Sebenarnya jam praktik pribadi berakhir setengah jam yang lalu. Rosie, asistenku, tengah membereskan meja resepsionis dan setengah perjalanan mematikan lampu ketika bel berbunyi. Sorot matanya tampak sama kebingungan denganku, karena seingat kami sudah tidak ada janji temu lagi.
"Mungkin itu Ben." Aku menyuarakan sebuah kemungkinan yang dibantah oleh sebuah gelengan kepala darinya. Kekasih Rosie tidak akan menjemput malam ini.
"Ben lembur hari ini, Dokter May. Saya akan pulang sendiri, karena itu membawa skuter." Kepalanya bergerak sedikit ke arah di mana garasi terletak di bangunan mungil ini.
Bel kembali berbunyi. Tergesa dan memaksa. Sehingga akhirnya aku menganggukkan kepala, memberi izin kepada Rosie untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Seorang perempuan yang sudah cukup untuk disebut tua berdiri di depan pintu. Raut wajahnya yang kuduga pernah cantik mengesankan sedikit keangkuhan dan keras kepala. Sikap tubuhnya ajeg, sangat percaya diri. Gaun lengan panjang berpotongan sederhana membalut tubuh langsingnya. Motif bunga lembut, cukup kuno, cocok baginya. Rambut yang sebagian besar memutih ditata menjadi sanggul kecil di atas tengkuknya. Seuntai kalung mutiara, aku menduga itu asli, melingkar anggun di lehernya yang kurus dan keriput. Tas tangan dan sepatu yang terkesan barang bermerek berwarna hitam, melengkapi penampilannya. Kesan pertamaku terhadapnya adalah dia seorang wanita tua dengan latar belakang yang baik dan kuat. Entah dia berpendidikan tinggi, atau kaya, atau gabungan keduanya.
"Saya Elena Wijaya," katanya setelah duduk di sofa ruang tunggu. Aku tidak berniat mengajaknya berbicara di ruanganku, agar pembicaraan kami tidak terlalu lama.
"Apa yang bisa saya bantu, Nyonya Elena?"
"Saya mendapat nama anda dari dokter di rumah sakit A, Dokter Rico."
"Ah ya." Rico teman SMA-ku. Kami masih berhubungan sangat baik hingga kini. Dia seorang spesialis penyakit dalam.
"Maafkan harus mengganggu anda malam-malam begini, Dokter May. Namun saya mempunyai masalah yang mendesak. Mengenai anak saya. Dia--dia mempunyai gangguan makan ...."
Lalu dia menceritakan mengenai gangguan yang diderita sang anak. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, masih kuliah di salah satu universitas terbaik negeri ini di jurusan Kimia, yang senang bertualang. Namanya Andrew, atau Andre, tadi aku kurang menyimak. Menurut cerita Nyonya Elena, sepulang bertualang dari pedalaman Peru saat liburan semester yang baru berakhir, gangguan itu mulai diderita anaknya.
"Dia tidak bisa makan. Apapun yang masuk ke perut akan dia muntahkan kembali. Saya sampai harus membawanya ke rumah sakit agar dia bisa mendapat nutrisi. Menurut pihak rumah sakit, tidak ada gangguan fisik. Semua normal. Mereka menduga ada gangguan psikis yang memicu hal ini. Karena itulah atas rekomendasi Dokter Rico yang menangani Andre, saya menghubungi anda, Dokter May."
Oh, namanya Andre. Aku mencatat dalam hati.
Gangguan makan ditandai dengan gangguan ekstrem. Gangguan makan hadir ketika seseorang mengalami gangguan parah dalam tingkah laku makan, seperti mengurangi kadar makanan dengan ekstrem atau makan terlalu banyak yang ekstrem, atau perasaan menderita atau keprihatinan tentang berat atau bentuk tubuh yang ekstrem. Seseorang dengan gangguan makan mungkin berawal dari mengkonsumsi makanan yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada tahap tertentu, keinginan untuk makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar keinginan.
Terus terang, kasus seperti ini makin sering kutemui.
Demi mengakhiri malam yang melelahkan itu, aku menyanggupi. Meminta Rosie agar mencatat data anak Nyonya Elena, kemudian memberikan kartu tempat praktik ini. Aku berjanji akan segera menghubungi beliau begitu Rosie bisa menemukan jadwal yang kosong.
YOU ARE READING
DOKTER MAY
Mystery / ThrillerDokter May, seorang wanita cerdas mandiri yang masih belum menikah di usianya yang baru melewati angka tiga puluh tahun. Hidupnya yang hanya disibukkan oleh pekerjaan sebagai seorang Psikiater, mengalami perubahan ketika suatu kali bertemu dengan Ny...
