MANIS.

4 0 0
                                        

Sebelum Resa dan Nindya dipertemukan, Nindya tidak pernah berpikir bahwa kriteria “pandai menghasilkan tawa” bisa sebegitu pentingnya dalam sebuah hubungan.
Senyum itu terukir indah di bibir mungil Nindya, di sambut gelak tawa gemas terhadap senyum Nindya oleh Resa.
“Kita duluan ya” sumber suara di peroleh Resa dan Nindya dari teman sekelas Nindya. Iya suara sang pembuat gelak tawa di kelas Nindya namanya Riko. Suara yang berhasil memecahkan suasana manis antara Resa dan Nindya.
“Hati hati ko” sahut Nindya.
Yang di sahut mengacungkan jempolnya sambil berlalu menuju parkiran kampus.
“Kalian udah mau pulang?” sebuah sumber suara kembali menjadi pemecah suasana manis Resa dan Nindya. Itu Raina, teman sekelas Nindya juga. Tubuh mungil Raina menghampiri Resa dan Nindya. Nindya hafal betul ketika ospek dulu Raina sekelompok dengan Resa dan Resa banyak memberikan Raina bantuan. Lebih tepatnya, sebelum Resa benar benar menyatakan cintanya pada Nindya, Raina sudah memendam rasa pada Resa namun Resa sudah dariawal menyukai sosok gadis manis, santun, ceria bernama Nindya Widyanata.
“Duluan aja, tuh bareng riko aja na. Kasian jomblo he he” Resa membuka suara dengan candaan pada gadis yang 'pernah' menyukainya itu. Raina tertawa pelan.
“Yaudah kalian hati hati deh” Raina berlalu dari hadapan Resa dan Nindya yang masih asik duduk manis di area kantin kampus.
“Yu nin pulang” Ajak Resa sembari mengambil tangan kanan Nindya yang nganggur.
“Eh pulang?” Nindya tersentak kaget dengan ajakan pulang pacarnya itu. Gemas, itulah yang ada di batin Resa melihat tingkah bingung Nindya.
“Sa”
“Resa”
“Kita emang jarang ketemu karena kesibukan masing masing. Aku yang sibuk sama belajar dan belajar, sedangkan kamu sibuk dengan belajar dan organisasi. Tapi makasih sa selalu nyempetin waktu buat ketemu dan bikin aku ceria”
Nindya tertunduk malu setelah mengucapkan kata kata itu. Pria berwajah manis di hadapan Nindya tersenyum malu malu, di genggam erat tangan Nindya seperti tidak mau kehilangan sosok gadis berambut sebahu itu.
“Kesurupan apa sih nin? tumben banget biasanya malu malu maluin. Yaudah yu pulang keburu sore banget” Di ajaknya Nindya yang masih malu dengan kata katanya itu ke parkiran kampus.
Selalu saja ada keseruan, selalu saja ada kelucuan saat Nindya menghabiskan waktu dengan Resa.
Resa rasa, ratusan hari ataupun ribuan hari di habiskan bersama Nindya pun tak akan membuatnya bosan untuk selalu ada di sisi Nindya.
“Kok gak meluk? kamu gak takut jatuh nin? peluk dong” suruh Resa yang sudah bertengger di atas motor ninja merahnya bersama Nindya. Nindya yang malah berpegangan pada pundak Resa diam diam mengemban senyuman.
“Ini masih area kampus, malu tau sa” jawab Nindya singkat, padat dan jelas. Resa menghela nafas berniat menggoda gadis bermata sipit itu.
“Nanti kalo kamu jatuh langsung aku tinggal aja ya? aku mau bawa ngebut ah, gak kuat gatel gatel pengen mandi” goda Resa yang di sambut cubitan kecil di pinggangnya.
“IH RESA APA SIH” Nindya mencubit kecil pinggang Resa sembari memasang wajah kesal. Tangan mungil Nindya terulur di pinggang Resa, gak mau meluk katanya, masih area kampus.
Yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah kenyamanan dan Nindya selalu merasakan kenyamanan pada saat duduk berdua dengan Resa, Nindya suka mendengarkan detak jantung Resa, Nindya suka tatapan mata Resa saat berbicara dengannya.
Resa selalu mengantar-jemput Nindya karena Resa pasti tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nindya terlebih jarak kampus dan rumah Nindya cukup jauh, mungkin ini adalah salah satu cara Resa untuk menjaga Nindya. Jadi ojek Nindya bagi Resa bukan masalah, Resa malah senang senang saja.
Dan kesetian adalah harga mati dimana semua orang yang menjalin cinta harus mempunyai komitmen untuk saling setia dan untuk saling percaya satu sama lain, itulah yang sedang di alami dan di rasakan oleh Resa bersama Nindya.

TIME MACHINE Stories to obsess over. Discover now