beberapa tahun belakangan, muncul di dalam warung dan memesan dengan ramah.
YOU ARE READING
Seize The Day
Short StoryApakah saudara bisa saling membenci? Ah, tentu saja jawabannya tidak. Kenapa begitu? Karena seperti kata pepatah, darah akan selalu lebih kental daripada air. Kamu bisa saja memutus hubungan dengan pacarmu, temanmu, sahabatmu. Tapi kamu tidak akan...
